You are currently browsing the category archive for the 'Architecture' category.
Sendratari Ramayana Tampil di Lebanon
JAKARTA, KOMPAS.com–Kedutaan Besar RI di Beirut, Lebanon, menampilkan Sendratari Ramayana dan aneka musik tradisional Indonesia di beberapa kota di Lebanon dalam pagelaran bertajuk “Malam Indonesia”.
Siaran pers KBRI Beirut yang diterima ANTARA di Jakarta, Kamis, menyebutkan, para seniman yang akan tampil dalam sendratari tersebut berasal dari Yogyakarta, dan diperkuat para staf KBRI Beirut, mahasiswa, dan prajurit TNI di UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon).
Acara tersebut diselenggarakan untuk memeriahkan peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke-64, pada 17 Agustus 2009.
Para penari Lebanon yang tergabung dalam Friends of Indonesia (Teman-Teman Indonesia) juga ikut berkolaborasi dalam itu.
Penampilan dimulai 8 Agustus 2009 di UNESCO Palace. Beirut mengundang sekitar 1.000 penonton dari semua kalangan di Lebanon.
UNESCO Palace merupakan balai pertunjukan berkapasitas 1.500 tempat duduk, lengkap dengan peralatan panggungnya. Tempat ini sering digunakan untuk pementasan seni-budaya, drama dan hiburan yang biasa dibawakan oleh artis tersohor dari berbagai negara.
Pada 11 Agustus 2009, tim kesenian dengan hampir 70 pemain ini akan manggung di hadapan pasukan penjaga perdamaian PBB di daerah perbatasan Lebanon-Israel.
Pada kesempatan ini, pelawak Tarzan dan teman-temannya juga akan tampil, menghibur pejuang-pejuang perdamaian yang haus humor-humor segar Indonesia.
Tempat berikutnya yang “disambangi” tim kesenian itu adalah Bachoos Temple, sebuah candi bekas reruntuhan kota kuno Romawi di kota Baalbeck, 2 jam perjalanan darat ke arah tenggara Lebanon. Di sana mereka akan manggung pada 15 Agustus 2009.
Menurut guru tari KBRI Beirut, Ahmad Maulana, persiapan “Malam Indonesia” terus dilakukan, tidak hanya latihan gerakan tarian, tapi juga terkait dengan urusan teknis menyeluruh.
Ia mengatakan, tim akan tampil penuh kejutan dalam atraksi berdurasi satu jam tersebut dengan memaksimalkan penggunaan teknologi pencahayaan dan sound system yang dipadu untuk mendukung karakter cerita tari.
“Lenggak lenggok penari Lebanon, yang terbiasa dengan gerakan tari salsa dan jenis hip-hop lainnya akan memperkaya dan menambah unsur surprise dalam pertunjukan nanti,” kata Ahmad Maulana yang sebelumnya aktif di grup kesenian Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.
Pemkot Bandung Belum Serius Selamatkan Cagar Budaya
BANDUNG, KOMPAS.com–Pemeritah Kota (Pemkot) Bandung belum punya ’political will’ (keseriusan) menyelamatkan bangunan Cagar Budaya yang antara lain ditunjukkan dengan pembongkaran pemandian Cihampelas, kata Ketua Bandung Heritage, Harastoeti.
“Perda Cagar Budaya mendesak untuk segera disahkan. Karena dengan Perda, kita bisa segera menegakkan peraturan, sehingga sanksi segera dijatuhkan, dan insentif bagi pemilik segera diberikan,” kata Harasoeti, menjawab konfirmasi wartawan, di Bandung, Kamis.
Ia mengungkapkan, rencananya pembongkaran pemandian Cihampelas itu akan dibangun apartemen. Namun, dia tidak yakin apakah pembangunan itu berizin atau tidak. Jika pembangunan itu memang berizin, seharusnya ada dasar pemberian izinnya.
Menyikapi situasi tersebut, Harastoeti menganggap Pemkot seperti ’takluk’ pada developer (pengembang). Padahal semestinya developer yang tunduk pada peraturan pemerintah.
“Sepertinya, asal dipastikan ada pendapatan asli daerah (PAD) yang masuk, maka pembangunan akan dipermudah,” sesal Harastoeti.
Menurut dia, orientasi pemerintah selama ini tentang kota maju, hanyalah kota dengan pembangunan mall-nya di mana-mana. Padahal sebenarnya, kota maju adalah kota yang dapat menata kotanya dengan segala aturan yang telah ditetapkan.
“Terus terang, saya sangat menyayangkan kalau sampai pemandian Cihampelas dibongkar, apalagi sampai dibangun tempat pemukiman. Sebab, pemandian ini memiliki nilai historis yang sangat tinggi dan terhormat,” tambahnya.
Lebih lanjut, dia mengungkapkan, setahun lalu Bandung Heritage pernah diajak berbicara oleh pengembang dan pemilik pemandian tersebut.
Hanya saja, ia menegaskan, pada saat itu Bandung Heritage hanya memberikan usul dan tidak memberikan rekomendasi untuk mendirikan bangunan dengan merusak bangunan lama.
“Kami tidak pernah memberikan rekomendasi dan bahkan usul yang kami berikan pemandian tersebut jangan dihancurkan. Hal itu atas pertimbangan nilai sejarah, konservasi, dan juga beban daerah itu,” katanya.
Salah seorang warga, Ade mengungkapkan kesedihannya atas pembongkaran itu. Bagi Ade, keberadaan pemandian itu menjadi salah satu tempatnya tumbuh. “Dari kecil kita bermain di sana, sedih melihat nasibnya seperti ini,” ujarnya.
Sementara itu, salah seorang anggota panitia khusus (Pansus) Perda Cagar Budaya, Nanang Sugiri, menyebutkan, ada beberapa kategori dalam penentuan Cagar Budaya.
Kategori A ada 99 bangunan. Dengan data total 200 Cagar Budaya, walau sebenarnya jumlahnya lebih dari itu. “Harus ada penelitian ulang, jangan sampai rumah orang dijadikan Cagar Budaya. Karena itu akan ada konsekuensinya,” kata Nanang.
Untuk kategori A, jelas Nanang, semua harus dalam keadaan seperti semula, walau pernah mengalami kerusakan. Kecuali untuk kategori B dan C, itu ditentukan oleh Peraturan Walikota (Perwal). Jadi jumlah ini masih belum ditentukan, karena belum dilakukan pengkajian, katanya.
Menurut dia, rata-rata untuk kategori B dan C, milik pribadi, milik swasta, atau bangunan sudah rapuh. Untuk yang rapuh ini, sudah tidak mungkin diberikan renovasi.
“Perubahan atau renovasi dilakukan juga dengan ketat. Kecuali yang sudah rapuh dan hancur sama sekali. Tinggal Wali Kota yang menentukan akan diapakan bangunan itu,” demikian Nanang.
YGF Sukses, Masih Mengusung Semangat Bergamelan
Laporan wartawan KOMPAS Lukas Adi Prasetya
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Yogyakarta Gamelan Festival ke-14 (16-18 Juli 2009) berlangsung sukses tanpa sentuhan sang maestro, Sapto Rahardjo. Beberapa pengamat musik melihat YGF masih mengusung semangat bergamelan.
Isi perut YGF akan tergantung banyak pada Ari Wulu, putra almarhum Sapto, dan tim tujuhnya. Tim ini, tiga dari anggota keluarga, dan empat dari orang-orang kepercayaan Sapto.
Memang masih ada bayang-bayang kebesaran Sapto, tetapi proses regenerasi sudah saatnya berjalan. Memang dan harus ada saatnya YGF dipegang orang lain. Kan enggak mungkin dipegang Mbah Sapto terus. Justru saya melihat sekarang tahun ini regenerasi YGF dimulai. Potensi menarik, tetap ada, kata Djaduk Ferianto, musisi.
