You are currently browsing the category archive for the 'Acoustic' category.
Sendratari Ramayana Tampil di Lebanon
JAKARTA, KOMPAS.com–Kedutaan Besar RI di Beirut, Lebanon, menampilkan Sendratari Ramayana dan aneka musik tradisional Indonesia di beberapa kota di Lebanon dalam pagelaran bertajuk “Malam Indonesia”.
Siaran pers KBRI Beirut yang diterima ANTARA di Jakarta, Kamis, menyebutkan, para seniman yang akan tampil dalam sendratari tersebut berasal dari Yogyakarta, dan diperkuat para staf KBRI Beirut, mahasiswa, dan prajurit TNI di UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon).
Acara tersebut diselenggarakan untuk memeriahkan peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke-64, pada 17 Agustus 2009.
Para penari Lebanon yang tergabung dalam Friends of Indonesia (Teman-Teman Indonesia) juga ikut berkolaborasi dalam itu.
Penampilan dimulai 8 Agustus 2009 di UNESCO Palace. Beirut mengundang sekitar 1.000 penonton dari semua kalangan di Lebanon.
UNESCO Palace merupakan balai pertunjukan berkapasitas 1.500 tempat duduk, lengkap dengan peralatan panggungnya. Tempat ini sering digunakan untuk pementasan seni-budaya, drama dan hiburan yang biasa dibawakan oleh artis tersohor dari berbagai negara.
Pada 11 Agustus 2009, tim kesenian dengan hampir 70 pemain ini akan manggung di hadapan pasukan penjaga perdamaian PBB di daerah perbatasan Lebanon-Israel.
Pada kesempatan ini, pelawak Tarzan dan teman-temannya juga akan tampil, menghibur pejuang-pejuang perdamaian yang haus humor-humor segar Indonesia.
Tempat berikutnya yang “disambangi” tim kesenian itu adalah Bachoos Temple, sebuah candi bekas reruntuhan kota kuno Romawi di kota Baalbeck, 2 jam perjalanan darat ke arah tenggara Lebanon. Di sana mereka akan manggung pada 15 Agustus 2009.
Menurut guru tari KBRI Beirut, Ahmad Maulana, persiapan “Malam Indonesia” terus dilakukan, tidak hanya latihan gerakan tarian, tapi juga terkait dengan urusan teknis menyeluruh.
Ia mengatakan, tim akan tampil penuh kejutan dalam atraksi berdurasi satu jam tersebut dengan memaksimalkan penggunaan teknologi pencahayaan dan sound system yang dipadu untuk mendukung karakter cerita tari.
“Lenggak lenggok penari Lebanon, yang terbiasa dengan gerakan tari salsa dan jenis hip-hop lainnya akan memperkaya dan menambah unsur surprise dalam pertunjukan nanti,” kata Ahmad Maulana yang sebelumnya aktif di grup kesenian Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.
Indonesia Maju Jika Hargai Kearifan Lokal
JAKARTA, KOMPAS.com–Indonesia dianggap dapat mengalami kemajuan jika mampu menghargai kearifan lokal dan dipimpin sosok yang mau hidup berdampingan.
Dengan dua cara itu, Indonesia dapat meraih kemajuan akan terjadi hubungan saling memuliakan, kata Pemimpin Umum Jurnal Nasional, Syamsuddin CH. Haesy dalam peluncuran bukunya di Jakarta, Kamis malam.
Menurut Syamsuddin, Indonesia memiliki banyak kekayaan alam seperti perkebunan dan pertambangan yang telah dieksplorasi berbagai berbagai pihak.
Namun, proses eksplorasi tersebut ternyata tidak membawa pengaruh yang besar terhadap masyarakat, termasuk warga yang berada di sekitarnya.
Ia mencontohkan proses eksplorasi berbagai potensi pertambangan di wilayah timur Indonesia yang sangat kaya dengan kekayaan alam seperti nikel, batubara, dan sebagainya.
Namun, diperkirakan tidak ada kearifan lokal dalam kegiatan eksplorasi itu sehingga masyarakat di sekitarnya tetap hidup dalam kemiskinan.
Selain itu, kata Syamsuddin, Indonesia juga membutuhkan pemimpin yang mau hidup berdampingan dengan lebih mengutamakan keinginan dan kepentingan rakyat.
