You are currently browsing the category archive for the 'Gamelan Sunda' category.
Tulisan ini termuat di Note saya di Facebook..
Dari namanya semestinya dapat disimpulkan bahwa gedung seperti ini dibangun tentunya dengan tujuan agar dapat menunjang perkembangan dan peningkatan kualitas kesenian di daerahnya. Jika dilihat dari sisi tujuannya tidak ada yang salah, bahkan dapat dikatakan tujuannya sungguh mulia sekali karena ini menyangkut ‘rasa’ yang dimiliki oleh masyarakat daerah itu disamping juga diperuntukkan sebagai wujud apresiasi dan kebanggaan dari sisi pengambil & penanggung jawab kebijakan, dalam hal ini PemDanya, kepada masyarakatnya. Jika tujuan tersebut dapat diwujudkan dengan BENAR maka masyarakat di daerah itu akan dapat meng’ekspresi’kan dirinya dalam bentuk kesenian yang khas yang nantinya menjadi ciri & ‘icon’ yang bersifat unik. Dimasa yang lalu, hal ini pernah terjadi pada saat Srimulat sedang berada pada masa jayanya.
Pada kenyataan yang ada sekarang, hampir semua Gedung Kesenian yang dimiliki oleh PemDa2 di seluruh Indonesia, tidak mampu untuk mewujudkan tujuannya itu. Pengecualian tentunya terjadi misalnya pada Gedung Kesenian Jakarta. Karena ketidak berhasilannya mencapai apa yang menjadi tujuannya, maka dapat dikatakan bahwa keberadaan Gedung Kesenian itu ‘hanya’ menjadi beban keuangan bagi PemDa-nya, yang ujung2nya juga menjadi beban bagi masyarakatnya. Hal ini tentunya akan menimbulkan tanda tanya, Kenapa hal itu terjadi?
Pada kesempatan ini, penulis tidak akan berusaha menjawab tanda tanya itu dari sisi keuangan, kebijakan, sosial, budaya bahkan dari sisi politiknya sekalipun. Penulis akan menekankan hanya dari salah satu aspek fungsional Gedung Kesenian itu sendiri, yaitu dari sisi akustik-nya. Sisi akustik ini merupakan salah satu aspek terpenting berupa media komunikasi anntara seniman & audience-nya, yang mesti menjadi ‘roh’ dari keberadaan bangunan ini. Tanpa adanya kondisi yang tepat bagi ‘roh’nya ini, bisa dipastikan bahwa fungsi gedung itu tidak akan tercapai. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kondisi akustik yang seharusnya dibuat/dirancang agar terjadi di dalam Gedung Kesenian ini?
Untuk menjawab pertanyaan ini, hal pertama yang mesti diperhatikan adalah kesenian atau seni pertunjukan apakah yang mau dipresentasikan dan dijadikan sebagai ‘icon’ dari daerah tersebut? Hal ini berhubungan dengan cukup lebarnya domain dari bidang seni pertunjukan itu sendiri. Yang paling berwenang untuk menjawab tentunya para budayawan, terutama sekali budayawan seni pertunjukan di daerah itu. Konsultasi dan usulan dari para budayawan daerah itu menjadi salah satu kunci utama kearah pencapaian tujuan dari keberadaan gedung itu. Disamping itu, diperlukan juga suatu telaah yg cukup mendalam atas potensi seni pertunjukan yg dimiliki oleh daerah itu, misalnya melalui suatu ‘feasibility study’ yg nantinya bermanfaat untuk menunjang ’sustainability’nya.
Setelah diketahui ‘ciri khas local genius di bidang seni pertunjukan di daerah itu’, selanjutnya perlu dicari karakteristik akustik dari seni musik yang menunjang seni pertunjukan itu sendiri. Berbagai jenis seni musik, apalagi yang berkarakteristik tradisional, dimiliki oleh bangsa ini, dan seni ini cenderung menghasilkan keunikannya masing-masing. Sebagai contoh, kota Bandung memiliki musik tradisional yang khas, misalnya musik angklung dan musik degung. Secara akustik karakteristik musik angklung tentunya berbeda dengan karakteristik musik degung. Konsekwensinya, gedung yang sesuai untuk musik angklung tentunya akan berbeda dengan musik degung. Dengan kenyataan seperti ini, apakah masing-masing seni musik itu mesti memiliki gedung keseniannya masing2..? Jika ditinjau dari sisi akustik, dengan tujuan untuk menonjolkan kualitas seni musiknya masing2, maka jawabannya adalah “ya”, masing2 seni musik ini HARUS memiliki gedung kesenian yang khusus diperuntukkan bagi pagelarannya.
Untuk mengurangi biaya yg dibutuhkan untuk membuat masing2 gedung kesenian tersebut, Apakah bisa dicarikan suatu kondisi akustik yg ’suitable’ untuk kedua jenis musik ini? Tentu saja bisa, selama kondisi tersebut masih cukup memadai untuk dapat menunjang ‘performansi’ keduanya. Namun sering terjadi, kompromi seperti ini tidak dapat dilakukan sebagai akibat dari terlalu besarnya perbedaan karakteristik akustik yang dibutuhkan tersebut.
Apakah bagian dari karakteristik akustik yang paling berpengaruh kepada sisi arsitektur ruangannya? Salah satu dari beberapa komponen akustik tersebut disebut dengan ‘waktu dengung’ ruangan. Besaran ini sangat tergantung kepada volume ruangan dan jumlah total luas permukaan2 ruangan dikalikan dengan koefisien penyerapan suara dari masing2 permukaan ruangan tersebut. Makin besar volume ruangan makin panjang waktu dengungnya, namun makin luas volume permukaan ruangan makin kecil waktu dengungnya.