Beberapa bulan sebelum Sapto meninggal, Djaduk sempat banyak ngobrol dengan sosok itu. “Saya bilang, dalam acara budaya dan seni, seperti YGF, perlu pendanaan. Saya waktu itu usul ke Mbah Sapto, YGF perlu sponsor. Dia memang memahami, sangat malah. Tapi dia selalu bilang, ada atau tak ada sponsor, YGF harus jalan. Gila semangatnya. Tapi memang, event sekelas YGF tetap harus jalan,” ujar Djaduk.
Pemerintah mesti melihat potensi YGF untuk menyemarakkan Yogyakarta. Jangan sampai YGF, festival gamelan terbesar di dunia, yang menampung ekspresi bergamelan dari anak-anak sampai musisi nasional dan dunia, ini, kata Djaduk, terhenti karena kekurangan dana.
Djohan Salim, pemerhati gamelan yang juga Asisten Direktur Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, mengemukakan, kekuatan konsep Sapto dalam YGF adalah bisa mendudukkan dalam satu panggung, seniman-seniman serius yang menekuni gamelan, kelompok anak-anak muda yang suka musik dan menyelami gamelan dengan kreativitas sendiri, serta para pelajar yang sedang mulai mengasah keterampilan dan kegemaran bermain gamelan.
Komposisi itulah yang menjadi semangat, kekuatan, dan daya tarik YGF. Saya melihat YGF tahun ini, masih mengusung semangat itu. Namun, YGF berikutnya ya mesti terus ada semangat itu walau kemasan pertunjukan YGF bisa berbeda. “Itu tidak apa-apa. Beda pelaku, kan beda pemikiran. Yang penting YGF harus terus ada,” kata Djohan.
YGF, lanjut Djohan, juga harus bisa menarik perhatian kawula muda lebih banyak. Ia menunjuk pada Gamelan Gaul, yang diletakkan di dua hari pertama dari total lima hari penyelenggaraan YGF ke-12. Gamelan Gaul yang menampilkan aneka kreasi bergamelan dari anak muda, seperti gamelan yang berpadu dengan suara knalpot, ternyata menjadi magnet bagi anak-anak muda.
Seniman dan Budayawan Sampaikan Maklumat Juli
Laporan wartawan KOMPAS Yurnaldi
JAKARTA, KOMPAS.com – Minimnya kepedulian terhadap kebudayaan Indonesia, bahkan belum menjadi perhatian utama penyelenggara negara, membuat seniman, artis, dan entertainer bersatu dan menghasilkan mufakat budaya yang mereka sebut Maklumat Juli.
Para seniman menganggap perlu dilakukan perubahan yang substansial oleh semua pihak, baik penyelenggara negara, elite bangsa, maupun masyarakat luas.
“Menyadari kenyataan mutakhir kita sebagai bangsa juga sebagai negara yang kian dekaden, karena ketidakmampuannya memelihara dan mempertinggi harga diri, potensi, kemajuan serta kekuatan nasionalnya yang penuh sejarah, kami menganggap perlu dilakukan perubahan yang substansial oleh semua pihak, baik penyelenggara negara, elit bangsa, maupun masyarakat luas,” kata budayawan Radhar Panca Dahana, Kamis (30/7) di Jakarta.
Para seniman yang menggelar pertemuan dan merumuskan Maklumat Juli 2009 antara lain terdiri dari Sys Ns, Radhar Panca Dahana, Yockie Soeryo Prayogo, Eros Djarot, Ray Sahetapy, Embie C Noer, Alex Komang, Aspar Paturusi, dan Adi Kurdi. Di kalangan artis/entertainer tercatat antara lain Yana Julio, Slank, Glen Fredly, Maya Hasan, Ratih Sang, Iwan Fals, dan Aning Katamsi.
Menurut Radhar, kesatuan yang unik dan belum pernah terjadi ini berhasil mencapai sebuah kesimpulan, baik dalam visi, gagasan maupun tindakan. Dalam maklumat dinyatakan, perlu memperkuat daya pikir yang sehat dan jernih melawan masih kuatnya feodalisme dan mentalitas destruktif yang menciptakan kemalasan, peniruan, atau konflik sektarian.
Perlu mengeksplorasi dan mendayagunakan khasanah tradisi dan kearifan lokal yang sudah dikembangkan ribuan tahun demi menegakkan kekuatan-kultural, bukan hanya untuk mempertegas eksistensi-diri dan memperkuat kemampuan in tegrasi-diri, tapi juga sebagai posisi tawar dalam pergaulan dunia.
Berlandaskan hal itu, lanjut dia, perlu dikoreksi kembali dasar-dasar materialisme yang melahirkan liberalisme dan pada akhirnya kapitalisme yang menjerat rakyat dalam krisis hingga runtuhnya sikap keber samaan di hampir seluruh dimensi. Untuk itu, perlu menyiasati percepatan perubahan yang terjadi melalui globalisasi dan teknologi tinggi dengan disiplin, kerja keras, ketekunan, ketangguhan kompetitif, dan kerelaan berkorban.
Maka, tak terelakkan perlunya penyelenggara negara, memperkokoh dirinya dengan kepribadian yang kuat berlandaskan pada dinamika kebudayaan, dalam membuat pilihan-pilihan yang berpihak pada rakyat dan kejayaan generasi mendatang serta menjadi contoh terbaik bagi rakyat yang dipimpinnya.
Sebagai alat
Budayawan Yockie Soeryo Prayogo menambahkan, sejak digulirkannya acara debat capres-cawapres dengan para budayawan dan seniman beberapa waktu lalu, persoalan pentingnya kebudayaan dalam politik, pemerintahan atau cara kita berbangsa/bernegara kini mengisi perbincangan banyak kalangan.
Namun, keramaian itu masih bersifat kasak-kusuk. Belum menjadi fokus atau perhatian utama, apalagi oleh penyelenggara negara. “Delapan program utama pasangan Mega-Prabowo atau 15 prioritas utama kabinet SBY mendatang, satu pun tidak menyebut kata kebudayaan,” paparnya.
Yockie menjelaskan, semua memperlihatkan bagaimana kesadaran akan penting dan kuatnya peran kebudayaan dalam turut memecahkan berbagai masalah bahkan krisis kita belakangan ini, masih sangat kecil. Kebudayaan masih saja dianggap sebagai klangenan, hiburan murahan, bahkan mungkin gangguan bagi urusan politik dan ekonomi.
Dalam banyak hal, kesenian sebagai salah satu produk utama kebudayaan diposisikan hanya sebagai alat atau sumber eksploatasi kepentingan ideologi, politik, atau industri. “Karena itu, perlu bagi kita, para pelaku dan produsen kebudayaan, seperti seniman, budayawan juga para entertainer, sebagai garda-depan (avant-garde ), melakukan usaha untuk membuat kebudayaan tidak disepelekan dan dipinggirkan secara sembrono. Ini jadi genting, karena risiko jauh lebih besar menghadang kita dan generasi penerus kita, jika kita lalai, sungkan, dan mungkin sibuk dengan urusan atau sukses kita masing-masing,” katanya.
Di tempat terpisah, penyair Irmansyah menyambut baik adanya Maklumat Juli 2009 tersebut. Satu hal yang perlu disadari, kita sebagai pelaku budaya, sebagai orang yang hidup dalam dan menghidupi kebudayaan, mungkin tidak punya kekuatan alias powerless.
“Walaupun demikian bukan berarti kebudayaan menjadi tak penting dalam peradaban bangsa ini. Ke depan, wakil rakyat dan penyelenggara negara, diharapkan lebih peduli kebudayaan, sebagaimana yang dimaksudkan dalam Maklumat Juli,” ujarnya.