Dengan pola hidup berdampingan itu, para pemimpin bangsa akan mampu merumuskan visi dan misi rakyat, bukan visinya dalam menjalankan pemerintahan.
Melalui perumusan itu, bangsa Indonesia hanya membutuhkan pemimpin yang mampu menjalankan visi dan misi yang ditetapkan tersebut demi kesejahteraan rakyat.
Selama ini, kata dia, pemerintahan Indonesia sering dijalankan bukan dengan visi dan misi yang dicita-citakan rakyat, melainkan dengan visi dan misi penguasa yang terkesan seperti “fantasi track”.
“Akibatnya, hidup kita selalu seperti dalam fantasi,” katanya.
Dalam acara itu, Syamsuddin CH. Haesy meluncurkan tiga buah judul buku yakni “Cawandatu di Timur Marahari”, “Platinum Track, Jalan Sukses, Jalan Ilahiyah”, dan “Indigostar, Sumber Daya Manusia Unggu; Dalam Rekacita”.
Hadir dalam peluncuran itu mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Jimly Asshiddiqie, anggota DPR, Ferry Mursyidan Baldan, seniman Putu Wijaya dan Direktur Utama Perum LKBN ANTARA, Ahmad Mukhlis Yusuf.
Pemkot Bandung Belum Serius Selamatkan Cagar Budaya
BANDUNG, KOMPAS.com–Pemeritah Kota (Pemkot) Bandung belum punya ’political will’ (keseriusan) menyelamatkan bangunan Cagar Budaya yang antara lain ditunjukkan dengan pembongkaran pemandian Cihampelas, kata Ketua Bandung Heritage, Harastoeti.
“Perda Cagar Budaya mendesak untuk segera disahkan. Karena dengan Perda, kita bisa segera menegakkan peraturan, sehingga sanksi segera dijatuhkan, dan insentif bagi pemilik segera diberikan,” kata Harasoeti, menjawab konfirmasi wartawan, di Bandung, Kamis.
Ia mengungkapkan, rencananya pembongkaran pemandian Cihampelas itu akan dibangun apartemen. Namun, dia tidak yakin apakah pembangunan itu berizin atau tidak. Jika pembangunan itu memang berizin, seharusnya ada dasar pemberian izinnya.
Menyikapi situasi tersebut, Harastoeti menganggap Pemkot seperti ’takluk’ pada developer (pengembang). Padahal semestinya developer yang tunduk pada peraturan pemerintah.
“Sepertinya, asal dipastikan ada pendapatan asli daerah (PAD) yang masuk, maka pembangunan akan dipermudah,” sesal Harastoeti.
Menurut dia, orientasi pemerintah selama ini tentang kota maju, hanyalah kota dengan pembangunan mall-nya di mana-mana. Padahal sebenarnya, kota maju adalah kota yang dapat menata kotanya dengan segala aturan yang telah ditetapkan.
“Terus terang, saya sangat menyayangkan kalau sampai pemandian Cihampelas dibongkar, apalagi sampai dibangun tempat pemukiman. Sebab, pemandian ini memiliki nilai historis yang sangat tinggi dan terhormat,” tambahnya.
Lebih lanjut, dia mengungkapkan, setahun lalu Bandung Heritage pernah diajak berbicara oleh pengembang dan pemilik pemandian tersebut.
Hanya saja, ia menegaskan, pada saat itu Bandung Heritage hanya memberikan usul dan tidak memberikan rekomendasi untuk mendirikan bangunan dengan merusak bangunan lama.
“Kami tidak pernah memberikan rekomendasi dan bahkan usul yang kami berikan pemandian tersebut jangan dihancurkan. Hal itu atas pertimbangan nilai sejarah, konservasi, dan juga beban daerah itu,” katanya.
Salah seorang warga, Ade mengungkapkan kesedihannya atas pembongkaran itu. Bagi Ade, keberadaan pemandian itu menjadi salah satu tempatnya tumbuh. “Dari kecil kita bermain di sana, sedih melihat nasibnya seperti ini,” ujarnya.
Sementara itu, salah seorang anggota panitia khusus (Pansus) Perda Cagar Budaya, Nanang Sugiri, menyebutkan, ada beberapa kategori dalam penentuan Cagar Budaya.
