Berita yang cukup memprihatinkan dan patut disesali..
ISI Denpasar, yang merupakan Institusi pusat akademik dari seluruh budaya seni di Bali sedang mengalami prahara yang disebabkan oleh hal-hal yang BUKAN bersumber dari Seni itu sendiri dan juga sebenarnya bukan berasal dari ‘falsafah’ yang dimiliki oleh orang Bali.. Mudah2an saja hal ini tidak menjadi Budaya tersendiri di kemudian hari..
Pada kondisi sosial, ekonomi dan politik yang serba rancu saat ini.. sebagai insan akademisi dan menjadi panutan bagi masyarakat umum, sudah saatnya insan ISI Denpasar menunjukkan otonomi dan independensinya terhadap segala maca intervensi kekuasaan politik dan mendasari ‘academic environment’nya kepada keluhuran akademik..
Mudah2an saja seluruh persoalan dapat diselesaikan dengan baik serta diikuti oleh ketulusan hati berdasarkan kepada ‘karma pahala’.. sehingga pengembangan dan pendidikan seni budaya Bali menjadi lebih maju lagi.. Semoga.
Berita di Kompas
Kisruh ISI Denpasar Sebabkan Mahasiswa Terganggu
Rabu, 10 September 2008 | 01:02 WIB
Denpasar, Kompas – Konflik internal di kalangan pimpinan Institut Seni Indonesia atau ISI Denpasar, Bali, yang berpuncak dengan digelarnya pemilihan ulang rektor pada akhir Agustus lalu, berlarut-larut. Kondisi ini mengakibatkan ratusan mahasiswa telantar karena sejak konflik mencuat, proses belajar- mengajar di kampus itu nyaris tidak diadakan.
Sejak awal Agustus, Kampus ISI Denpasar telah beberapa kali diwarnai aksi demonstrasi yang melibatkan mahasiswa dan staf pengajar kampus itu. Terakhir, aksi demonstrasi digelar Senin (8/9). Umumnya mereka menyatakan kecewa, mempertanyakan status kepemimpinan di kampus itu yang kini mengalami dualisme, sekaligus menggugat kondisi itu demi keberlangsungan proses pendidikan mereka.
Kisruh pemilihan Rektor ISI Denpasar dipicu surat keputusan Mendiknas tentang pemilihan ulang Rektor ISI Denpasar. Kepmendiknas nomor 308/RHS/ NPN/2008 tersebut dijadikan dasar untuk mengadakan pemilihan ulang Rektor ISI Denpasar periode 2008-2012. Padahal, pemilihan Rektor ISI Denpasar telah dilaksanakan 5 Maret 2008 dan berhasil mengantarkan I Nyoman Catra dengan perolehan 15 suara dari 23 anggota senat ISI, mengalahkan rektor I Wayan Rai S yang hanya mengumpulkan delapan suara dan kandidat lainnya, Dr Nyoman Artayasa yang tidak memperoleh suara.
Meski demikian, hingga kini Nyoman Catra belum menerima surat penetapan sebagai rektor ISI periode lima tahun ke depan. Sebaliknya justru Kepmendiknas menilai proses pemilihan rektor ISI tersebut cacat hukum. Maka, meski ditentang sebagian besar staf pengajar dan mahasiswa, pemilihan rektor pun tetap diulang dan mengantarkan Wayan Rai ke posisi rektor kembali.
Namun, sebagian besar pihak yang kecewa dengan pemilihan ulang rektor itu tetap menganggap pemilihan tanggal 5 Maret lalu sebagai pemilihan rektor yang sah. Para pengajar dan staf ISI Denpasar pun kini terbagi menjadi dua kubu, yakni pendukung Nyoman Catra dan pendukung Wayan Rai.
Salah satu pengajar ISI Denpasar, Wayan Dibia, mengakui, seluruh sivitas akademika kampus itu tidak dapat berkonsentrasi dengan baik untuk melakukan aktivitas belajar-mengajar. DPRD Bali yang diminta menjadi mediator kedua kubu pun dirasa belum dapat berbuat banyak. Dibia menegaskan, untuk mencari penyelesaian, akan ada perwakilan dosen dan mahasiswa yang menghadap Mendiknas Bambang Sudibyo. (BEN)

yang jelas kedua belah pihak sementara ini tidak bisa tidur dengan tenang