Pertunjukan Wayang Akan Digelar di Sebuah Mal
JAKARTA, KOMPA.com–Sebuah pertunjukan wayang kulit akan digelar di Cilandak Town Square Jakarta, Kamis (30/7), sebagai upaya mengenalkan kesenian itu kepada generasi muda dan masyarakat perkotaan pada umumnya.
“Dengan menghadirkan wayang kulit di mal, kita berharap mereka dapat memahami falsafah, nilai-nilai luhur serta tuntunan yang ada dalam cerita pewayangan tersebut,” ujar Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Jakarta Ki H Rohmad Hadiwijoyo, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa.
Rohmad, yang juga Ketua Pengurus Harian Yayasan Lontar, mengatakan, pertunjukan dilakukan oleh Yayasan Lontar dan Putrowijoyo Parwo, bekerja sama dengan Center for Development Studies (CIDES) dan Pepadi DKI Jakarta.
Ia mengatakan, cerita wayang di Cilandak Town Square adalah “Bale Segolo-golo” yang merupakan bagian dari pergelaran wayang kulit “The Bima Series”. Cerita yang akan dibawakan oleh dalang kondang Ki Joko Edan itu menggambarkan intrik politik di Astina.
Rohmad, yang juga seorang dalang, mengatakan, “Bale Segolo-golo” merupakan seri kedua dari lima seri kisah kolosal yang terangkum dalam “The Bima Series”. Seri pertama dengan lakon Bima Bungkus telah digelar di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, 24 April, dengan dalang Ki H Anom Suroto.
Seri ketiga dengan cerita Babad Wonomarto akan dibawakan Ki Manteb Soedharsono, seri keempat Wirata Parwa akan digelar bersama dalang Ki Sugito Purbocarito, dan cerita penutup Kresna Duta akan dibawakan oleh Ki Purbo Asmoro.
Rohmad mengatakan, dewasa ini ada kesan bahwa seni wayang identik dengan “barang kuno”. Hal itu tidak lain karena kelangkaan informasi dan kurangnya akses terhadap jenis kesenian ini, sehingga seni wayang kurang dipahami generasi muda khususnya, dan masyarakat luas pada umumnya.
Padahal, katanya, wayang kulit sarat dengan kearifan budaya. Bersama dengan agama, kearifan budaya merupakan sarana perekat bangsa dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Sayangnya selama ini ada kecenderungan memposisikan budaya secara keliru, sebagai objek propaganda politik dan ekonomi semata. Budaya belum dilihat sebagai komponen yang independen yang mampu memberikan kontribusi yang lebih banyak kepada masyarakat luas dan negara,” katanya.
Yayasan Lontar adalah badan usaha nirlaba pemerhati permasalahan literatur kebudayaan Indonesia. Didirikan tahun 1987 oleh beberapa sastrawan besar Indonesia seperti Goenawan Mohammad, Sapardi Djoko Damono, Umar Kayam, Subagio Sastrowardoyo, serta budayawan dari Amerika Serikat John H McGlynn.
Selain pementasan wayang, Yayasan Lontar juga akan menyiapkan paket pendidikan dan ensiklopedia wayang dalam sejumlah bahasa, yakni Prancis, Inggris, Jerman, dan Indonesia, dengan biaya sekitar Rp2 miliar. Sebagian dana yang diperlukan telah disumbangkan oleh Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), The World Bank, dan Bima Sena Mining & Energy Society.
Tulisan ini termuat di Note saya di Facebook..
Dari namanya semestinya dapat disimpulkan bahwa gedung seperti ini dibangun tentunya dengan tujuan agar dapat menunjang perkembangan dan peningkatan kualitas kesenian di daerahnya. Jika dilihat dari sisi tujuannya tidak ada yang salah, bahkan dapat dikatakan tujuannya sungguh mulia sekali karena ini menyangkut ‘rasa’ yang dimiliki oleh masyarakat daerah itu disamping juga diperuntukkan sebagai wujud apresiasi dan kebanggaan dari sisi pengambil & penanggung jawab kebijakan, dalam hal ini PemDanya, kepada masyarakatnya. Jika tujuan tersebut dapat diwujudkan dengan BENAR maka masyarakat di daerah itu akan dapat meng’ekspresi’kan dirinya dalam bentuk kesenian yang khas yang nantinya menjadi ciri & ‘icon’ yang bersifat unik. Dimasa yang lalu, hal ini pernah terjadi pada saat Srimulat sedang berada pada masa jayanya.
Pada kenyataan yang ada sekarang, hampir semua Gedung Kesenian yang dimiliki oleh PemDa2 di seluruh Indonesia, tidak mampu untuk mewujudkan tujuannya itu. Pengecualian tentunya terjadi misalnya pada Gedung Kesenian Jakarta. Karena ketidak berhasilannya mencapai apa yang menjadi tujuannya, maka dapat dikatakan bahwa keberadaan Gedung Kesenian itu ‘hanya’ menjadi beban keuangan bagi PemDa-nya, yang ujung2nya juga menjadi beban bagi masyarakatnya. Hal ini tentunya akan menimbulkan tanda tanya, Kenapa hal itu terjadi?
Pada kesempatan ini, penulis tidak akan berusaha menjawab tanda tanya itu dari sisi keuangan, kebijakan, sosial, budaya bahkan dari sisi politiknya sekalipun. Penulis akan menekankan hanya dari salah satu aspek fungsional Gedung Kesenian itu sendiri, yaitu dari sisi akustik-nya. Sisi akustik ini merupakan salah satu aspek terpenting berupa media komunikasi anntara seniman & audience-nya, yang mesti menjadi ‘roh’ dari keberadaan bangunan ini. Tanpa adanya kondisi yang tepat bagi ‘roh’nya ini, bisa dipastikan bahwa fungsi gedung itu tidak akan tercapai. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kondisi akustik yang seharusnya dibuat/dirancang agar terjadi di dalam Gedung Kesenian ini?
Untuk menjawab pertanyaan ini, hal pertama yang mesti diperhatikan adalah kesenian atau seni pertunjukan apakah yang mau dipresentasikan dan dijadikan sebagai ‘icon’ dari daerah tersebut? Hal ini berhubungan dengan cukup lebarnya domain dari bidang seni pertunjukan itu sendiri. Yang paling berwenang untuk menjawab tentunya para budayawan, terutama sekali budayawan seni pertunjukan di daerah itu. Konsultasi dan usulan dari para budayawan daerah itu menjadi salah satu kunci utama kearah pencapaian tujuan dari keberadaan gedung itu. Disamping itu, diperlukan juga suatu telaah yg cukup mendalam atas potensi seni pertunjukan yg dimiliki oleh daerah itu, misalnya melalui suatu ‘feasibility study’ yg nantinya bermanfaat untuk menunjang ’sustainability’nya.
Setelah diketahui ‘ciri khas local genius di bidang seni pertunjukan di daerah itu’, selanjutnya perlu dicari karakteristik akustik dari seni musik yang menunjang seni pertunjukan itu sendiri. Berbagai jenis seni musik, apalagi yang berkarakteristik tradisional, dimiliki oleh bangsa ini, dan seni ini cenderung menghasilkan keunikannya masing-masing. Sebagai contoh, kota Bandung memiliki musik tradisional yang khas, misalnya musik angklung dan musik degung. Secara akustik karakteristik musik angklung tentunya berbeda dengan karakteristik musik degung. Konsekwensinya, gedung yang sesuai untuk musik angklung tentunya akan berbeda dengan musik degung. Dengan kenyataan seperti ini, apakah masing-masing seni musik itu mesti memiliki gedung keseniannya masing2..? Jika ditinjau dari sisi akustik, dengan tujuan untuk menonjolkan kualitas seni musiknya masing2, maka jawabannya adalah “ya”, masing2 seni musik ini HARUS memiliki gedung kesenian yang khusus diperuntukkan bagi pagelarannya.