Kategori A ada 99 bangunan. Dengan data total 200 Cagar Budaya, walau sebenarnya jumlahnya lebih dari itu. “Harus ada penelitian ulang, jangan sampai rumah orang dijadikan Cagar Budaya. Karena itu akan ada konsekuensinya,” kata Nanang.
Untuk kategori A, jelas Nanang, semua harus dalam keadaan seperti semula, walau pernah mengalami kerusakan. Kecuali untuk kategori B dan C, itu ditentukan oleh Peraturan Walikota (Perwal). Jadi jumlah ini masih belum ditentukan, karena belum dilakukan pengkajian, katanya.
Menurut dia, rata-rata untuk kategori B dan C, milik pribadi, milik swasta, atau bangunan sudah rapuh. Untuk yang rapuh ini, sudah tidak mungkin diberikan renovasi.
“Perubahan atau renovasi dilakukan juga dengan ketat. Kecuali yang sudah rapuh dan hancur sama sekali. Tinggal Wali Kota yang menentukan akan diapakan bangunan itu,” demikian Nanang.
YGF Sukses, Masih Mengusung Semangat Bergamelan
Laporan wartawan KOMPAS Lukas Adi Prasetya
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Yogyakarta Gamelan Festival ke-14 (16-18 Juli 2009) berlangsung sukses tanpa sentuhan sang maestro, Sapto Rahardjo. Beberapa pengamat musik melihat YGF masih mengusung semangat bergamelan.
Isi perut YGF akan tergantung banyak pada Ari Wulu, putra almarhum Sapto, dan tim tujuhnya. Tim ini, tiga dari anggota keluarga, dan empat dari orang-orang kepercayaan Sapto.
Memang masih ada bayang-bayang kebesaran Sapto, tetapi proses regenerasi sudah saatnya berjalan. Memang dan harus ada saatnya YGF dipegang orang lain. Kan enggak mungkin dipegang Mbah Sapto terus. Justru saya melihat sekarang tahun ini regenerasi YGF dimulai. Potensi menarik, tetap ada, kata Djaduk Ferianto, musisi.
Beberapa bulan sebelum Sapto meninggal, Djaduk sempat banyak ngobrol dengan sosok itu. “Saya bilang, dalam acara budaya dan seni, seperti YGF, perlu pendanaan. Saya waktu itu usul ke Mbah Sapto, YGF perlu sponsor. Dia memang memahami, sangat malah. Tapi dia selalu bilang, ada atau tak ada sponsor, YGF harus jalan. Gila semangatnya. Tapi memang, event sekelas YGF tetap harus jalan,” ujar Djaduk.
Pemerintah mesti melihat potensi YGF untuk menyemarakkan Yogyakarta. Jangan sampai YGF, festival gamelan terbesar di dunia, yang menampung ekspresi bergamelan dari anak-anak sampai musisi nasional dan dunia, ini, kata Djaduk, terhenti karena kekurangan dana.
Djohan Salim, pemerhati gamelan yang juga Asisten Direktur Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, mengemukakan, kekuatan konsep Sapto dalam YGF adalah bisa mendudukkan dalam satu panggung, seniman-seniman serius yang menekuni gamelan, kelompok anak-anak muda yang suka musik dan menyelami gamelan dengan kreativitas sendiri, serta para pelajar yang sedang mulai mengasah keterampilan dan kegemaran bermain gamelan.
Komposisi itulah yang menjadi semangat, kekuatan, dan daya tarik YGF. Saya melihat YGF tahun ini, masih mengusung semangat itu. Namun, YGF berikutnya ya mesti terus ada semangat itu walau kemasan pertunjukan YGF bisa berbeda. “Itu tidak apa-apa. Beda pelaku, kan beda pemikiran. Yang penting YGF harus terus ada,” kata Djohan.
YGF, lanjut Djohan, juga harus bisa menarik perhatian kawula muda lebih banyak. Ia menunjuk pada Gamelan Gaul, yang diletakkan di dua hari pertama dari total lima hari penyelenggaraan YGF ke-12. Gamelan Gaul yang menampilkan aneka kreasi bergamelan dari anak muda, seperti gamelan yang berpadu dengan suara knalpot, ternyata menjadi magnet bagi anak-anak muda.