Secara umum, disamping komponen ‘waktu dengung’ terrsebut, kondisi akustik yang baik sangat ditentukan oleh faktor spektral, temporal dan spatial dari medan suara yang didengarkan ‘audience’. Seluruh komponen itu (beserta turunan2 parameternya yang bersifat subjektif) mesti berada pada kondisi optimum atau pada suatu ‘range’, yang sangat tergantung kepada karakteristik dari musiknya sendiri. Permasalahan utamanya adalah ketiadaan dari data kondisi akustik optimum tersebut, yang akhirnya berdampak kepada “pen’dikte’an seni musik oleh perkembangan teknologi elektronik sistem tata suara”. Hal terakhir itu, secara tidak langsung mengakibatkan bergesernya ‘preferensi’ masyarakat atas kondisi akustik yang baik itu, dari kondisi ‘natural’ menjadi kondisi ‘artificial’. Pada kondisinya yang cukup ekstrim bahkan mengubah persepsi masyarakat dengan menjadikan ‘kondisi akustik yang dihasilkan oleh home-theatre system lebih baik dari theatre yang sebenarnya’.
Jadi, kondisi akustik yang baik itu, yang ‘natural’ atau ‘artificial’..?
Komentar & Response
Secara budaya yang berkembang musik-musik kita adalah penyatuan diri dengan Tuhan atau alam. Sehingga kondisinya secara budaya adalah natural.
Namun jika kita ingin mengkoordinir ruang akustik untuk pentas musik tradisional mungkinkah disediakan ruangan semi terbuka (seperti taman atau sejenisnya) yang memiliki tata akustik yang dapat mengayomi semua jenis alat musik?
Karena jika kita memfasilitasi dengan ruang berkesenian yang memiliki akustik yang baik, bisa-bisa kepuasan audience hanya terpenuhi dengan mendengarkan langsung dari ruang kesenian di daerah alat musik tersebut berasal. Dan itu akan sangat menyulitkan penyebaran budaya musik tradisi di Nusantara dan pertukaran budaya antar daerah di Nusantara. Karena kita dapat salah menilai mutu atau kuatitas musik tradisi yang tampil bukan di daerah asalnya.
Maaf jika sudut pandang saya ada yang keliru.
Secara teknis memang sangat memungkinkan Pak, meskipun dari sisi kualitas akustik yg diterima audience nya tidak mungkin untuk mencapai kondisi optimal. Disamping itu kondisi lingkungan yang bising jg cukup mengganggu ‘attention’ yg ada pada audience, disamping mengurangi tingkat ‘dinamis’ dari … Read Moremusiknya.
Dari sisi akustik, landscape yg bagus dapat meningkatkan suasana ‘outdoor space’ itu Pak.. Prof. saya di Jepang bahkan pernah mengupas tentang ‘acoustics spaciality’ dari lingkungan hutan lho..
Saya sudah seperti cucu Bapa, jadi tidak pantas dipanggil Bp.
Maaf, saya sempat lupa dengan kendala di kota-kota besar di Indonesia.
Hasil pengamatan Prof. Bp menarik juga tentang ‘acoustics spaciality’ di lingkungan hutan, karena dengan bekal ilmunya kita dapat memahami kekayaan budaya Alat Musik Tradisional Nusantara. Sehingga dapat dipahami dan dapat dimasuki oleh disiplin ilmu lainnya. Sehingga alat musik kita dapat disalamatkan secara utuh.
Kalau konser jangan lupa undangan (freepass)nya ya..
nanti juga anda saya undang lagi ke Kampus lho.. pasti
Tulisan di Harian Pikiran Rakyat
Sabtu, 04 Oktober 2008
Degung di Amerika
KETIKA saya mendapat undangan dari beberapa universitas di Amerika dan Kanada untuk mengajar gamelan (dari awal Maret hingga akhir Mei 2008), maka yang terpikir harus dipersiapkan adalah lagu atau gending dalam gamelan pelog atau salendro. Tetapi ketika kontak terus berlangsung, dalam rangka persiapan untuk kegiatan itu, mulailah terbuka, bahwa selain mempersiapkan lagu-lagu dalam gamelan pelog salendro, baik untuk lagu tradisi atau komposisi baru, mereka juga meminta untuk diajarkan lagu-lagu dalam gamelan degung. Sejenak agak kaget juga, karena setahu saya hanya di Universitas Santa Cruz California yang mempunyai gamelan degung. Lebih kaget lagi, selain mempersiapkan lagu- lagu degung klasik, mereka juga meminta diajarkan lagu-lagu degung perkembangan, bukan saja untuk perbendaharaan lagu bagi para mahasiswa, tetapi juga untuk dipertunjukkan.
Tentu bukan masalah untuk menyiapkan lagu degung, karena buku tentang lagu degung klasik, yang disusun oleh Juju Sa`in atau Encar Carmedi, sudah lama ada. Tetapi untuk mempersiapakan lagu-lagu degung perkembangan, saya sendiri cukup repot menulis notasinya, karena belum ada bukunya. Kalaupun satu dua saya pernah mencipta untuk lagu degung perkembangan, saya sendiri jarang menulis notasinya, atau lupa menyimpannya, terutama kreasi tabuh gendingnya.
Sesuai dengan jadwal, awal Maret 2008 saya datang ke Amerika. Pertama ke Bates College di Maine Portland. Di sana ada Gina Fatone yang mengajar gamelan. Saya kenal Gina waktu dia masih menjadi mahasiswa Santa Cruz California pada 1990. Dia pemain gamelan yang baik, dan pernah datang ke Bandung untuk mempelajari karawitan Sunda. Di sini saya mengajar dan mempersiapkan materi untuk pertunjukan, antara lain komposisi baru dalam gamelan salendro, iringan tari, dan degung. Selama dua minggu, mereka benar-benar berlatih dengan tekun, dan hasilnya pun mendapat sambutan yang baik dari penonton. Read the rest of this entry »
Berita di Suara Merdeka Cybernews
17/12/2008 23:25 wib – Daerah Aktual
UGM Rintis Pengembangan Local Genius
Yogyakarta, CyberNews. UGM tengah merintis pengembangan kearifan lokal (”local genius”) masyarakat Indonesia yang terancam punah dan tergerus dengan budaya dan teknologi asing. Padahal keragaman dan kearifan nenek moyang dalam hal teknologi terapan sudah terbukti dengan berdirinya bangunan mahakarya seperti Borobudur, Prambanan serta rumah adat dari seluruh nusantara.
”Kita khawatir kearifan lokal masyarakat akan punah, sehingga kita perlu identifikasikan kembali,” kata Ketua Panitia Seminar Nasional ”Peran Pendidikan Tinggi dan Pimpinan Daerah Dalam Mengembangkan Local Genius” Dr Supra Wimbarti MSc di Sekolah Pascasarjana UGM.
