Flamenco, Eksplorasi Gerak yang Menggairahkan
|
|
|
KOMPAS/LASTI KURNIA / Kompas Images
Penari dari kelompok Compania Flamenco La Frague tampil menggelora pada pentas Tari Flamenco di Gedung Kesenian Jakarta, Selasa (11/11) malam. Pementasan disaksikan sejumlah staf kedutaan berbagai negara yang ada di Jakarta, warga negara Spanyol yang rindu pada tarian negara mereka. |
Kamis, 13 November 2008 | 03:00 WIB
Petikan gitar Jose Manuel Tudela memecah kesunyian. Dentingan senar-senarnya seperti menyiratkan nada- nada kepedihan. Lagu-lagu spanyol yang disenandungkan Juan Luis Trinidad Angel ”El Trini” kemudian, lengkingannya begitu ”menghanyutkan” ke nuansa- nuansa kesedihan. Beberapa saat kemudian, pelan-pelan Raul Fernandez Rodriguez menapuk perkusi yang didudukinya. Sangat perkusif.
Sepasang penari, Jesus Herrera dan Lola Rodriguez, memasuki panggung. Juan Luis, sembari bernyanyi, mulai meningkahinya dengan gerakan tepukan tangan yang ritmenya menyesuaikan nada-nada pada lagu. Kadang lambat, kadang cepat, bahkan bisa cepat sekali.
Jesus dan Lola mulai menari, melakukan gerakan tangan, badan, dan kaki yang kompak. Penonton mendapat sajian kombinasi gerak tubuh dari pinggul ke atas, dan entakan-entakan sol sepatu kedua penari di lantai yang merangsang rasa irama, menghasilkan bebunyian yang rancak, seperti meniti nada naik-turun. Makin lama makin cepat. Kemudian sangat cepat, bergantian antara kaki kanan ke kaki kiri tanpa mengganggu kesinambungan suara.
Selanjutnya, tepukan tangan dan nyayian Juan Luis, dan permainan perkusi Raul yang sangat cepat, menggiring gerakan kaki penari Jesus dan Lola yang riang, jantan, flamboyan, dan ekspresif. Gerakan-gerakan yang seolah-olah menyelami nuansa kesedihan dan sedikit kegembiraan. Ketika gerakannya—mencapai klimaks—berhenti, musik pun berhenti, langsung disambut apresiasi kekaguman, dengan tepuk tangan yang meriah ratusan penonton.
Pergelaran tari flamenco dari Compania Flamenco La Fragua bertajuk Cante, Baile, Toque (Bernyanyilah, Manarilah, dan Mainkan), dalam empat sesi selama satu jam, Selasa (11/11) malam, itu di Gedung Kesenian Jakarta sebenarnya sangat sederhana. Namun, karena kelompok ini personelnya (sebelum mereka berlima bergabung) berpengalaman dunia, jadilah sebuah pertunjukan yang memesona.
”Di tangan kelompok ini, tari flamenco menjadi hidup dan menggairahkan. Seni eksplorasi gerak dan ekspresi nan rancak. Kedua penari melakukan penjelajahan atas kaki dan tubuhnya mengeksplorasi hal-hal lama dengan gairah, dengan tetap berpijak pada idiom-idiom murni flamenco,” kata Cocia Aurenthica, penyuka tari flamenco.
Penilaian itu tak keliru. Kelompok tari Flamenco Compania La Fragua yang dibentuk tahun 2000 ini terdiri dari seniman-seniman andal. Jesus (penari pria), menamatkan studi tari klasik Spanyolnya di Conservatorio Superior de Danza di Alicante dan Madrid pada tahun 2005. Jesus adalah finalis Concurso Internacional Cante de las Minas, La Unión. Pada Agustus 2008, ia memperoleh Premio Nacional de La Perla de Cádiz por Alegrías.
Lola (penari wanita) memulai karier menari Spanyol di Escuela de Matilde Coral. Pada Juni 2006, ia memperoleh penghargaan pertama untuk tarian Tarantos pada Concurso Nacional ”La Perla de Cádiz”. Saat ini, ia mengajar tari spanyol di La Academia de Matilde Coral, Sevilla Dance Centre dan Estudio de Juan Polvillo.
Raul Fernandez Rodriguez adalah seorang ahli perkusionis yang dapat memainkan alat perkusi Latin, perkusi Arab, perkusi India, perkusi Afrika, dan perkusi Brasil. Ia pernah belajar musik perkusi kepada perkusionis ternama di 10 negara lebih.
Juan Luis Trinidad Angel ”El Trini” memulai karier menyanyinya pada umur 14 tahun. Kemudian ia bekerja sebagai penyanyi profesional di Spanyol, Jepang, Venezuela, Meksiko dan di beberapa negara Eropa. Pada tahun 2003 ia kembali ke Spanyol dan bekerja di Barcelona.
Jose adalah seorang gitaris yang memiliki pengalaman hampir di seluruh dunia. Melihat kualitas para pemain, sangat sayang jika melewatkan pertunjukan mereka. (YURNALDI)


La Frague memang Flamenca. Total dan utuh. Flamenco tradisional maupun Evolution. Kalo kata eksplorasi gerak mungkin tidak begitu pas untuk penari-penari dari La Frague. Gerakan yang dilakukan muncul bukan hanya dan tidak selalu dari sebuah koreografi, tapi dari interpretasi si penari. Interprasi berdasarkan essensi dari tarian itu sendiri – Taranto, Soleares, Alegrias, termasuk Romeras maupun Caracoles dll, masing-masing punya “story”, punya warna, jiwa. Ditambah lyric dari lagu (kalo ada penyanyi – dan biasanya memang ada, walopun tarian-tarian tsb dibawakan juga dengan instrumental murni). Ekspreksi yang muncul waktu kita menari sangat berbeda dengan ekspresi waktu menari ballet klasik ato jazz. Harus saya tambahkan bahwa jazz mungkin yang terdekat dengan flamenco dalam hal ini.. It is the expression of the soul – duende – yang muncul. Not studied movements – though in certain dances like La Faruca, the movements play a major role in the execution of what we express through a certain style. As a solo dancer you have the liberty of expressing yourself in your own way, and that varies from performance to performance. Very often, certain movements of the body, the arms, the head happen because of the inner build-up prior to force a certain rythme into the melody. It is like in any dance style – one dances or one executes the steps / the choreography. It makes me happy to see that Flamenco finds the hearts of the Indonesian public.
What I think was regrettable is that the management of GKJ had not provided a decent “floor” for flamenco dancing. 18 mili plywood does not do the job. Beside that, the amount of dust on that stage on that night was amazing. They could have cleaned the stage prior to the performance. I hope next time the GKJ will be on the same level as La Fargue.