Laporan wartawan KOMPAS Indira Permanasari S
JAKARTA, KOMPAS.com – Pengembangan kesenian berbasis akar budaya dan tradisi dapat menjadi keunggulan. Jika tidak demikian, Indonesia akan selalu menjadi bayang-bayang bangsa lain, ujar budayawan Ikranegara dalam orasi kebudayaannya di acara Pagelaran Senin Cinta Tanah Air yang diselenggarakan Universitas Mercu Buana, Kamis (30/7).
Lebih lanjut dia mengatakan, terdapat dua pendekatan yakni pendekatan kreatif dan pendekatan akademis. Dalam pendekatan akademis, kesenian dimainkan seperti apa adanya atau berdasarkan pakem-pakemnya. Tujuannya, untuk melestarikan kebudayaan tersebut.
Sedangkan, dengan pendekatan kreatif, kesenian tersebut terus berkembang, walaupun tetap terlihat akar tradisinya. Wayang misalnya, mengalami perubahan-perubahan. Pengembangan oleh walisongo, misalnya, ikut membuat warna berbeda. Repetoarnya terus bertambah. Ada wayang Pancasila sampai dengan wayang wahyu yang berlatar belakang ke-kristenan. Ada kreativitas yang berkembang, walaupun tetap wayang, ujarnya.
Keanekaragaman seni tradisi dan pengembangannya dengan menggunakan pendekatan kreatif dapat menjadi kekuatan dan modal yang besar. Pengembangan itu disertai dengan penghargaan dan penghormatan terhadap seni budaya lain.
Seniman dan Budayawan Sampaikan Maklumat Juli
Laporan wartawan KOMPAS Yurnaldi
JAKARTA, KOMPAS.com – Minimnya kepedulian terhadap kebudayaan Indonesia, bahkan belum menjadi perhatian utama penyelenggara negara, membuat seniman, artis, dan entertainer bersatu dan menghasilkan mufakat budaya yang mereka sebut Maklumat Juli.
Para seniman menganggap perlu dilakukan perubahan yang substansial oleh semua pihak, baik penyelenggara negara, elite bangsa, maupun masyarakat luas.
“Menyadari kenyataan mutakhir kita sebagai bangsa juga sebagai negara yang kian dekaden, karena ketidakmampuannya memelihara dan mempertinggi harga diri, potensi, kemajuan serta kekuatan nasionalnya yang penuh sejarah, kami menganggap perlu dilakukan perubahan yang substansial oleh semua pihak, baik penyelenggara negara, elit bangsa, maupun masyarakat luas,” kata budayawan Radhar Panca Dahana, Kamis (30/7) di Jakarta.
Para seniman yang menggelar pertemuan dan merumuskan Maklumat Juli 2009 antara lain terdiri dari Sys Ns, Radhar Panca Dahana, Yockie Soeryo Prayogo, Eros Djarot, Ray Sahetapy, Embie C Noer, Alex Komang, Aspar Paturusi, dan Adi Kurdi. Di kalangan artis/entertainer tercatat antara lain Yana Julio, Slank, Glen Fredly, Maya Hasan, Ratih Sang, Iwan Fals, dan Aning Katamsi.
Menurut Radhar, kesatuan yang unik dan belum pernah terjadi ini berhasil mencapai sebuah kesimpulan, baik dalam visi, gagasan maupun tindakan. Dalam maklumat dinyatakan, perlu memperkuat daya pikir yang sehat dan jernih melawan masih kuatnya feodalisme dan mentalitas destruktif yang menciptakan kemalasan, peniruan, atau konflik sektarian.
Perlu mengeksplorasi dan mendayagunakan khasanah tradisi dan kearifan lokal yang sudah dikembangkan ribuan tahun demi menegakkan kekuatan-kultural, bukan hanya untuk mempertegas eksistensi-diri dan memperkuat kemampuan in tegrasi-diri, tapi juga sebagai posisi tawar dalam pergaulan dunia.
Berlandaskan hal itu, lanjut dia, perlu dikoreksi kembali dasar-dasar materialisme yang melahirkan liberalisme dan pada akhirnya kapitalisme yang menjerat rakyat dalam krisis hingga runtuhnya sikap keber samaan di hampir seluruh dimensi. Untuk itu, perlu menyiasati percepatan perubahan yang terjadi melalui globalisasi dan teknologi tinggi dengan disiplin, kerja keras, ketekunan, ketangguhan kompetitif, dan kerelaan berkorban.