Untuk mengurangi biaya yg dibutuhkan untuk membuat masing2 gedung kesenian tersebut, Apakah bisa dicarikan suatu kondisi akustik yg ’suitable’ untuk kedua jenis musik ini? Tentu saja bisa, selama kondisi tersebut masih cukup memadai untuk dapat menunjang ‘performansi’ keduanya. Namun sering terjadi, kompromi seperti ini tidak dapat dilakukan sebagai akibat dari terlalu besarnya perbedaan karakteristik akustik yang dibutuhkan tersebut.
Apakah bagian dari karakteristik akustik yang paling berpengaruh kepada sisi arsitektur ruangannya? Salah satu dari beberapa komponen akustik tersebut disebut dengan ‘waktu dengung’ ruangan. Besaran ini sangat tergantung kepada volume ruangan dan jumlah total luas permukaan2 ruangan dikalikan dengan koefisien penyerapan suara dari masing2 permukaan ruangan tersebut. Makin besar volume ruangan makin panjang waktu dengungnya, namun makin luas volume permukaan ruangan makin kecil waktu dengungnya.
Secara umum, disamping komponen ‘waktu dengung’ terrsebut, kondisi akustik yang baik sangat ditentukan oleh faktor spektral, temporal dan spatial dari medan suara yang didengarkan ‘audience’. Seluruh komponen itu (beserta turunan2 parameternya yang bersifat subjektif) mesti berada pada kondisi optimum atau pada suatu ‘range’, yang sangat tergantung kepada karakteristik dari musiknya sendiri. Permasalahan utamanya adalah ketiadaan dari data kondisi akustik optimum tersebut, yang akhirnya berdampak kepada “pen’dikte’an seni musik oleh perkembangan teknologi elektronik sistem tata suara”. Hal terakhir itu, secara tidak langsung mengakibatkan bergesernya ‘preferensi’ masyarakat atas kondisi akustik yang baik itu, dari kondisi ‘natural’ menjadi kondisi ‘artificial’. Pada kondisinya yang cukup ekstrim bahkan mengubah persepsi masyarakat dengan menjadikan ‘kondisi akustik yang dihasilkan oleh home-theatre system lebih baik dari theatre yang sebenarnya’.
Jadi, kondisi akustik yang baik itu, yang ‘natural’ atau ‘artificial’..?
Komentar & Response
Secara budaya yang berkembang musik-musik kita adalah penyatuan diri dengan Tuhan atau alam. Sehingga kondisinya secara budaya adalah natural.
Namun jika kita ingin mengkoordinir ruang akustik untuk pentas musik tradisional mungkinkah disediakan ruangan semi terbuka (seperti taman atau sejenisnya) yang memiliki tata akustik yang dapat mengayomi semua jenis alat musik?
Karena jika kita memfasilitasi dengan ruang berkesenian yang memiliki akustik yang baik, bisa-bisa kepuasan audience hanya terpenuhi dengan mendengarkan langsung dari ruang kesenian di daerah alat musik tersebut berasal. Dan itu akan sangat menyulitkan penyebaran budaya musik tradisi di Nusantara dan pertukaran budaya antar daerah di Nusantara. Karena kita dapat salah menilai mutu atau kuatitas musik tradisi yang tampil bukan di daerah asalnya.
Maaf jika sudut pandang saya ada yang keliru.
Secara teknis memang sangat memungkinkan Pak, meskipun dari sisi kualitas akustik yg diterima audience nya tidak mungkin untuk mencapai kondisi optimal. Disamping itu kondisi lingkungan yang bising jg cukup mengganggu ‘attention’ yg ada pada audience, disamping mengurangi tingkat ‘dinamis’ dari … Read Moremusiknya.
Dari sisi akustik, landscape yg bagus dapat meningkatkan suasana ‘outdoor space’ itu Pak.. Prof. saya di Jepang bahkan pernah mengupas tentang ‘acoustics spaciality’ dari lingkungan hutan lho..
Saya sudah seperti cucu Bapa, jadi tidak pantas dipanggil Bp.
Maaf, saya sempat lupa dengan kendala di kota-kota besar di Indonesia.
Hasil pengamatan Prof. Bp menarik juga tentang ‘acoustics spaciality’ di lingkungan hutan, karena dengan bekal ilmunya kita dapat memahami kekayaan budaya Alat Musik Tradisional Nusantara. Sehingga dapat dipahami dan dapat dimasuki oleh disiplin ilmu lainnya. Sehingga alat musik kita dapat disalamatkan secara utuh.
Kalau konser jangan lupa undangan (freepass)nya ya..
nanti juga anda saya undang lagi ke Kampus lho.. pasti
Tulisan ini saya buat di Note nya Facebook… jadi ini adalah copy-paste nya..
Bagi beberapa orang pembaca, judul di atas mungkin dipersepsikan atau dirasakan aneh dan tidak ada relevansinya, kenapa? Subjek dari judul tersebut, meskipun tidak dituliskan, tentunya adalah orang, apakah itu penulis, pembaca atau siapa saja. Predikatnya menunjukkan aktifitas yang berhubungan dengan kemampuan salah satu indra manusia yaitu telinga, sementara objeknya (yang umum dipahami orang, apalagi oleh para arsitek) berhubungan dengan kemampuan indra penglihatan yaitu mata. Jadi namppaknya tidak ada keterkaitan antara predikat dengan objeknya, apakah memang demikian..?
Dalam keadaan sadar, maksudnya tidak dalam kondisi tidur apalagi pingsan, bagi yang memiliki indra pendengaran yang normal maka kita dapat mendengar suara2 yang sampai ke telinga kita. Disini, kita tidak mempermasalahkan dulu tentang kualitas suara2 tersebut dari sisi fisikanya, namun yang terpenting bahwa suara2 itu sampai ke telinga kita. Kemudian, kita perhatikan posisi dimana kita berada, apakah itu di dalam ruangan/bangunan atau di luar ruangan/bangunan, namun satu hal yang pasti,kita pasti berada pada suatu ruang yang riil. Selanjutnya coba kita perhatikan dengan baik salah satu suara yang kita dengarkan itu, lalu perhatikan dari mana sumber suara itu berasal. Sebagai contoh yang sederhana, coba kita (hanya) perhatikan suara yang berasal TV yang ada di kamar tengah (misalnya). Dari posisi tempat duduk kita, maka kita dapat mendengarkan TV itu secara langsung sesuai dengan arah pandangan mata kita ke TV itu. Apakah kita hanya mendengarkan suara langsung dari TV saja? Ternyata tidak, karena sesuai dengan sekuensial waktu yang pendek (dg ukuran mikro sampai mili detik) kita juga mendengarkan suara pantulan yang diakibatkan oleh bidang pembatas ruang, misalnya dinding,lantai, langit2 dan juga benda2 yg ada di ruangan tersebut. Disamping itu juga, telinga kita juga menerima pantulan berulang-ulang yang diakibatkan oleh permukaan ruang itu. Suara yang terakhir ini sering disebut dengan suara dengung. Nach, kombinasi dari suara pantulan dan juga suara dengung itulah yg merupakan ‘response suara’ dari ruang itu. Perlu diketahui bahwa response ruang ini tergantung kepada volume, luas ruang dan juga karakteristik akustik dari material2 permukaan ruang itu.
Secara umum, kombinasi suara2 itulah yang memberikan impresi terhadap arti dari suara yg akhirnya terdengar oleh telinga kita. Pertanyaan yang sering muncul adalah sejauh mana kita memiliki kemampuan untuk membedakan ‘response suara dari ruang’ itu. Untuk memahami hal ini, pada perangkat audio yang biasa dipakai untuk karaoke ada suatu fungsi yang sering disebut echo dan reverb. Dengan fasilitas ini kita semdiri dapat mencoba sejauhmana kita bisa membedakan nilai echo dan reverb itu. Disamping itu, dengan sarana inipun kita dapat mengetahui kondisi echo & reverb mana yang secara subjektif memenuhi selera subjektif kita sendiri. Bisa dipastikan bahwa hampir setiap orang akan memilih echo & reverb yang tidak berharga nol (atau tanpa echo & reverb). Hal ini menunjukkan bahwa untuk menghasilkan suara yang baik (secara umum dan bersifat subjektif) kita akan memerlukan echo & reverb itu, atau dengan kata lain kita ‘memerlukan ruang’. Dengan demikian, dapatlah dipahami bahwa kita tidak hanya dapat melihat ruang, tapi kita dapat mendengarkan ruang.