Supra menambahkan masyarakat Indonesia sangat kaya dengan ”local genius” seperti tata cara mulai bercocok tanam, kekuatan suatu kapal, pengobatan tradisional, perwatakan, nasib, siasat hidup atau menjaga harmoni dengan sekitar. Untuk itulah, acara seminar nasional itu nantinya akan berusaha untuk mengidentifikasi ”local genius” dari berbagai daerah dengan ranah ilmu pengetahuan yang melibatkan berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
”Berbagai perguruan tinggi ini bersama UGM ingin berusaha untuk bisa mengidentifikasi ”local genius” tersebut dari berbagai ranah ilmu pengetahun,” katanya.
Lebih lanjut dikatakan kearifan lokal daerah atau suku di Indonesia sudah lama berkembang dan sudah dipakai dalam kehidupan sehari-hari di daerah-daerah. ”Local genius” itu sangat bermanfaat meningkatkan keluhuran bangsa namun belum terwadahi dalam ilmu atau teknologi tertentu. Padahal, kearifan lokal tersebut lahir dan berkembang di masyarakat dalam kurun waktu yang sudah amat lama, dari puluhan, ratusan dan bahkan ribuan tahun dalam bentuk artefak yang masih ada.
Pemeliharaan kerifan lokal itu sangat bergantung dengan kebiasaan masyarakat yang kental bertutur. Praktek kebiasaan bertutur itu diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dengan bahasa tutur. Sehingga sebagian masih ada yang melestarikan kearifal lokal itu dalam bentuk artefak tertulis pada lontar dalam bentuk narasi dengan bahasa kuno, namun juga tidak sedikit yang meninggalkannya. ”Hanya 20 persen yang masih melestarikannya,” ujarnya.
Seminar yang melibatkan peserta dari kalangan ilmuwan dari beberapa perguruan tinggi dari Pekanbaru, Bandung, Malang, Jember, Yogyakarta hingga Kendari, menghadirkan pembicara palar antropolog UGM Prof Dr Irwan Abdullah, Bupati Bantul Idham Samawi, Prof Dr I Wayan Rai (ISI Denpasar), Dr Hermanu Triwidodo (IPB), Dr Jaka Sasmita (praktisi kesehatan) serta Dr Komang Merthayasa (ITB).
(Bambang Unjianto /CN08)
http://www.gadjahmada.edu/index.php?page=rilis&artikel=1683
Rilis
UGM RINTIS PENGEMBANGAN LOCAL GENIUS
Universitas Gadjah Mada tengah merintis pengembangan kearifan lokal (local genius) masyarakat Indonesia yang terancam punah dan tergerus dengan budaya dan teknologi asing. Padahal Keragaman dan kearifan nenek moyang dalam hal teknologi terapan sudah terbukti dengan berdirinya bangunan mahakarya seperti Borobudur, Prambanan serta rumah adat dari seluruh Nusantara.
“Kita khawatir kearifan lokal masyarakat akan punah, sehingga kita perlu identifikasikan kembali,” kata Ketua Panitia Seminar Nasional ‘Peran Pendidikan Tinggi dan Pimpinan Daerah dalam Mengembangkan Local Genius’, Dr. Supra Wimbarti M.Sc, di Sekolah Pascasarjana UGM, Senin (15/12).
Supra menambahkan masyarakat Indonesia sangat kaya dengan local genius seperti tata cara mulai bercocok tanam, kekuatan suatu kapal, pengobatan tradisional, perwatakan, nasib, siasat hidup atau menjaga harmoni dengan sekitar. Untuk itulah lanjut Supra, acara seminar nasional ini nantinya akan berusaha untuk mengidentifikasi local genius dari berbagai daerah dengan ranah ilmu pengetahuan yang melibatkan berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
“Berbagai perguruan tinggi ini bersama UGM ingin berusaha untuk bisa mengidentifikasi local genius tersebut dari berbagai ranah ilmu pengetahun,” katanya.
Lebih lanjut Supra mengatakan Kearifan lokal (Local Genius) daerah atau suku di Indonesia sudah lama berkembang, dan sudah dipakai dalam kehidupan sehari-hari di daerah-daerah. Local Genius ini sangat bermanfaat meningkatkan keluhuran bangsa namun belum terwadahi dalam ilmu atau teknologi tertentu. Padahal, kearifan lokal ini lahir dan berkembang di masyarakat dalam kurun waktu yang sudah amat lama, dari puluhan, ratusan dan bahkan ribuan tahun dalam bentuk artefak yang masih ada.
Pemeliharaan kerifan lokal ini sangat bergantung dengan kebiasaan masyarakat yang kental bertutur. Praktek kebiasaan bertutur ini ujar Supra diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya denga bahasa tutur. Sehingga sebagian masih ada yang melestarikan kearifal lokal tersebut dalam bentuk artefak tertulis pada lontar dalam bentuk narasi dengan bahasa kuno. Namun juga tidak sedikit yang meninggalkannya.
“Hanya 20 persen yang masih melestarikannya,” katanya
Supra wimbarti menyebutkan beberapa kearifan lokal yang kini masih ada di indonesia seperti di daerah Sumatera Barat dengan praktek Rimbo Larangan, Banda larangan dan Mamutiah Durian adalah praktek untuk melestarikan hutan, pangan dan perikanan agar masyarakat setempat dapat hidup dengan nyaman. Ada pula Dalihan Na Tolu, merupakan kearifan Batak dalam tatanan kehidupan bermasyarakat.
Di Jawa, kearifan yang dimiliki masyarakatnya yang memiliki imajinasi tentang bentuk bintang seperti Waluku, Wuluh, Kalapa, Doyong, Sapi Gumarang, Gubug penceng yang banyak dikaitkan dengan aktivitas sehari-hari seperti penentuan waktu bercocok tanam, navigasi, kalender dan sebagainya.