Maka, tak terelakkan perlunya penyelenggara negara, memperkokoh dirinya dengan kepribadian yang kuat berlandaskan pada dinamika kebudayaan, dalam membuat pilihan-pilihan yang berpihak pada rakyat dan kejayaan generasi mendatang serta menjadi contoh terbaik bagi rakyat yang dipimpinnya.
Sebagai alat
Budayawan Yockie Soeryo Prayogo menambahkan, sejak digulirkannya acara debat capres-cawapres dengan para budayawan dan seniman beberapa waktu lalu, persoalan pentingnya kebudayaan dalam politik, pemerintahan atau cara kita berbangsa/bernegara kini mengisi perbincangan banyak kalangan.
Namun, keramaian itu masih bersifat kasak-kusuk. Belum menjadi fokus atau perhatian utama, apalagi oleh penyelenggara negara. “Delapan program utama pasangan Mega-Prabowo atau 15 prioritas utama kabinet SBY mendatang, satu pun tidak menyebut kata kebudayaan,” paparnya.
Yockie menjelaskan, semua memperlihatkan bagaimana kesadaran akan penting dan kuatnya peran kebudayaan dalam turut memecahkan berbagai masalah bahkan krisis kita belakangan ini, masih sangat kecil. Kebudayaan masih saja dianggap sebagai klangenan, hiburan murahan, bahkan mungkin gangguan bagi urusan politik dan ekonomi.
Dalam banyak hal, kesenian sebagai salah satu produk utama kebudayaan diposisikan hanya sebagai alat atau sumber eksploatasi kepentingan ideologi, politik, atau industri. “Karena itu, perlu bagi kita, para pelaku dan produsen kebudayaan, seperti seniman, budayawan juga para entertainer, sebagai garda-depan (avant-garde ), melakukan usaha untuk membuat kebudayaan tidak disepelekan dan dipinggirkan secara sembrono. Ini jadi genting, karena risiko jauh lebih besar menghadang kita dan generasi penerus kita, jika kita lalai, sungkan, dan mungkin sibuk dengan urusan atau sukses kita masing-masing,” katanya.
Di tempat terpisah, penyair Irmansyah menyambut baik adanya Maklumat Juli 2009 tersebut. Satu hal yang perlu disadari, kita sebagai pelaku budaya, sebagai orang yang hidup dalam dan menghidupi kebudayaan, mungkin tidak punya kekuatan alias powerless.
“Walaupun demikian bukan berarti kebudayaan menjadi tak penting dalam peradaban bangsa ini. Ke depan, wakil rakyat dan penyelenggara negara, diharapkan lebih peduli kebudayaan, sebagaimana yang dimaksudkan dalam Maklumat Juli,” ujarnya.
Pertunjukan Wayang Akan Digelar di Sebuah Mal
JAKARTA, KOMPA.com–Sebuah pertunjukan wayang kulit akan digelar di Cilandak Town Square Jakarta, Kamis (30/7), sebagai upaya mengenalkan kesenian itu kepada generasi muda dan masyarakat perkotaan pada umumnya.
“Dengan menghadirkan wayang kulit di mal, kita berharap mereka dapat memahami falsafah, nilai-nilai luhur serta tuntunan yang ada dalam cerita pewayangan tersebut,” ujar Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Jakarta Ki H Rohmad Hadiwijoyo, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa.
Rohmad, yang juga Ketua Pengurus Harian Yayasan Lontar, mengatakan, pertunjukan dilakukan oleh Yayasan Lontar dan Putrowijoyo Parwo, bekerja sama dengan Center for Development Studies (CIDES) dan Pepadi DKI Jakarta.
Ia mengatakan, cerita wayang di Cilandak Town Square adalah “Bale Segolo-golo” yang merupakan bagian dari pergelaran wayang kulit “The Bima Series”. Cerita yang akan dibawakan oleh dalang kondang Ki Joko Edan itu menggambarkan intrik politik di Astina.