Bagaimana dengan ruang anda sekarang..? Apakah anda dapat mendengarkan ‘response suara’nya itu..? Mungkin… kalau untuk ruang di rumah kita sendiri kita tidak terlalu memperhatikannya, tapi kalau kita perhatikan betul maka kita dapat membedakan suara di dalam ruang tidur, ruang tengah atau di kamar mandi (mungkin ini adalah ruang ‘favorit’ anda untuk bersenandung atau menyanyi). Bagi yang memiliki apa yg populer saat ini dengan sebutan ‘home theatre’ tentu dapat memahami arti dari ‘response suara’ dari ruang itu. Dan sering juga terjadi kalau pemilik ‘home theatre’ itu tidak puas dengan kondisi akustik ruang home theatrenya itu. Hal ini terjadi karena adanya ‘cacat’ akustik sebagai akibat tidak tepatnya ruang itu dibuat.
Selanjutnya, bagi ruang ditempat kerja dan juga ruang yang bersifat publik, hal yang sama juga terjadi, misalnya di sekolah, kampus, kantor, ruang rapat, auditorium, gedung olah raga, gedung kesenian dan sebagainya. Pada semua ruang itu juga terdapat ‘response suara’ dari ruang itu masing2, dan hal ini ’sering’ terabaikan ketika membuat ruang itu. Apakah perancang ruang itu tidak tahu akan hal itu, saya yakin jawabannya adalah tidak, karena perancang ruang atau arsitek pd umumnya mempelajari hal ini ketika kuliah dulunya. Mungkin persoalan utamanya adalah karena kurangnya perhatian kita kepada kondisi alami yang ada dilingkungan kita sendiri baik di dalam atau di luar ruang.
Yang akhirnya kita alami adalah pada kondisi tertentu secara langsung maupun tidak langsung kita dirugikan oleh ‘ke-kurang perhatian’ kita itu. Sebagai contoh, kita ’sering’ tidak sadar bahwa anak kita yg bersekolah di sekolah yang terletak dipinggir jalan yang ramai, tidak dapat menerima pelajaran yg diberikan secara utuh, dan hal ini ’sering juga’ kita anggap biasa. Banyak contoh lain yang bisa kita temukan di dalam keseharian kita berada di suatu ruang (terbuka atau tertutup dan juga di dalam atau di luar ruangan).
Silahkan anda ‘dengarkan’ sendiri ruang anda..
Komentar & Response
Betul sekali Pak Saptono, pendengaran kita tidak memiliki kemampuan untuk mengenali bentuk ruang/benda yang biasa kita nyatakan dengan 3 dimensi. Hal ini diakibatkan oleh perbedaan faktor dimensi untuk … Read Morepenglihatan (3 dimensi untuk ruang dan 1 dimensi utk waktu), sementara pada pendengaran dimensi untuk ruang hanya ada satu sementara 3 dimensi dinyatakan dengan waktu.
Pada kehidupan alami & nyata, kedua indra ini mesti sinkron dan selaras (tentunya pd orang normal), shg menafikkan salah satunya akan menimbulkan dampak ‘ketidak nyamanan’. Sebagai contoh, jika kita mendengarkan musik melalui headphone, maka ruang yg kita dengarkan terputus dengar ruang riilnya. yg terdengar oleh kita adalah ‘ruang virtual’ yg tertanam didalam rekaman musiknya (dan ini diciptakan oleh ’sound engineer’ ketika proses rekaman dilakukan).
Yg kedua, kalau tidak ada udara, kita tidak bisa mendengar apa2 Pak, karena medium penjalaran suara itu sebelum sampai ke telinga kita adalah udara.
Memang sbgi ilmu terapan, asitektur identik dgn ruang dan bentuk. Belum bnyk yg bicarakan kaidah waktu. Mungkin kaidah arsitektur Feng Shui sdh melakukannya. Sementara suara merambat melalui ruang dan mencapai telinga kita dlm hitungan waktu rambat. Dgn demikian argumen ttg ruang yg bisa didengar, masuk akal dan bisa diterima. Sementara seringkali arsitek selama masa belajarnya “sering kabur” krn kalau belajar soal ini selalu identik dgn matematika + fisika, hal yg sering dikhawatirkan oleh anak-anak, orang tua, termasuk arsitek ! He he he >_<
Ada nggak ya Pak, buku / cara praktis ttg menghitung hal ini di Gramedia ? Sbb majalah yg sering saya beli biasanya cuma bicara ttg terapannya saja, tapi jarang yg ada rumus praktis ttg hal ini, atau kalau ada koq ya rumit yaa ? Atau sy yg telmi ? Malah biasanya cuma ttg estetika ruang karaoke & home theater dgn pendekatan jual barang elektronik doang tuh.
Terima kasih bnyk wawasan akustik saya bnyk terbuka setelah baca bbrp Notes Bpk.
Betul sekali Andora, memang yang dimaksud itu adalah ‘impulse response ruangan’ yang bisa dinyatakan & diukur dengan satu channel microphone. Namun, untuk menyatakan kualitas akustik ruangan kita membutuhkan secara total empat faktor utama berupa faktor temporal, … Read Morespektral dan spatial. Komponen spatial yang diterima oleh pendengar mesti dinyatakan dengan response binaural memanfaatkan 2 channel microphone & dummy head. Disamping itu, karakteristik sinyal dari sumber suara juga menentukan dan hal ini yg menyebabkan perbedaan ‘preferensi’ terhadap ‘Sub-sequent reverberation time’ yang berbeda untuk keperluan ’speech’ dan ‘musik’. Semua aspek itu berada di luar ‘inner space’ dari penerimanya yaitu ‘human’..
Gammatte kudasai ne..
For me… i still work and develop all my senses…
mohon kliik: http://arungmaya.blogspot.com/2009/04/nano-memory.html untuk kejelasan maksud saya
Besaran ini diyakini bersifat seperti ‘repetitive feature’ yg ada di dlm sinyal suara itu sendiri, dan dalam bentuk seperti ini tersimpan di dalam memory otak manusia.
Kombinasi antara adanya memory pd otak dan ‘trigger’ akibat TauEE ini, misalnya dapat menyebabkan manusia dapat mengenali ungkapan kalimat dari pembicara meskipun ungkapan belum selesai disampaikan. Hal yg sama tidak akan dapat dilakukan ketika kita mempelajari bhs yg baru. krn di memory kita belum tersimpan.. Demikian juga halnya ketika kita mendengarkan musik atau suara2 dr lingkungannya yg biasa didengarkannya..
Satu hal lagi, adanya ‘repetitive feature’ pd sinyal speech atau musik yang berbeda-beda ini menyebabkan terjadinya kebutuhan akan kondisi akustik ruang yang berbeda-beda.. Dan hal ini, tidak sepenuhnya dapat diatasi dengan memanfaatkan sistem tata suara. Oleeh karena itu, jika ada ‘vendor’ sound system yg menyatakan bahwa systemnya dapat mengatasi semua dampak akustik ruang, itu berarti vendor tsb ‘menipu’ anda agar membeli produknya..
Nilai IACC ditentukan oleh adanya impulse response di telinga kiri & kanan, akibat adanya ruang – termasuk semua karakteristik akustik dari seluruh permukaan ruang, dari satu sumber suara.