Tidak hanya itu, tambah Supra, hasil-hasil peninggalan kearifan kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya, Majapahit, Bone, Mataram yang masih tetap dipraktekkan dan relevan untuk diteruskan, Namun karena pengawetan, pengarsipan dan penurunana kearifan ini dari satu generasi ke generasi yang lain masih lemah, sehingga menjadi tugas perguruan tinggi untuk merevitalisasikannya
“Karena itu, UGM mengajak ilmuwan dari kampus-kampus lain di Indonesia untuk bersama-sama mengidentifikasi, meneliti, menyebarkan kembali kepada masayarakat dan bersama dengan pemerintah daerah masing-masing melestarikannya,” ujarnya.
Seminar yang melibatkan peserta dari kalangan ilmuwan dari beberapa Perguruan Tinggi dari pekanbaru, Bandung, Malang, Jember, Yogyakarta hingga Kendari, menghadirkan pembicara P Antropolog UGM Prof Dr Irwan Abdullah, Bupati Bantul Idham Samawi, Prof Dr I Wayan Rai dari ISI Denpasar, Dr Hermanu Triwidodo dari IPB, Dr Jaka Sasmita praktisi kesehatan serta Ir Komang Merthayasa dari ITB.

Antropolog UGM Prof Dr Irwan Abdullah UGM mengatakan, perlu dilakukan penggalian secara seksama sumber-sumber dan produk dalam negeri, baik berupa pengetahuan lokal maupun kearifan lokal dalam pengelolaan sumberdaya, ataupun produk lokal yang mampu mendukung kebutuhan masyarakat dalam rangka menciptakan kemandirian dan dan daya saing bangsa.
“Kearifan lokal perlu diberdayakan atau dikembangkan agar bangsa kita lebih mandiri dan mamapu keluar dari kemelut dan perangkap rejim kapitalisme yang ekpansif,” katanya.
Selain itu, tambah Irwan abdullah, kearifan lokal yang perlu dikaji oleh para ilmuwan diantaranya gaya kepemipinan lokal di berbagai daerah terutama di daerah bekas-bekas kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya, Majapahit, Bone, Mataram dan sebagainya untuk dikombinasikan guna menghasilkan gaya kepemimpinan nasional.(Humas UGM/Gusti Grehenson)
http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=8854&Itemid=821
UGM Rintis Pengembangan Local Genius |
| 18-12-2008 | |
|
Yogyakarta, CyberNews. UGM tengah merintis pengembangan kearifan lokal (”local genius”) masyarakat Indonesia yang terancam punah dan tergerus dengan budaya dan teknologi asing. Padahal keragaman dan kearifan nenek moyang dalam hal teknologi terapan sudah terbukti dengan berdirinya bangunan mahakarya seperti Borobudur, Prambanan serta rumah adat dari seluruh nusantara.
”Kita khawatir kearifan lokal masyarakat akan punah, sehingga kita perlu identifikasikan kembali,” kata Ketua Panitia Seminar Nasional ”Peran Pendidikan Tinggi dan Pimpinan Daerah Dalam Mengembangkan Local Genius” Dr Supra Wimbarti MSc di Sekolah Pascasarjana UGM.
Supra menambahkan masyarakat Indonesia sangat kaya dengan ”local genius” seperti tata cara mulai bercocok tanam, kekuatan suatu kapal, pengobatan tradisional, perwatakan, nasib, siasat hidup atau menjaga harmoni dengan sekitar. Untuk itulah, acara seminar nasional itu nantinya akan berusaha untuk mengidentifikasi ”local genius” dari berbagai daerah dengan ranah ilmu pengetahuan yang melibatkan berbagai perguruan tinggi di Indonesia. ”Berbagai perguruan tinggi ini bersama UGM ingin berusaha untuk bisa mengidentifikasi ”local genius” tersebut dari berbagai ranah ilmu pengetahun,” katanya. Lebih lanjut dikatakan kearifan lokal daerah atau suku di Indonesia sudah lama berkembang dan sudah dipakai dalam kehidupan sehari-hari di daerah-daerah. ”Local genius” itu sangat bermanfaat meningkatkan keluhuran bangsa namun belum terwadahi dalam ilmu atau teknologi tertentu. Padahal, kearifan lokal tersebut lahir dan berkembang di masyarakat dalam kurun waktu yang sudah amat lama, dari puluhan, ratusan dan bahkan ribuan tahun dalam bentuk artefak yang masih ada. Pemeliharaan kerifan lokal itu sangat bergantung dengan kebiasaan masyarakat yang kental bertutur. Praktek kebiasaan bertutur itu diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dengan bahasa tutur. Sehingga sebagian masih ada yang melestarikan kearifal lokal itu dalam bentuk artefak tertulis pada lontar dalam bentuk narasi dengan bahasa kuno, namun juga tidak sedikit yang meninggalkannya. ”Hanya 20 persen yang masih melestarikannya,” ujarnya. Seminar yang melibatkan peserta dari kalangan ilmuwan dari beberapa perguruan tinggi dari Pekanbaru, Bandung, Malang, Jember, Yogyakarta hingga Kendari, menghadirkan pembicara palar antropolog UGM Prof Dr Irwan Abdullah, Bupati Bantul Idham Samawi, Prof Dr I Wayan Rai (ISI Denpasar), Dr Hermanu Triwidodo (IPB), Dr Jaka Sasmita (praktisi kesehatan) serta Ir Komang Merthayasa (ITB). (Bambang Unjianto /CN08) |
Pendahuluan
Kekayaan budaya yang bermacam ragam yang di miliki Indonesia, diantaranya dengan adanya bahasa daerah yang berbeda-beda, salah satunya juga dicirikan dengan adanya berbagai jenis seni musik tradisional yang memiliki keunikan tersendiri. Meskipun memiliki karakteristik tradisional, namun di dalam perkembangannya beberapa jenis musik ini sudah cukup dikenal di mancanegara, bahkan saat inipun sudah ada group-group musik tradisional yang berasal dari luar negeri. Misalnya musik gamelan Bali, musik Gamelan Jawa, Gamelan degung/sunda, angklung, wayang kulit, gondang Batak, kolintang dan sebagainya. Disamping itu, berbagai jenis musik tradisional inipun sudah cukup sering dipagelarkan di berbagai gedung konser (concert hall) yang cukup terkenal di mancanegara. Namun sampai saat ini, tidak ada satupun dari musik tradisional Indonesia yang memiliki kualitas seni musik adi luhung ini yang memiliki ‘rumah’ berupa gedung konser di daerahnya masing-masing.
