ilustrasi

Sabtu, 16 Mei 2009 | 11:58 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com — Sebanyak 47 mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar mengikuti ujian akhir dan wajib menampilkan salah satu karya terbaiknya di hadapan tim dosen penguji.

“Penampilan karya terbaik tersebut dalam bentuk pergelaran karya seni pertunjukan yang melibatkan sekitar 28 sanggar seni maupun sekolah kesenian dari berbagai pelosok pedesaan di Pulau Dewata,” kata Dekan FSP ISI Denpasar Ketut Sariada, SST didampingi Ketua Panitia Pelaksana Ujian Ni Ketut Suryatini SKar MSn, di Denpasar, Sabtu.

Sariada mengatakan, ujian tugas akhir mahasiswa lembaga pendidikan tinggi seni tersebut berlangsung di kampus setempat, selama empat hari, 18-21 Mei 2009. Pergelaran ciptaan mahasiswa tersebut diikuti 15 orang dari jurusan tari, 23 orang jurusan kerawitan, dan empat orang jurusan pedalangan.

Selain itu juga dari jurusan pengkajian lima orang yang terdiri atas jurusan tari empat orang dan jurusan kerawitan seorang. Suryatini yang juga Pembantu Dekan I FSP ISI Denpasar menambahkan, mahasiswa yang mengikuti ujian akhir lewat penampilan pementasan, selain didukung sekaa kesenian dan sanggar, juga dibantu rekannya sesama mahasiswa semester enam ke bawah.

Keberhasilan mahasiswa dalam menggarap sebuah karya cipta seni, berkat bekal ilmu yang diperolehnya selama empat tahun menggeluti pendidikan di ISI Denpasar. “Kemampuannya itu diaplikasi lewat bagaimana cara mengkoordasi, berorganisasi dalam menciptakan karya,” ujar Suryatini.

Tulisan ini termuat di Note saya di Facebook..

Dari namanya semestinya dapat disimpulkan bahwa gedung seperti ini dibangun tentunya dengan tujuan agar dapat menunjang perkembangan dan peningkatan kualitas kesenian di daerahnya. Jika dilihat dari sisi tujuannya tidak ada yang salah, bahkan dapat dikatakan tujuannya sungguh mulia sekali karena ini menyangkut ‘rasa’ yang dimiliki oleh masyarakat daerah itu disamping juga diperuntukkan sebagai wujud apresiasi dan kebanggaan dari sisi pengambil & penanggung jawab kebijakan, dalam hal ini PemDanya, kepada masyarakatnya. Jika tujuan tersebut dapat diwujudkan dengan BENAR maka masyarakat di daerah itu akan dapat meng’ekspresi’kan dirinya dalam bentuk kesenian yang khas yang nantinya menjadi ciri & ‘icon’ yang bersifat unik. Dimasa yang lalu, hal ini pernah terjadi pada saat Srimulat sedang berada pada masa jayanya.

Pada kenyataan yang ada sekarang, hampir semua Gedung Kesenian yang dimiliki oleh PemDa2 di seluruh Indonesia, tidak mampu untuk mewujudkan tujuannya itu. Pengecualian tentunya terjadi misalnya pada Gedung Kesenian Jakarta. Karena ketidak berhasilannya mencapai apa yang menjadi tujuannya, maka dapat dikatakan bahwa keberadaan Gedung Kesenian itu ‘hanya’ menjadi beban keuangan bagi PemDa-nya, yang ujung2nya juga menjadi beban bagi masyarakatnya. Hal ini tentunya akan menimbulkan tanda tanya, Kenapa hal itu terjadi?

Pada kesempatan ini, penulis tidak akan berusaha menjawab tanda tanya itu dari sisi keuangan, kebijakan, sosial, budaya bahkan dari sisi politiknya sekalipun. Penulis akan menekankan hanya dari salah satu aspek fungsional Gedung Kesenian itu sendiri, yaitu dari sisi akustik-nya. Sisi akustik ini merupakan salah satu aspek terpenting berupa media komunikasi anntara seniman & audience-nya, yang mesti menjadi ‘roh’ dari keberadaan bangunan ini. Tanpa adanya kondisi yang tepat bagi ‘roh’nya ini, bisa dipastikan bahwa fungsi gedung itu tidak akan tercapai. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kondisi akustik yang seharusnya dibuat/dirancang agar terjadi di dalam Gedung Kesenian ini?