Dengan demikian, sekuensial waktu dari sinyal beserta nilai energinya merupakan komponen utama dari nilai IACC. Satu hal lagi, IACC harus dihitung dengan memanfaatkan karakteristik spektral telinga manusia, maka dipakailah ‘weighting network A’ – dBA. Dengan demikian dapat dipahami bahwa IACC sangat tergantung kepada kondisi akustik ruangan, independen terhadap karakteristik sinyal yg dihasilkan oleh sumber.
Permukaan difus (secara akustik) akan menentukan karakteristik energi sekuensial yg sampai ke kedua telinga. Penempatan & karakteristik permukaan difus (mis. Schroeder diffusor sampai BAD panel) sangat menentukan apakah IACCnya akan turun, tetap atau malahan naik. Perlu jg dipahami, diffusor memiliki karakteristik akustik yg cukup unik, meskipun typenya sama jika dipasang dg cara berbeda akan menghasilkan ’sound field’ yg berbeda. Karena itu, ’salah besar’ kalau mencoba memanfaatkan design instalasi difusor disatu ruang kemudian di’copy paste’ di site yg lain.
Satu ‘hint’ yang cukup aplikatif : Nilai IACC sangat dipengaruhi oleh kondisi akustik permukaan dinding pada ‘bidang dengar’- bidang horisontal antara telinga & sumber.… Read More
Mdh2an bisa cukup menjawab ya.. Ismail..
Salam utk Pak Paul ya…;-)
Artikel yang diangkat oleh koran Kompas membuat saya berbangga bahwa sebenarnya banyak anak bangsa yang cukup kreatif, inovatif disamping juga mampu melihat potensi keunggulan dari ‘kearifan lokal’ yang dimiliki oleh bangsa ini..
Mari teman2.. kita kontribusi secara riil kepada Bangsa ini.. sekecil apapun itu..
Salam..
Joko Triyono, Guru Pencipta Virtual Gamelan
KOMPAS/MADINA NUSRAT
Sabtu, 21 Maret 2009 | 03:27 WIB
MADINA NUSRAT
Esensi nilai suatu permainan sejatinya tak perlu hilang, tetapi medianya bisa berubah. Prinsip itulah yang menjadi dasar pijakan bagi Joko Triyono dalam menciptakan program virtual gamelan di komputer yang menjadi media pembelajaran kesenian di SMA Negeri Prembun, Kebumen, Jawa Tengah. ”Medianya yang berubah, dari alat gamelan asli ke komputer,” ucapnya.
Virtual gamelan buatan Joko, guru kesenian di SMA Negeri Prembun itu, menarik. Permainan gamelan yang biasanya menggunakan alat musik gamelan yang berbentuk besar dan membutuhkan ruangan luas dia pindahkan ke program Flash Macromedia berukuran 3,5 megabyte.
Alat yang dibutuhkan cukup laptop atau komputer kerja dan tempat untuk memainkannya pun bisa menggunakan meja belajar.
Program virtual gamelan itu bisa dibawa ke mana saja dengan menyimpannya dalam kartu memori, seperti di USB flash disc yang besarnya cuma seruas jari. Orang tak perlu repot membawa seperangkat gamelan untuk memainkan karawitan.
Menurut Joko, program itu menolong siswa untuk mengembangkan minat dan kemampuan mereka membangun kerja sama. Terlebih, program virtual gamelan itu berbasis komputer yang digandrungi para remaja. Utamanya untuk permainan virtual, seperti game online yang sudah menjamur sampai ke desa.
Kegandrungan remaja pada permainan virtual telah mengubah perilaku mereka menjadi lebih individual. Kaum muda menjadi kurang diasah kemampuan bermain atau kerja sama dalam kelompok.
Namun, dengan virtual gamelan kaum muda tetap bisa mengikuti permainan berbasis komputer yang lebih mengandalkan keterampilan jari. Bersamaan dengan itu, mereka pun belajar bekerja sama dengan teman satu kelompok karena harmonisasi musik dalam karawitan hanya bisa tercipta lewat kerja sama kelompok.
Sejak 2006
Sebetulnya Joko sudah memperkenalkan virtual gamelan sejak tahun 2006. Ciptaannya itu berhasil menggondol medali perak dan perunggu untuk karya cipta guru yang diselenggarakan Departemen Pendidikan.
Namun, karena Joko tak memublikasikan ciptaannya secara luas, karyanya itu kurang dikenal. Sejak 2007 sampai kini ia bersama siswanya baru tiga kali tampil memainkan orkestra karawitan virtual gamelan. Itu pun hanya di Semarang.
Alasannya, pihak sekolah ingin agar program musik tradisional versi digital itu dapat digunakan semaksimal mungkin untuk pengembangan bakat siswa.Alasan lain, kata Joko, ia belum memperoleh perangkat lunak dengan harga terjangkau untuk melindungi ciptaannya dari pembajakan.
Pernah seorang kolega menawarkan perangkat lunak itu, tetapi harganya mencapai Rp 3 juta. ”Saya belum mampu kalau sampai Rp 3 juta. Nanti saja, menunggu kalau ada yang lebih murah,” katanya .
Ketertarikan Joko menciptakan virtual gamelan berawal dari rasa prihatin terhadap kendala klise pengadaan perangkat gamelan di sekolah yang selalu terbentur pada keterbatasan dana pendidikan.
”Padahal, kita tahu, gamelan merupakan bagian dari kurikulum. Namun, murid tak bisa memainkannya karena tak ada alatnya,” tuturnya.
Dalam tiga bulan
Joko dan istrinya, Sri Jatmawati, pada awal 2006 mencoba merekam semua alat musik karawitan dalam versi digital. Peralatan gamelan yang digunakan merekam dia pinjam dari sekolah dasar di dekat rumahnya di Desa Kabekelan, Kecamatan Prembun, Kebumen, Jateng.
Perekaman suara dilakukan satu per satu. Joko dan istrinya serius melakukan pekerjaan ”besar ” ini. Perekaman suara instrumen alat musik karawitan itu bisa selesai dalam tiga bulan.
Keterampilan Joko di bidang multimedia mendukung misinya merekam semua alat musik karawitan ke dalam versi digital hingga menghasilkan virtual gamelan dalam program Flash Macromedia.
”Saya memang suka utak-atik program komputer. Terlebih karena multimedia memberikan ruang cukup luas untuk kegiatan apa saja,” katanya .
Dalam penyusunan program tersebut, Joko melalui dua tahap. Program itu disusun atas beberapa materi, yakni perbandingan musik, partitur pelog dan slendro, permainan gamelan yang dinamai orkestra, serta kuis gamelan yang dinamai game. Ukuran program yang terbuat pun mencapai 8 megabyte.
Karya pertama dia itulah yang diajukan dalam lomba karya cipta guru Depdiknas pada pertengahan 2006 dan meraih medali perunggu.
Namun, karena mulai banyak kalangan yang tertarik dengan ciptaannya, Joko kemudian menyederhanakannya menjadi sebuah program musik tradisional karawitan dengan hanya memuat materi orkestra dan game. Program virtual gamelan buatannya itu hanya berukuran 3,5 megabyte atau sekitar separuh lebih kecil dari program buatan Joko yang pertama.
”Penyederhanaan ini juga saya lakukan supaya materi yang ditampilkan tidak terlalu rumit. Yang terpenting, anak-anak tetap bisa bermain gamelan dan mengenal gamelan lewat game,” ujarnya.
Kolintang dan angklung
Joko juga tengah ditugaskan Depdiknas untuk mempelajari dan mentransfer permainan musik tradisional kolintang dan angklung ke dalam programmultimedia. Sementara itu, hampir setiap minggu dia juga sibuk memberikan ceramah pada sejumlah seminar di Yogyakarta dan beberapa kabupaten di Jateng terkait pembelajaran lewat multimedia.