Bagi penonton/pendengar, hal terpenting yang diinginkannya adalah kondisi medan akustik yang optimal dari hasil dari pagelaran musik tradisional ini. Untuk mencapai kondisi yang optimal dari medan suara inilah peranan ilmu & teknologi akustik semestinya perlu dilibatkan. Secara umum dapat dijelaskan bahwa medan suara yang diterima oleh penonton dipengaruhi oleh faktor spektral, temporal dan spatial dari medan suara. Untuk memperoleh besaran parameter akustik medan suara dari musik tradisional ini, dapat dilakukan dengan melakukan serangkaian penelitian psycho & physio-akustik. Hasil response subjektif dan objektif tersebut dapat digunakan untuk menentukan kondisi medan suara optimum yang diharapkan oleh umumnya penonton di dalam suatu gedung konser. Dengan mengubah besaran parameter ini menjadi besaran dimensi arsitektur, maka gedung konser yang ‘dedicated’ untuk jenis musik tradisional tertentu dapat dilakukan. Hal ini berarti perancangan arsitektur gedung konser tersebut semestinya dapat dilakukan dengan memanfaatkan besaran parameter akustik optimum dari medan suara, yang diperoleh dari penelitian tersebut. Tanpa memanfaatkan parameter akustik optimum ini, maka pagelaran musik tradisional tersebut tidak akan dapat memberikan persepsi yang maksimal tentang kualitas seni musik tradisional ini.
Disamping faktor ruang gedung konser itu sendiri, karakteristik akustik dari sumber suara, yaitu alat musiknya sendiri, juga memiliki peran yang sangat penting, disamping musik hasil gubahan senimannya. Sampai saat ini dapat dikatakan bahwa belum ada standar karakteristik akustik dari masing2 alat musik tradisional Indonesia ini. Dengan tiadanya standar akustik ini (sesuai dengan faktor spektral, temporal dan spatialnya) menyebabkan terjadinya kesulitan untuk menentukan kwalitas akustik musik tradisional hasil gubahan seniman itu. Hal ini juga menyebabkan terjadinya kesulitan untuk menentukan besaran optimum parameter medan suara itu sendiri, mengingat karakteristik sinyal akustik dari musik itu sendiri sangat menentukan besaran parameter akustik optimum tersebut.
Sampai saat ini, pada umumnya karakteristik akustik dari alat musik tradisional ini dan juga proses pembuatan alat musik itu sendiri sangat tergantung kepada kemampuan pendengaran, pengetahuan dan pengalaman para pembuatnya (empu). Pengetahuan, pemahaman dan penilaian subjektif tersebut, diturunkan secara tradisional dari generasi pendahulunya, tanpa disertai dokumentasi teknis yang memadai dan bersifat objektif (terutama kalau ditinjau dari sisi teknis & karakteristik fisikanya). Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian dan pengkajian yang bersifat integral dan sinergis, tentang karakteristik akustik alat musik itu sendiri beserta proses pembuatannya, struktur material, karakteristik material dan juga struktur pendukungnya. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat dihasilkan suatu standar dan paten yang semestinya dimiliki oleh masyarakat sendiri (dalam hal ini ‘mungkin’ dapat dikuasai atau dimiliki oleh negara c.q. Pemerintah/pemerintah daerah).
Di sisi pelaksanaan pagelarannya sendiri, set-up panggung dan penempatan posisi alat musik itu sendiri belum dirancang dengan memanfaatkan karakteristik parameter akustik dan juga performansi visual yang optimum. Tentunya dengan merancang set-up dan penempatan yang tepat dapat meningkatkan ‘preferensi’ medan suara yang diterima oleh penonton. Dalam hal inipun, ‘preferensi’ yang dituntut penonton/ pendengar dapat diperoleh dengan melakukan penelitian yang berdasarkan kepada methoda psiko & physio-akustik.
Objektif
Sebagai langkah awal dari program ini, perlu dilakukan identifikasi yang lengkap tentang jenis musik tradisional dari masing-masing daerah. Identifikasi ini dilakukan bukan hanya kepada jenis musik tradisional yang sudah cukup mapan dipentas nasional maupun internasional. Peralatan musik tradisional pada umumnya dibuat dengan berpedoman kepada ‘local genius’ yang umumnya dikaitkan dengan adat istiadat dan falsafah kehidupan di daerah itu sendiri. Penelusuran sejarah keberadaan alat musiknya perlu dilakukan sejalan dengan penggalian keterkaitannya dengan aspek kehidupan dan sejarah dari masyarakatnya.
Selanjutnya dilakukan pengkajian aspek fisika dari masing-masing alat musik tradisional ini, dikaitkan dengan aspek pembuatannya. Untuk peralatan musik yang terbuat dari metal, seperti gong, bonang dan sebagainya, proses metalurgi pembuatan alat tersebut perlu dielaborasi secara mendalam. Sementara untuk peralatan musik yang terbuat dari bahan non-metal, pengkajian dari sisi struktur dan juga susunan elemen-elemen mekanis yang mendasarinya perlu ditelaah secara mendalam terutama jika dikaitkan dengan karakteristik akustik yang dihasilkannya. Selanjutnya, proses penalaan yang melibatkan kepakaran dari ‘empu’ pembuatnya juga perlu dikaji dengan memanfaatkan konsep pengujian akustik dari sisi spektral, temporal dan spatialnya. Disamping itu kajian tentang konsep ‘judgement’ yang dilakukan oleh sang ‘empu’ juga perlu dilakukan, mengingat aspek subjektif yang mendasarinya disamping akibat kelangkaan literatur pendukungnya. Dengan kelengkapan kajian/penelitian tersebut maka penyusunan konsep standarisasi alat musik tradisional ini dapat dilakukan, disamping itu, perlu juga dituangkan ke dalam dokumen ‘paten milik masyarakat’ untuk alat musik tradisional tersebut.