Untuk menjawab pertanyaan ini, hal pertama yang mesti diperhatikan adalah kesenian atau seni pertunjukan apakah yang mau dipresentasikan dan dijadikan sebagai ‘icon’ dari daerah tersebut? Hal ini berhubungan dengan cukup lebarnya domain dari bidang seni pertunjukan itu sendiri. Yang paling berwenang untuk menjawab tentunya para budayawan, terutama sekali budayawan seni pertunjukan di daerah itu. Konsultasi dan usulan dari para budayawan daerah itu menjadi salah satu kunci utama kearah pencapaian tujuan dari keberadaan gedung itu. Disamping itu, diperlukan juga suatu telaah yg cukup mendalam atas potensi seni pertunjukan yg dimiliki oleh daerah itu, misalnya melalui suatu ‘feasibility study’ yg nantinya bermanfaat untuk menunjang ’sustainability’nya.

Setelah diketahui ‘ciri khas local genius di bidang seni pertunjukan di daerah itu’, selanjutnya perlu dicari karakteristik akustik dari seni musik yang menunjang seni pertunjukan itu sendiri. Berbagai jenis seni musik, apalagi yang berkarakteristik tradisional, dimiliki oleh bangsa ini, dan seni ini cenderung menghasilkan keunikannya masing-masing. Sebagai contoh, kota Bandung memiliki musik tradisional yang khas, misalnya musik angklung dan musik degung. Secara akustik karakteristik musik angklung tentunya berbeda dengan karakteristik musik degung. Konsekwensinya, gedung yang sesuai untuk musik angklung tentunya akan berbeda dengan musik degung. Dengan kenyataan seperti ini, apakah masing-masing seni musik itu mesti memiliki gedung keseniannya masing2..? Jika ditinjau dari sisi akustik, dengan tujuan untuk menonjolkan kualitas seni musiknya masing2, maka jawabannya adalah “ya”, masing2 seni musik ini HARUS memiliki gedung kesenian yang khusus diperuntukkan bagi pagelarannya.

Untuk mengurangi biaya yg dibutuhkan untuk membuat masing2 gedung kesenian tersebut, Apakah bisa dicarikan suatu kondisi akustik yg ’suitable’ untuk kedua jenis musik ini? Tentu saja bisa, selama kondisi tersebut masih cukup memadai untuk dapat menunjang ‘performansi’ keduanya. Namun sering terjadi, kompromi seperti ini tidak dapat dilakukan sebagai akibat dari terlalu besarnya perbedaan karakteristik akustik yang dibutuhkan tersebut.
Apakah bagian dari karakteristik akustik yang paling berpengaruh kepada sisi arsitektur ruangannya? Salah satu dari beberapa komponen akustik tersebut disebut dengan ‘waktu dengung’ ruangan. Besaran ini sangat tergantung kepada volume ruangan dan jumlah total luas permukaan2 ruangan dikalikan dengan koefisien penyerapan suara dari masing2 permukaan ruangan tersebut. Makin besar volume ruangan makin panjang waktu dengungnya, namun makin luas volume permukaan ruangan makin kecil waktu dengungnya.

Secara umum, disamping komponen ‘waktu dengung’ terrsebut, kondisi akustik yang baik sangat ditentukan oleh faktor spektral, temporal dan spatial dari medan suara yang didengarkan ‘audience’. Seluruh komponen itu (beserta turunan2 parameternya yang bersifat subjektif) mesti berada pada kondisi optimum atau pada suatu ‘range’, yang sangat tergantung kepada karakteristik dari musiknya sendiri. Permasalahan utamanya adalah ketiadaan dari data kondisi akustik optimum tersebut, yang akhirnya berdampak kepada “pen’dikte’an seni musik oleh perkembangan teknologi elektronik sistem tata suara”. Hal terakhir itu, secara tidak langsung mengakibatkan bergesernya ‘preferensi’ masyarakat atas kondisi akustik yang baik itu, dari kondisi ‘natural’ menjadi kondisi ‘artificial’. Pada kondisinya yang cukup ekstrim bahkan mengubah persepsi masyarakat dengan menjadikan ‘kondisi akustik yang dihasilkan oleh home-theatre system lebih baik dari theatre yang sebenarnya’.