Selain mengembangkan permainan alat musik tradisional, ia juga aktif mengembangkan beberapa materi pembelajaran dalam program multimedia. Joko sudah menciptakan lima program pembelajaran multimedia untuk pelajaran Biologi, Sosiologi, Geografi, tata surya, dan proses letusan gunung berapi.
Semua program itu menampilkan visualisasi dari setiap materi pelajaran yang selama ini hanya bisa diperoleh lewat bacaan. ”Banyak hal abstrak dari setiap materi pelajaran yang perlu divisualisasikan sehingga siswa tak salah tafsir,” katanya.
Meski semua hasil karyanya sudah dipatenkan, lagi-lagi karena keterbatasan dana untuk membeli perangkat lunak guna melindungi ciptaannya dari pembajakan, Joko belum bersedia memublikasikan karyanya kepada masyarakat luas.
”Sementara ini biar program ciptaan saya itu dipakai untuk anak didik saya saja,” ucapnya .
Joko berharap kendala yang dihadapinya itu menjadi perhatian Pemprov Jateng. Ini agar pendidikan di Jateng tidak lagi mengalami kekurangan prasarana.
Tulisan di Harian Pikiran Rakyat
Sabtu, 04 Oktober 2008
Degung di Amerika
KETIKA saya mendapat undangan dari beberapa universitas di Amerika dan Kanada untuk mengajar gamelan (dari awal Maret hingga akhir Mei 2008), maka yang terpikir harus dipersiapkan adalah lagu atau gending dalam gamelan pelog atau salendro. Tetapi ketika kontak terus berlangsung, dalam rangka persiapan untuk kegiatan itu, mulailah terbuka, bahwa selain mempersiapkan lagu-lagu dalam gamelan pelog salendro, baik untuk lagu tradisi atau komposisi baru, mereka juga meminta untuk diajarkan lagu-lagu dalam gamelan degung. Sejenak agak kaget juga, karena setahu saya hanya di Universitas Santa Cruz California yang mempunyai gamelan degung. Lebih kaget lagi, selain mempersiapkan lagu- lagu degung klasik, mereka juga meminta diajarkan lagu-lagu degung perkembangan, bukan saja untuk perbendaharaan lagu bagi para mahasiswa, tetapi juga untuk dipertunjukkan.
Tentu bukan masalah untuk menyiapkan lagu degung, karena buku tentang lagu degung klasik, yang disusun oleh Juju Sa`in atau Encar Carmedi, sudah lama ada. Tetapi untuk mempersiapakan lagu-lagu degung perkembangan, saya sendiri cukup repot menulis notasinya, karena belum ada bukunya. Kalaupun satu dua saya pernah mencipta untuk lagu degung perkembangan, saya sendiri jarang menulis notasinya, atau lupa menyimpannya, terutama kreasi tabuh gendingnya.
Sesuai dengan jadwal, awal Maret 2008 saya datang ke Amerika. Pertama ke Bates College di Maine Portland. Di sana ada Gina Fatone yang mengajar gamelan. Saya kenal Gina waktu dia masih menjadi mahasiswa Santa Cruz California pada 1990. Dia pemain gamelan yang baik, dan pernah datang ke Bandung untuk mempelajari karawitan Sunda. Di sini saya mengajar dan mempersiapkan materi untuk pertunjukan, antara lain komposisi baru dalam gamelan salendro, iringan tari, dan degung. Selama dua minggu, mereka benar-benar berlatih dengan tekun, dan hasilnya pun mendapat sambutan yang baik dari penonton. Read the rest of this entry »
Berita di Suara Merdeka Cybernews
17/12/2008 23:25 wib – Daerah Aktual
UGM Rintis Pengembangan Local Genius
Yogyakarta, CyberNews. UGM tengah merintis pengembangan kearifan lokal (”local genius”) masyarakat Indonesia yang terancam punah dan tergerus dengan budaya dan teknologi asing. Padahal keragaman dan kearifan nenek moyang dalam hal teknologi terapan sudah terbukti dengan berdirinya bangunan mahakarya seperti Borobudur, Prambanan serta rumah adat dari seluruh nusantara.
”Kita khawatir kearifan lokal masyarakat akan punah, sehingga kita perlu identifikasikan kembali,” kata Ketua Panitia Seminar Nasional ”Peran Pendidikan Tinggi dan Pimpinan Daerah Dalam Mengembangkan Local Genius” Dr Supra Wimbarti MSc di Sekolah Pascasarjana UGM.
Supra menambahkan masyarakat Indonesia sangat kaya dengan ”local genius” seperti tata cara mulai bercocok tanam, kekuatan suatu kapal, pengobatan tradisional, perwatakan, nasib, siasat hidup atau menjaga harmoni dengan sekitar. Untuk itulah, acara seminar nasional itu nantinya akan berusaha untuk mengidentifikasi ”local genius” dari berbagai daerah dengan ranah ilmu pengetahuan yang melibatkan berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
”Berbagai perguruan tinggi ini bersama UGM ingin berusaha untuk bisa mengidentifikasi ”local genius” tersebut dari berbagai ranah ilmu pengetahun,” katanya.
Lebih lanjut dikatakan kearifan lokal daerah atau suku di Indonesia sudah lama berkembang dan sudah dipakai dalam kehidupan sehari-hari di daerah-daerah. ”Local genius” itu sangat bermanfaat meningkatkan keluhuran bangsa namun belum terwadahi dalam ilmu atau teknologi tertentu. Padahal, kearifan lokal tersebut lahir dan berkembang di masyarakat dalam kurun waktu yang sudah amat lama, dari puluhan, ratusan dan bahkan ribuan tahun dalam bentuk artefak yang masih ada.
Pemeliharaan kerifan lokal itu sangat bergantung dengan kebiasaan masyarakat yang kental bertutur. Praktek kebiasaan bertutur itu diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dengan bahasa tutur. Sehingga sebagian masih ada yang melestarikan kearifal lokal itu dalam bentuk artefak tertulis pada lontar dalam bentuk narasi dengan bahasa kuno, namun juga tidak sedikit yang meninggalkannya. ”Hanya 20 persen yang masih melestarikannya,” ujarnya.
Seminar yang melibatkan peserta dari kalangan ilmuwan dari beberapa perguruan tinggi dari Pekanbaru, Bandung, Malang, Jember, Yogyakarta hingga Kendari, menghadirkan pembicara palar antropolog UGM Prof Dr Irwan Abdullah, Bupati Bantul Idham Samawi, Prof Dr I Wayan Rai (ISI Denpasar), Dr Hermanu Triwidodo (IPB), Dr Jaka Sasmita (praktisi kesehatan) serta Dr Komang Merthayasa (ITB).
(Bambang Unjianto /CN08)
http://www.gadjahmada.edu/index.php?page=rilis&artikel=1683
Rilis
UGM RINTIS PENGEMBANGAN LOCAL GENIUS
Universitas Gadjah Mada tengah merintis pengembangan kearifan lokal (local genius) masyarakat Indonesia yang terancam punah dan tergerus dengan budaya dan teknologi asing. Padahal Keragaman dan kearifan nenek moyang dalam hal teknologi terapan sudah terbukti dengan berdirinya bangunan mahakarya seperti Borobudur, Prambanan serta rumah adat dari seluruh Nusantara.
“Kita khawatir kearifan lokal masyarakat akan punah, sehingga kita perlu identifikasikan kembali,” kata Ketua Panitia Seminar Nasional ‘Peran Pendidikan Tinggi dan Pimpinan Daerah dalam Mengembangkan Local Genius’, Dr. Supra Wimbarti M.Sc, di Sekolah Pascasarjana UGM, Senin (15/12).