Mengingat adanya kenyataan bahwa kondisi medan akustik yang baik bagi ‘presentasi’ jenis musik tertentu sangat ditentukan oleh karateristik sinyal dari gubahan musik itu sendiri, maka penelitian atas karakteristik akustik secara lengkap dari gubahan musik hasil dari kreativitas senimannya perlu dilakukan. Sebagai gambaran, meskipun alat-alat musik yang digunakan sama, namun kreativitas dari seniman dapat menghasilkan gubahan musik yang berbeda-beda, misalnya jika dilihat dari sisi temponya. Hal ini perlu dipahami mengingat jika musik itu dimainkan di dalam ruang tertutup misalnya auditorium, ‘resital hall’, ataupun ‘concert hall’, maka karakteristik sinyal dari gubahan musik tersebut sangat menentukan kondisi akustik optimal yang dapat didengarkan oleh penontonnya.
Objektif selanjutnya adalah mengidentifikasi kondisi akustik optimum sesuai dengan ’preferensi’ dari pendengarnya. Sebelumnya perlu untuk dijelaskan bahwa kondisi medan akustik yang dialami oleh pendengar terdiri dari penggabungan empat parameter utama, yaitu :
1. Tingkat pendengaran (Listening Level), biasanya besaran ini dinyatakan dengan besaran dBA.
2. Waktu tunda pantulan awal (Initial Delay Time), yaitu waktu tunda yang terjadi antara suara langsung dari sumber ke pendengar dan suara pantulan,
3. Waktu dengung subsequent (Sub-sequent Reverberation Time), yaitu waktu dengung yang berhubungan satu-satu dengan posisi sumber suara dan penerima dan
4. Korelasi silang sinyal antar kedua telinga (Inter-Aural Cross Correlation, IACC), yaitu besaran yang menyatakan adanya perbedaan sinyal suara yang diterima di telinga kiri dan kanan pendengar.
Tiga parameter utama dari 1 sampai 3 di atas adalah parameter yang bersifat temporal dan besaran ini dapat diukur dengan menggunakan satu channel pengukuran saja, misalnya menggunakan sound level meter atau frequency analyzer 1 channel. Disamping itu, ketiga parameter tersebut memiliki karakteristik yang juga sangat tergantung kepada frekwensi. Sementara parameter utama yang keempat adalah besaran yang bersifat spatial dan hanya dapat diukur dengan menggunakan instrumen dual channel dengan memanfaatkan dummy head. Hal ini disebabkan karena manusia memiliki dua buah telinga yang posisinya sedemikian rupa sehingga dapat mendeteksi adanya ruang dan juga dapat melokalisasikan posisi dari sumber suara. Adanya ke‐empat parameter utama akustik ini, bukan hanya berlaku bagi medan suara di dalam ruangan (indoor) tetapi juga berlaku untuk sistem tata suara di luar ruangan (outdoor). Dengan penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa disisi sistem pendengaran manusia memiliki 4 dimensi yang sama dengan sistem visual, namun sistem pendengaran memiliki 3 dimensi waktu dan satu dimensi ruang. Sementara pada sistem visual manusia memiliki 3 dimensi yang menyatakan karakteristik ruang dan satu dimensi tentang waktu.
Berkaitan dengan penjelasan ringkas diatas, maka objektif selanjutnya dari program ini adalah menentukan besaran optimum dari masing‐masing empat parameter akustik medan suara tersebut. Penentuan parameter optimum ini akan melibatkan proses penelitian yang menerapkan methoda psiko dan phisio‐akustik, dimana response subjektif dan objektif dari para subjek pendengar yang diberi presentasi variasi parameter medan suara mesti dianalisis dengan teliti. Disamping melibatkan subjek, penelitian ini juga memerlukan bantuan simulasi medan suara di dalam laboratorium yang melibatkan sarana peralatan yang memiliki ketelitian tinggi.
Objektif utama dari program ini adalah dihasilkannya rancangan Gedung Konser, atau paling tidak berupa gedung rehearsal yang mungkin berbentuk Gedung Kesenian yang secara akustik memadai untuk pagelaran seni musik tradisional tersebut. Hal ini akan dibahas pada paragraph tersendiri.
Aktivitas
Untuk melaksanakan program ‘research road‐map’ ini, dengan memanfaatkan hasil dari penelitian awal yang sudah berhasil diselesaikan dan juga yang sedang dilaksanakan, maka perlu dilakukan sosialisasi dan meningkatkan ‘linkage’ ke seluruh ‘stake holder’ dari seni musik Tradisional Indonesia ini. Dengan memanfaatkan berbagai media, dari media cetak/koran sampai ke internet, dan juga melalui presentasi di seminar‐seminar, kongres maupun saresehan, maka pemahaman atas diperlukannya ‘perhatian – attention’
yang memadai bagi peningkatan kualitas musik tradisional ini dapat dilakukan. Hal ini perlu dilakukan mengingat banyaknya ‘salah kaprah’ yang terjadi di dalam pelaksanaan seni pertunjukan musik tradisional ini. ‘Salah kaprah’ yang terjadi disebabkan karena adanya pemahaman yang keliru atas
pemanfaatan teknologi sistem tata suara dan juga belum membudayanya ‘konsentrasi perhatian’ ketika mendengarkan pertunjukan seni musik tradisional. Disamping itu, kondisi pelaksanaan pertunjukan seni musik tradisional inipun tidak terlepas dari adanya berbagai macam gangguan yang menyebabkan ‘konsentrasi perhatian dan mendengarkan’ musik tradisional ini tidak dapat tercapai secara optimal.
Langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi sumber daya manusia yang memiliki pemahaman yang memadai di bidangnya masing‐masing, yang dapat diajak bekerjasama di dalam upaya peningkatan kualitas musik tradisional ini. Berbagai kepakaran diperlukan dan dapat berkontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga budaya kualitas seni musik tradisional ini dapat berkembang dengan pesat. ‘Best practices’ dari bangsa Jepang yang secara konsisten dan berkelanjutan dapat meningkatkan kualitas seni musik tradisionalnya, dapat dijadikan sebagai sarana ‘benchmarking’ untuk menuntun pelaksanaan program ini. Keterlibatan berbagai jenis teknologi mutakhir dari teknologi yang paling dasar sampai kepada teknologi ‘signal processing’ dan simulasi komputer mutakhir, perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan ketelitian, efisiensi dan efektivitas dari aktivitas‐aktivitas pelaksanaan program ini. Disamping itu, pelaksanaan kegiatan juga perlu didasari dengan paradigma transparansi, terlacak dan teraudit, agar dapat menghilangkan berbagai macam kendala yang bersifat subjektif dan sektoral.