Jadi, kondisi akustik yang baik itu, yang ‘natural’ atau ‘artificial’..?

Komentar & Response

Felix Susanto
Felix Susanto at 9:04pm April 12
Pandangan yang menarik Pa Komang.
Secara budaya yang berkembang musik-musik kita adalah penyatuan diri dengan Tuhan atau alam. Sehingga kondisinya secara budaya adalah natural.
Namun jika kita ingin mengkoordinir ruang akustik untuk pentas musik tradisional mungkinkah disediakan ruangan semi terbuka (seperti taman atau sejenisnya) yang memiliki tata akustik yang dapat mengayomi semua jenis alat musik?
Karena jika kita memfasilitasi dengan ruang berkesenian yang memiliki akustik yang baik, bisa-bisa kepuasan audience hanya terpenuhi dengan mendengarkan langsung dari ruang kesenian di daerah alat musik tersebut berasal. Dan itu akan sangat menyulitkan penyebaran budaya musik tradisi di Nusantara dan pertukaran budaya antar daerah di Nusantara. Karena kita dapat salah menilai mutu atau kuatitas musik tradisi yang tampil bukan di daerah asalnya.
Maaf jika sudut pandang saya ada yang keliru.
Komang Merthayasa
Komang Merthayasa at 9:14pm April 12
Terima kasih Pak Felix atas komentar & usulannya.
Secara teknis memang sangat memungkinkan Pak, meskipun dari sisi kualitas akustik yg diterima audience nya tidak mungkin untuk mencapai kondisi optimal. Disamping itu kondisi lingkungan yang bising jg cukup mengganggu ‘attention’ yg ada pada audience, disamping mengurangi tingkat ‘dinamis’ dari Read Moremusiknya.
Dari sisi akustik, landscape yg bagus dapat meningkatkan suasana ‘outdoor space’ itu Pak.. Prof. saya di Jepang bahkan pernah mengupas tentang ‘acoustics spaciality’ dari lingkungan hutan lho..
Felix Susanto
Felix Susanto at 9:55pm April 12
Pak Komang, manggil saya Felix saja, atau mas Felix. (terserah).
Saya sudah seperti cucu Bapa, jadi tidak pantas dipanggil Bp.
Maaf, saya sempat lupa dengan kendala di kota-kota besar di Indonesia.
Hasil pengamatan Prof. Bp menarik juga tentang ‘acoustics spaciality’ di lingkungan hutan, karena dengan bekal ilmunya kita dapat memahami kekayaan budaya Alat Musik Tradisional Nusantara. Sehingga dapat dipahami dan dapat dimasuki oleh disiplin ilmu lainnya. Sehingga alat musik kita dapat disalamatkan secara utuh.
David Klein
David Klein at 12:39am April 13
Istimewa Pak Komang. nanti saya konser 5.1 di RRI Bdg saja ya Pak, duet elektrik piano, RT60 harus di bawah 0,8s
Peter Yogan Gandakusuma
Peter Yogan Gandakusuma at 10:57am April 13
Kalau saya siih berpendapat tata akustik yg baik itu butuh hibridisasi keduanya. Sbb tujuan tata akustik itu utk mewadahi kegiatan audio – video yg beragam. Hanya kalau boleh mengurutkan prioritasnya : 1) Design ruang yg sesuai dgn hitung teknis fisika bangunannya dulu – jgn sekedar ada hall, bangku, dan panggung sdh disbt gdg seni pertunjukan. 2) Read MoreBila syarat akustik tercapai, kombinasi tata suara buatan guna mendukung optimalisasi audio – video bisa ditambah tetapi dgn ongkos investasi yg relatif lbh masuk akal, sbb tata akustik “natural” ruang sdh dikemas dlm tata kelola ilmu fisika akustik. 3) Kecuali peruntukan gdn tadi mmg sdh khas utk suatu seni perform tertentu – mis. angklung yg tadi – bisa saja mmg dikemas murni natural akustik guna meraih audio yg natural. Dlm hal ini pembuatan gdg. akan terjadi pengkatagorian & klasifikasi yg lbh rinci sesuai kebutuhan dan tujuannya.
Peter Yogan Gandakusuma
Peter Yogan Gandakusuma at 10:59am April 13
Anyway saya juga main guitar di band jadi kalau manggung yg ruang bnyk kaca, marmer, waah ampun suara mental-mentul, jadi gariing suara yg keluar nggak warm. Kalau sound engineer dan tata soundnya bagus siih lumayan bantu, tapi enggak, waah babak belur ! Maklum artis kampuung jadi jarang dapat tata sound bagus. He he he he he !
Komang Merthayasa
Komang Merthayasa at 11:15pm April 14
Great Pak Peter.. karena anda juga pemusik dan memiliki ‘kemampuan’ untuk mengungkapkan ‘the good or bad sound’, hal ini sendiri sudah merupakan kelebihan yang sangat baik Pak. Seringnya, seniman tahu mana yang ’sound’ yang baik atau jelek, tetapi tidak mampu untuk mengungkapkannya secara riil dengan ‘rangkaian kalimat verbal’ yang sederhana Read Moresekalipun. Opini tersebut sebenarnya sangat kami perlukan untuk dapat mengambil ‘langkah2′ untuk memperbaiki dan meningkatkan ‘performansi nya para seniman’ itu.. Salah satu upaya untuk ‘menjembatani’ hal ini adalah dengan memanfaatkan konsep ‘physio-acoustics’ yaitu dari response EEG para seniman atau empu musik tradisional Indonesia.. Riset tentang hal ini sedang kami kerjakan Pak Peter.. mudah2an dapat bermanfaat.. Mohon dukungannya ya Pak (honestly lho).. :-)
Peter Yogan Gandakusuma
Peter Yogan Gandakusuma at 10:34am April 15
Pasti Pak !
Komang Merthayasa
Komang Merthayasa at 9:41pm April 15
Terima kasih David Klein.. You always know what I mean.. :-)
Kalau konser jangan lupa undangan (freepass)nya ya.. ;-)
nanti juga anda saya undang lagi ke Kampus lho.. pasti :-)