Rohmad, yang juga seorang dalang, mengatakan, “Bale Segolo-golo” merupakan seri kedua dari lima seri kisah kolosal yang terangkum dalam “The Bima Series”. Seri pertama dengan lakon Bima Bungkus telah digelar di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, 24 April, dengan dalang Ki H Anom Suroto.
Seri ketiga dengan cerita Babad Wonomarto akan dibawakan Ki Manteb Soedharsono, seri keempat Wirata Parwa akan digelar bersama dalang Ki Sugito Purbocarito, dan cerita penutup Kresna Duta akan dibawakan oleh Ki Purbo Asmoro.
Rohmad mengatakan, dewasa ini ada kesan bahwa seni wayang identik dengan “barang kuno”. Hal itu tidak lain karena kelangkaan informasi dan kurangnya akses terhadap jenis kesenian ini, sehingga seni wayang kurang dipahami generasi muda khususnya, dan masyarakat luas pada umumnya.
Padahal, katanya, wayang kulit sarat dengan kearifan budaya. Bersama dengan agama, kearifan budaya merupakan sarana perekat bangsa dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Sayangnya selama ini ada kecenderungan memposisikan budaya secara keliru, sebagai objek propaganda politik dan ekonomi semata. Budaya belum dilihat sebagai komponen yang independen yang mampu memberikan kontribusi yang lebih banyak kepada masyarakat luas dan negara,” katanya.
Yayasan Lontar adalah badan usaha nirlaba pemerhati permasalahan literatur kebudayaan Indonesia. Didirikan tahun 1987 oleh beberapa sastrawan besar Indonesia seperti Goenawan Mohammad, Sapardi Djoko Damono, Umar Kayam, Subagio Sastrowardoyo, serta budayawan dari Amerika Serikat John H McGlynn.
Selain pementasan wayang, Yayasan Lontar juga akan menyiapkan paket pendidikan dan ensiklopedia wayang dalam sejumlah bahasa, yakni Prancis, Inggris, Jerman, dan Indonesia, dengan biaya sekitar Rp2 miliar. Sebagian dana yang diperlukan telah disumbangkan oleh Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), The World Bank, dan Bima Sena Mining & Energy Society.
Orang Sunda Sulit Mendapatkan Rujukan Kesundaan
TASIKMALAYA, KOMPAS.com–Orang sunda maupun orang yang bergelut di kebudayaan dan kesenian sunda dinilai sulit untuk mendapatkan rujukan tentang kesundaan.
Pernyataan tersebut diungkapan oleh budayawan juga seniman serta salah satu personel kelompok musik “Bimbo”, Acil Bimbo saat menggelar diskusi bersama dengan seniman dan budayawan sunda di gedung kesenian, Kota Tasikmalaya, Jabar, Selasa.
Menurutnya, bagi calon pemimpin dari kalangan orang sunda sulit mendapatkan rujukan tentang sejarah maupun budaya tentang kesundaan.
“Sampai kini, hanya beberapa saja buku sejarah yang membahas tentang kebudayaan sunda,” katanya.
Dijelaskannya permasalahan tersebut karena orang sunda sendiri lebih cenderung memegang budaya lisan dibandingkan budaya tulis sehingga kurang menyimpan banyak rujukan yang membahas kesundaan.
Selain itu kata Acil orang sunda dinilai kurang giat membaca sehingga sulit masyarakat sunda mengikuti kemajuan jaman yang sekarang ini semakin terus menunjukan perkembangan.
Dicontohkannya, rujukan tentang kesundaan seperti pembahasan sejarah dan asal usul Tasikmalaya sangat kurang dan sulit untuk dicari serta dibaca untuk umum.
“Coba sekarang telusuri pembahasan tentang sejarah Tasikmalaya, kita akan begitu kesulitan mencari informasi tersebut secara tertulis,” katanya.
Diterangkannya masalah tersebut harus ditanggapi serius agar menjadi referensi dan bagi masyarakat sunda bisa dipakai sebagai rujukan.
Acil menyatakan bahwa peran media massa yang diyakini mampu dalam mengembangkan dan melestarikan budaya dinilai kurang membantu terhadap pemunculan budaya daerah dalam setiap penayangannya.
“Di televisi saja saya rasa belum ada yang cenderung membahas budaya daerah termasuk sunda, yang katanya nilai jual tayangan kebudaayaan kurang diminati,” katanya.