Aktivitas selanjutnya adalah melakukan identifikasi kebutuhan dan manfaat dari masing‐masing daerah atas potensinya untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas keunikan dan kekhasan dari budaya daerahnya masing‐masing jika dikaitkan dengan seni musik tradisionalnya. Hal ini perlu dilakukan mengingat dengan diimplementasikannya otonomi daerah maka potensi keuangan dan penerapan skala prioritas dari masing‐masing daerah tentunya akan berbeda‐beda. Dari sisi potensi seni musik tradisionalnya, maka secara makro mungkin dapat dikatakan bahwa daerah Jakarta, Bali, DIY, Jawa Tengah (Solo), Jawa Barat dan Sumatera Barat memiliki potensi pengembangan dan peningkatan kualitas musik tradisionalnya yang sangat tinggi. Hal ini ditunjukkan dari adanya tuntutan dan perkembangan aktivitas dari para seniman dan budayawan pendukung seni musik itu sendiri, disamping karena tuntutan identitas daerahnya sendiri. Meskipun diperlukan ‘feasibility study’ yang lebih mendalam dan juga teliti dari semua aspek, kebutuhan akan sarana Gedung Konser di daerah‐daerah tersebut dapat dikatakan sangat ‘urgen’ dan selanjutnya dapat dijadikan sebagai salah satu acuan akan keberhasilan dari program peningkatan kualitas musik tradisional ini. Bagi daerah lainnya, tuntutannya mungkin tidak perlu sampai merancang Gedung Konser namun melakukan renovasi dan revitalisasi terhadap Gedung Kesenian yang dimilikinya sehingga secara akustik cukup memadai bagi pagelaran seni musik tradisional daerahnya. Sebagai contoh, saat ini proses perancangan renovasi Gedung Sultan Suriansyah di Banjarmasin sedang dilakukan, yang ditujukan untuk meningkatkan ‘perhatian’ masyarakatnya terhadap budaya seni pertunjukan di daerah tersebut. Sampai saat ini, banyak gedung kesenian diberbagai daerah yang dibangun tanpa disertai konsep perancangan akustika arsitektur yang memadai, sehingga hampir semua pertunjukan seni musik dan tari di Gedung Kesenian tersebut tidak mampu meningkatkan ‘perhatian’ dan ‘ketertarikan’ masyarakat untuk memberikan apresiasinya.
Kemudian perlu dilakukan ‘survey’ lapangan berkaitan dengan pengujian/penelitian fisika dari seluruh komponen penunjang seni musik Tradisional ini, meliputi sarana peralatannya, lingkungan ‘venue’
tempat latihan dan juga presentasinya (misalnya keberadaan Gedung Kesenian, pendopo, bale banjar, atau ampitheatre misalnya), termasuk juga pengujian baik psiko‐akustik maupun physio‐akustik yang melibatkan para subjek di lingkungan masyarakatnya. Pengujian in‐situ bagi presentasi alami dari musik tradisional ini secara umum dapat dianggap lebih murah dari sisi finansial dibandingkan dengan mendatangkan para seniman tersebut ke pusat penelitian. Pada sisi aktivitas ini, keterlibatan perguruan tinggi yang berada di daerah tersebut sangat diperlukan, demikian juga dari jajaran pemerintah daerahnya. Keterlibatan perguruan tinggi dan jajaran pemerintah daerah juga diperlukan untuk melaksanakan ‘feasibility study’ dari berbagai aspek tentang potensi pengembangan dan peningkatan kualitas seni ini serta prospek pembangunan sarana (bangunan dan sarana pendukungnya) dan prasarana (kebijakan dan rencana pengembangan jangka panjangnya). Sementara itu di perguruan tinggi perlu dikembangkan dan juga difasilitasi secara serious dan konsisten pembentukan unit kesenian daerah yang merupakan sarana berkreasi dan berinovasi bagi para mahasiswa/i, sebagai salah satu bentuk pengembangan identitas institusi dan juga daerahnya. Untuk dapat meningkatkan ‘prideness’ dan ‘confidency’ para mahasiswa yang terlibat di bidang seni musik tradisional ini, maka bagi institusi terkait di tingkat pusat perlu untuk menyelenggarakan festival musik tradisional bagi unit kesenian dari berbagai perguruan tinggi. Dengan adanya berbagai penghargaan riil dari pemerintah, baik itu pemerintah pusat maupun daerah, maka lambat laun tingkat ‘prideness’ dan ‘confidency’ dari masyarakat umum akan lebih meningkat lagi, sehingga ‘perhatian’ mereka atas warisan adi luhung nenek moyang mereka akan lebih meningkat lagi.
Setelah dilakukannya ‘survey in situ’, maka seluruh data kemudian diolah dan juga disimulasikan di dalam laboratorium, sebagai upaya untuk meningkatkan keobjektifan ‘finding’ dari masing‐masing jenis musik tersebut. Di Laboratorium juga perlu dilakukan pengujian dan evaluasi baik psiko‐ maupun phisio akustik melalui simulasi medan suara yang juga melibatkan subjek. Hasil analisa seluruh data kemudian dimanfaatkan untuk menentukan kondisi medan suara optimum yang memiliki ‘preferensi’ tertinggi dari
masing‐masing parameter akustik medan suara itu sendiri.
Selanjutnya, sebagai puncak aktivitas program ini adalah dirancangnya suatu Concert Hall yang ‘dedicated’ untuk musik tradisional Indonesia, dengan cara menterjemahkan besaran dari masing‐masing parameter akustik yang diperoleh dari penelitian ke dalam parameter yang umum digunakan pada bidang arsitektur. Jika dapat diimplementasikan secara nyata, maka secara meyakinkan akan dihasilkan suatu sarana pertunjukkan musik tradisional yang bersifat unik dan khas sehingga setiap pengunjung/penonton akan dapat merasakan dan juga menyimpulkan bahwa mereka tidak akan dapat mendengarkan musik tradisional dengan kualitas yang lebih tinggi dari yang mereka dengarkan di dalam gedung itu.