Tulisan ini saya buat di Note nya Facebook… jadi ini adalah copy-paste nya.. :-)

Bagi beberapa orang pembaca, judul di atas mungkin dipersepsikan atau dirasakan aneh dan tidak ada relevansinya, kenapa? Subjek dari judul tersebut, meskipun tidak dituliskan, tentunya adalah orang, apakah itu penulis, pembaca atau siapa saja. Predikatnya menunjukkan aktifitas yang berhubungan dengan kemampuan salah satu indra manusia yaitu telinga, sementara objeknya (yang umum dipahami orang, apalagi oleh para arsitek) berhubungan dengan kemampuan indra penglihatan yaitu mata. Jadi namppaknya tidak ada keterkaitan antara predikat dengan objeknya, apakah memang demikian..?

Dalam keadaan sadar, maksudnya tidak dalam kondisi tidur apalagi pingsan, bagi yang memiliki indra pendengaran yang normal maka kita dapat mendengar suara2 yang sampai ke telinga kita. Disini, kita tidak mempermasalahkan dulu tentang kualitas suara2 tersebut dari sisi fisikanya, namun yang terpenting bahwa suara2 itu sampai ke telinga kita. Kemudian, kita perhatikan posisi dimana kita berada, apakah itu di dalam ruangan/bangunan atau di luar ruangan/bangunan, namun satu hal yang pasti,kita pasti berada pada suatu ruang yang riil. Selanjutnya coba kita perhatikan dengan baik salah satu suara yang kita dengarkan itu, lalu perhatikan dari mana sumber suara itu berasal. Sebagai contoh yang sederhana, coba kita (hanya) perhatikan suara yang berasal TV yang ada di kamar tengah (misalnya). Dari posisi tempat duduk kita, maka kita dapat mendengarkan TV itu secara langsung sesuai dengan arah pandangan mata kita ke TV itu. Apakah kita hanya mendengarkan suara langsung dari TV saja? Ternyata tidak, karena sesuai dengan sekuensial waktu yang pendek (dg ukuran mikro sampai mili detik) kita juga mendengarkan suara pantulan yang diakibatkan oleh bidang pembatas ruang, misalnya dinding,lantai, langit2 dan juga benda2 yg ada di ruangan tersebut. Disamping itu juga, telinga kita juga menerima pantulan berulang-ulang yang diakibatkan oleh permukaan ruang itu. Suara yang terakhir ini sering disebut dengan suara dengung. Nach, kombinasi dari suara pantulan dan juga suara dengung itulah yg merupakan ‘response suara’ dari ruang itu. Perlu diketahui bahwa response ruang ini tergantung kepada volume, luas ruang dan juga karakteristik akustik dari material2 permukaan ruang itu.