Serunya Nonton Pekan Budaya Rusia
JAKARTA,KOMPAS.com — Dalam rangka peringatan 60 tahun hubungan bilateral antara Indonesia dan Rusia, baru-baru ini Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Federasi Rusia menggelar Pekan Kebudayaan Rusia di Indonesia.
Dalam pergelarannya di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu (29/7), puluhan seniman Rusia menampilkan berbagai bentuk kebudayaannya, seperti tarian tradisional dan kontemporer, sulap, dan pertunjukan musik.
Ratusan penonton yang hadir pun seolah terhipnotis dengan berbagai penampilan yang memukau. Seperti ditunjukkan dalam tarian tradisional Rusia yang dipadukan dengan sulap. Salah seorang penari dapat berganti kostum dengan sangat cepat hanya dengan ditutupi oleh sehelai kain.
Demikian juga pada pertunjukan musik oleh string kuartet Rusia. Kelompok musisi etnik Rusia ini mampu berkolaborasi apik dengan musik Indonesia dalam sebuah gubahan musik berjudul “Calon Arang”, yang diaransemen oleh Direktur GKJ Marsha Nainggolan.
Penonton pun makin terpukau ketika pada akhir acara, para seniman Rusia tersebut menyanyikan sebuah lagu tradisional Rusia, tetapi dinyanyikan dengan bahasa Indonesia. Karena logat yang berbeda, alhasil lagu tersebut pun jadi terdengar lucu di telinga para penonton Indonesia.
Seorang pemain akordion Rusia, Vlad Botinovsky, mengatakan, dirinya sangat senang bisa berkolaborasi dengan musisi Indonesia. Menurutnya, antara musik Indonesia dan Rusia memiliki banyak kesamaan, terutama dalam permainan alat musik ketuk. “Saya harap suatu saat nanti bisa berkolaborasi kembali dengan musisi Indonesia,” kata Vlad.
Acara bertajuk Russian Cultural Days ini digelar mulai tanggal 28-30 Juli di dua kota di Indonesia, yakni Jakarta dan Yogyakarta. Di Jakarta antara lain digelar di Taman Ismail Marzuki, GKJ, dan Pusat Perfilman Haji Umar Ismail. Sementara di Yogyakarta akan digelar di Taman Budaya. Yuk ajak keluarga menonton kebudayaan Rusia. (sunu)
DENPASAR, KOMPAS.com — Sebanyak 47 mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar mengikuti ujian akhir dan wajib menampilkan salah satu karya terbaiknya di hadapan tim dosen penguji.
“Penampilan karya terbaik tersebut dalam bentuk pergelaran karya seni pertunjukan yang melibatkan sekitar 28 sanggar seni maupun sekolah kesenian dari berbagai pelosok pedesaan di Pulau Dewata,” kata Dekan FSP ISI Denpasar Ketut Sariada, SST didampingi Ketua Panitia Pelaksana Ujian Ni Ketut Suryatini SKar MSn, di Denpasar, Sabtu.
Sariada mengatakan, ujian tugas akhir mahasiswa lembaga pendidikan tinggi seni tersebut berlangsung di kampus setempat, selama empat hari, 18-21 Mei 2009. Pergelaran ciptaan mahasiswa tersebut diikuti 15 orang dari jurusan tari, 23 orang jurusan kerawitan, dan empat orang jurusan pedalangan.
Selain itu juga dari jurusan pengkajian lima orang yang terdiri atas jurusan tari empat orang dan jurusan kerawitan seorang. Suryatini yang juga Pembantu Dekan I FSP ISI Denpasar menambahkan, mahasiswa yang mengikuti ujian akhir lewat penampilan pementasan, selain didukung sekaa kesenian dan sanggar, juga dibantu rekannya sesama mahasiswa semester enam ke bawah.
Keberhasilan mahasiswa dalam menggarap sebuah karya cipta seni, berkat bekal ilmu yang diperolehnya selama empat tahun menggeluti pendidikan di ISI Denpasar. “Kemampuannya itu diaplikasi lewat bagaimana cara mengkoordasi, berorganisasi dalam menciptakan karya,” ujar Suryatini.








Komentar Terakhir