Mengingat keunikan, kekhasan dan juga tuntutan kualitas dari sarana Gedung Konser ini, disamping juga karena karakteristiknya yang berupa landmark, monumental, culture based, advanced technology, prideness, confidence dan juga civilized, disamping karena usianya yang umumnya lama dan juga biayanya yang mahal, maka sangat perlu dikembangkan suatu konsep manajemen ‘sustainability’ yang cukup rinci dan teliti, sehingga utilisasi sarana ini dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan dari prideness, confidence dan dignity bangsa seutuhnya.
Penutup
Pada tulisan ini secara ringkas sudah diungkapkan tentang upaya untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas ‘local genius’ berupa hasil budaya seni musik tradisional bangsa Indonesia dari sisi keilmuan akustik‐nya. Berbagai hasil penelitian yang telah dicapai sampai saat ini secara meyakinkan dan objektif dapat menunjang program ‘research road‐map’ yang diusulkan ini. Kontribusi positif dan juga dukungan dari berbagai pihak termasuk dari seluruh ‘stake holder’ seni musik tradisional ini, sangat dibutuhkan untuk dapat mencapai berbagai objektif dari program ini. Masukan, saran dan juga kritik dengan rendah hati sangat diperlukan guna menyempurnakan dan meningkatkan kualitas capaian dari program ini. Atas perhatian dan kerjasamanya, penulis ucapkan terima kasih.
berita di Kompas
Gamelan Menuju Industri Kreatif

Sabtu, 10 Januari 2009 | 23:24 WIB
SOLO, SABTU–Seni gamelan baik asal Jawa, Sunda, Bali, Bugis atau lainnya untuk pada era globalisasi sangat potensial menuju industri kreatif, karena dalam perkembangannya musik-musik di barat sekarang ini banyak yang berpaling ke wilayah timur, termasuk Indonesia.
Guru Besar Kerawitan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Prof.Dr. Rahayu Supanggah mengatakan hal itu dalam Seminar “Pertumbuhan dan Perkembangan Gong Kebyar” yang diselenggarakan Jurusan Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta, di kampus Kentingan Solo, Sabtu.
“Dulu musik-musik barat telah dieksplorasi sedemikian kuat, tetapi sekarang tidak lagi dan mereka beralih kebudayaan timur termasuk Indonesia. Untuk itu gamelan sangat potensial menuju ke induwstri kreatif,” katanya.
Dia mengatakan globalisasi jangan hanya dipandang sebagai ancaman tetapi juga peluang besar bagi perkembangan musik gamelan yang sekarang ini telah banyak dilirik dunia barat.
Gamelan di negara barat tidak hanya dijadikan inspirasi untuk mengembangkan musik-musik barat, tetapi juga diajarkan ke berbagai organisasi dan lembaga bahkan di penjara-penjara seperti di Inggris.
“Melalui gamelan orang bisa menghilangkan dari sifat brutal, menambah kreatifitas, memupuk prinsip-prinsip kerjasama dan gamelan sekarang ini telah menjadi multi guna,” jelasnya.
“Tradisi menjadi penting untuk mencari indentitas diri, untuk itu tidak mengherankan kalau para musikus barat dalam mencari jati dirinya banyak yang berpaling ke budaya timur yang masih asli,” kata Supangah.
Di Amerika Serikat (AS) ada 500 perangkat gamelan lebih, di Ingris, Jepang ada sekitar 100 perangkat gamelan dan ada di Australia, Jerman, perancis dan bahkan di Singapura hampir tiap Sekolah Dasar memiliki gamelan.
Seminar tersebut juga menapilkan pembicara Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta Prof.Dr. Pande Made Sukerta, Staf Ahli Menteri Keuangan Dr Permana Agung D, M.Sc dan Staf Pengajar ISI Yogyakarta I Wayan Senin,SST, M.Hum. (ANT)
Berita Antara : 13/12/08 20:22
1.500 Seniman Lepas “Matahari 2008″ di Bali
Denpasar (ANTARA News) – Sebanyak 1.500 seniman di Kota Denpasar dan sekitarnya ikut ambil bagian dalam kegiatan “Melepas Matahari 2008″ dan menyambut tahun baru 2009 yang dipusatkan di Lapangan Puputan Badung, jantung kota Denpasar.
“Berbagai aktifitas seni digelar pada pengujung tahun 2008 sejak pagi hingga tengah malam pada 31 Desember mendatang,” kata Koordinator kegiatan tersebut Kadek Suardana didampingi Panitia lainnya Nyoman Suarsa di Denpasar, Sabtu.
Ia mengatakan, aktifitas seni yang melibatkan ribuan seniman kali ini merupakan yang kedelapan kalinya pada hari dan malam peralihan tahun, kali ini dari 2008 ke 2009.
Berbagai kegiatan mulai dari pameran dagang makanan khas Bali, pawai hingga penampilan senderatari.
Pementasan kesenian kali ini lebih menonjolkan kesenian Bali tradisi dan pengembangan, mengingat kesenian pop sudah banyak ruang untuk mengapresiasikannya.
Kadek Suardana menambahkan, kegiatan tersebut diawali dengan pameran makanan khas Bali dan parade pelatihan tari Bali sejak pagi hari.
Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan pertandingan olaraga tradisional Bali “metejog”, dan menjunjung ember berisi air.
Menyusul penampilan barong ngelawang yang dibawakan oleh sekaa barong Widia Bhakti Pegok Denpasar Selatan pada siang hari pukul 11:00-12:00 Wita.
Prosesi pawai menyusul kegiatan berikutnya antara lain gending penegak, musik jambe, tari pelegongan, seni pencak silat, arja calonarang, reog pnorogo, penopengan, tari kreasi dan baris tombak.
Pawai budaya tersebut menempuh jalur jalan udayana-jalan surapati dan berakhir di jalan Kaliasem, dekat lapangan Puputan Badung.
Pada malam harinya ditampilkan kesenian joged bumbung, janger serta musikalisasi puisi dan teater.
Acara melepas matahari 2008 diakhiri dengan penampilan sendratari berjudul “Rajapala” yang digelar mulai 22:30-24:00 Wita.
Garapan sendratari tersebut lebih menonjolkan koreografi ketimbang penunjang seperti kembang api karena hal itu cukup beresiko terhadap keamanan, ujar Suardana.(*)







Komentar Terakhir