Supra menambahkan masyarakat Indonesia sangat kaya dengan local genius seperti tata cara mulai bercocok tanam, kekuatan suatu kapal, pengobatan tradisional, perwatakan, nasib, siasat hidup atau menjaga harmoni dengan sekitar. Untuk itulah lanjut Supra, acara seminar nasional ini nantinya akan berusaha untuk mengidentifikasi local genius dari berbagai daerah dengan ranah ilmu pengetahuan yang melibatkan berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
“Berbagai perguruan tinggi ini bersama UGM ingin berusaha untuk bisa mengidentifikasi local genius tersebut dari berbagai ranah ilmu pengetahun,” katanya.
Lebih lanjut Supra mengatakan Kearifan lokal (Local Genius) daerah atau suku di Indonesia sudah lama berkembang, dan sudah dipakai dalam kehidupan sehari-hari di daerah-daerah. Local Genius ini sangat bermanfaat meningkatkan keluhuran bangsa namun belum terwadahi dalam ilmu atau teknologi tertentu. Padahal, kearifan lokal ini lahir dan berkembang di masyarakat dalam kurun waktu yang sudah amat lama, dari puluhan, ratusan dan bahkan ribuan tahun dalam bentuk artefak yang masih ada.
Pemeliharaan kerifan lokal ini sangat bergantung dengan kebiasaan masyarakat yang kental bertutur. Praktek kebiasaan bertutur ini ujar Supra diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya denga bahasa tutur. Sehingga sebagian masih ada yang melestarikan kearifal lokal tersebut dalam bentuk artefak tertulis pada lontar dalam bentuk narasi dengan bahasa kuno. Namun juga tidak sedikit yang meninggalkannya.
“Hanya 20 persen yang masih melestarikannya,” katanya
Supra wimbarti menyebutkan beberapa kearifan lokal yang kini masih ada di indonesia seperti di daerah Sumatera Barat dengan praktek Rimbo Larangan, Banda larangan dan Mamutiah Durian adalah praktek untuk melestarikan hutan, pangan dan perikanan agar masyarakat setempat dapat hidup dengan nyaman. Ada pula Dalihan Na Tolu, merupakan kearifan Batak dalam tatanan kehidupan bermasyarakat.
Di Jawa, kearifan yang dimiliki masyarakatnya yang memiliki imajinasi tentang bentuk bintang seperti Waluku, Wuluh, Kalapa, Doyong, Sapi Gumarang, Gubug penceng yang banyak dikaitkan dengan aktivitas sehari-hari seperti penentuan waktu bercocok tanam, navigasi, kalender dan sebagainya.
Tidak hanya itu, tambah Supra, hasil-hasil peninggalan kearifan kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya, Majapahit, Bone, Mataram yang masih tetap dipraktekkan dan relevan untuk diteruskan, Namun karena pengawetan, pengarsipan dan penurunana kearifan ini dari satu generasi ke generasi yang lain masih lemah, sehingga menjadi tugas perguruan tinggi untuk merevitalisasikannya
“Karena itu, UGM mengajak ilmuwan dari kampus-kampus lain di Indonesia untuk bersama-sama mengidentifikasi, meneliti, menyebarkan kembali kepada masayarakat dan bersama dengan pemerintah daerah masing-masing melestarikannya,” ujarnya.
Seminar yang melibatkan peserta dari kalangan ilmuwan dari beberapa Perguruan Tinggi dari pekanbaru, Bandung, Malang, Jember, Yogyakarta hingga Kendari, menghadirkan pembicara P Antropolog UGM Prof Dr Irwan Abdullah, Bupati Bantul Idham Samawi, Prof Dr I Wayan Rai dari ISI Denpasar, Dr Hermanu Triwidodo dari IPB, Dr Jaka Sasmita praktisi kesehatan serta Ir Komang Merthayasa dari ITB.

Antropolog UGM Prof Dr Irwan Abdullah UGM mengatakan, perlu dilakukan penggalian secara seksama sumber-sumber dan produk dalam negeri, baik berupa pengetahuan lokal maupun kearifan lokal dalam pengelolaan sumberdaya, ataupun produk lokal yang mampu mendukung kebutuhan masyarakat dalam rangka menciptakan kemandirian dan dan daya saing bangsa.
“Kearifan lokal perlu diberdayakan atau dikembangkan agar bangsa kita lebih mandiri dan mamapu keluar dari kemelut dan perangkap rejim kapitalisme yang ekpansif,” katanya.
Selain itu, tambah Irwan abdullah, kearifan lokal yang perlu dikaji oleh para ilmuwan diantaranya gaya kepemipinan lokal di berbagai daerah terutama di daerah bekas-bekas kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya, Majapahit, Bone, Mataram dan sebagainya untuk dikombinasikan guna menghasilkan gaya kepemimpinan nasional.(Humas UGM/Gusti Grehenson)
http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=8854&Itemid=821
UGM Rintis Pengembangan Local Genius |
| 18-12-2008 | |
|
Yogyakarta, CyberNews. UGM tengah merintis pengembangan kearifan lokal (”local genius”) masyarakat Indonesia yang terancam punah dan tergerus dengan budaya dan teknologi asing. Padahal keragaman dan kearifan nenek moyang dalam hal teknologi terapan sudah terbukti dengan berdirinya bangunan mahakarya seperti Borobudur, Prambanan serta rumah adat dari seluruh nusantara.
”Kita khawatir kearifan lokal masyarakat akan punah, sehingga kita perlu identifikasikan kembali,” kata Ketua Panitia Seminar Nasional ”Peran Pendidikan Tinggi dan Pimpinan Daerah Dalam Mengembangkan Local Genius” Dr Supra Wimbarti MSc di Sekolah Pascasarjana UGM.
Supra menambahkan masyarakat Indonesia sangat kaya dengan ”local genius” seperti tata cara mulai bercocok tanam, kekuatan suatu kapal, pengobatan tradisional, perwatakan, nasib, siasat hidup atau menjaga harmoni dengan sekitar. Untuk itulah, acara seminar nasional itu nantinya akan berusaha untuk mengidentifikasi ”local genius” dari berbagai daerah dengan ranah ilmu pengetahuan yang melibatkan berbagai perguruan tinggi di Indonesia. ”Berbagai perguruan tinggi ini bersama UGM ingin berusaha untuk bisa mengidentifikasi ”local genius” tersebut dari berbagai ranah ilmu pengetahun,” katanya. Lebih lanjut dikatakan kearifan lokal daerah atau suku di Indonesia sudah lama berkembang dan sudah dipakai dalam kehidupan sehari-hari di daerah-daerah. ”Local genius” itu sangat bermanfaat meningkatkan keluhuran bangsa namun belum terwadahi dalam ilmu atau teknologi tertentu. Padahal, kearifan lokal tersebut lahir dan berkembang di masyarakat dalam kurun waktu yang sudah amat lama, dari puluhan, ratusan dan bahkan ribuan tahun dalam bentuk artefak yang masih ada. Pemeliharaan kerifan lokal itu sangat bergantung dengan kebiasaan masyarakat yang kental bertutur. Praktek kebiasaan bertutur itu diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dengan bahasa tutur. Sehingga sebagian masih ada yang melestarikan kearifal lokal itu dalam bentuk artefak tertulis pada lontar dalam bentuk narasi dengan bahasa kuno, namun juga tidak sedikit yang meninggalkannya. ”Hanya 20 persen yang masih melestarikannya,” ujarnya. Seminar yang melibatkan peserta dari kalangan ilmuwan dari beberapa perguruan tinggi dari Pekanbaru, Bandung, Malang, Jember, Yogyakarta hingga Kendari, menghadirkan pembicara palar antropolog UGM Prof Dr Irwan Abdullah, Bupati Bantul Idham Samawi, Prof Dr I Wayan Rai (ISI Denpasar), Dr Hermanu Triwidodo (IPB), Dr Jaka Sasmita (praktisi kesehatan) serta Ir Komang Merthayasa (ITB). (Bambang Unjianto /CN08) |














Komentar Terakhir