Secara umum, kombinasi suara2 itulah yang memberikan impresi terhadap arti dari suara yg akhirnya terdengar oleh telinga kita. Pertanyaan yang sering muncul adalah sejauh mana kita memiliki kemampuan untuk membedakan ‘response suara dari ruang’ itu. Untuk memahami hal ini, pada perangkat audio yang biasa dipakai untuk karaoke ada suatu fungsi yang sering disebut echo dan reverb. Dengan fasilitas ini kita semdiri dapat mencoba sejauhmana kita bisa membedakan nilai echo dan reverb itu. Disamping itu, dengan sarana inipun kita dapat mengetahui kondisi echo & reverb mana yang secara subjektif memenuhi selera subjektif kita sendiri. Bisa dipastikan bahwa hampir setiap orang akan memilih echo & reverb yang tidak berharga nol (atau tanpa echo & reverb). Hal ini menunjukkan bahwa untuk menghasilkan suara yang baik (secara umum dan bersifat subjektif) kita akan memerlukan echo & reverb itu, atau dengan kata lain kita ‘memerlukan ruang’. Dengan demikian, dapatlah dipahami bahwa kita tidak hanya dapat melihat ruang, tapi kita dapat mendengarkan ruang.

Bagaimana dengan ruang anda sekarang..? Apakah anda dapat mendengarkan ‘response suara’nya itu..? Mungkin…  kalau untuk ruang di rumah kita sendiri kita tidak terlalu memperhatikannya, tapi kalau kita perhatikan betul maka kita dapat membedakan suara di dalam ruang tidur, ruang tengah atau di kamar mandi (mungkin ini adalah ruang ‘favorit’ anda untuk bersenandung atau menyanyi). Bagi yang memiliki apa yg populer saat ini dengan sebutan ‘home theatre’ tentu dapat memahami arti dari ‘response suara’ dari ruang itu. Dan sering juga terjadi kalau pemilik ‘home theatre’ itu tidak puas dengan kondisi akustik ruang home theatrenya itu. Hal ini terjadi karena adanya ‘cacat’ akustik sebagai akibat tidak tepatnya ruang itu dibuat.
Selanjutnya, bagi ruang ditempat kerja dan juga ruang yang bersifat publik, hal yang sama juga terjadi, misalnya di sekolah, kampus, kantor, ruang rapat, auditorium, gedung olah raga, gedung kesenian dan sebagainya. Pada semua ruang itu juga terdapat ‘response suara’ dari ruang itu masing2, dan hal ini ’sering’ terabaikan ketika membuat ruang itu. Apakah perancang ruang itu tidak tahu akan hal itu, saya yakin jawabannya adalah tidak, karena perancang ruang atau arsitek pd umumnya mempelajari hal ini ketika kuliah dulunya. Mungkin persoalan utamanya adalah karena kurangnya perhatian kita kepada kondisi alami yang ada dilingkungan kita sendiri baik di dalam atau di luar ruang.

Yang akhirnya kita alami adalah pada kondisi tertentu secara langsung maupun tidak langsung kita dirugikan oleh ‘ke-kurang perhatian’ kita itu. Sebagai contoh, kita ’sering’ tidak sadar bahwa anak kita yg bersekolah di sekolah yang terletak dipinggir jalan yang ramai, tidak dapat menerima pelajaran yg diberikan secara utuh, dan hal ini ’sering juga’ kita anggap biasa. Banyak contoh lain yang bisa kita temukan di dalam keseharian kita berada di suatu ruang (terbuka atau tertutup dan juga di dalam atau di luar ruangan).

Silahkan anda ‘dengarkan’ sendiri ruang anda.. :-)

Komentar & Response

Saptono Istiawan
Saptono Istiawan at 1:37am April 16
Dengan pendengaran saja apakah kita bisa memastikan apakah ruang itu bundar atau persegi Prof? Maksud saya bila kita berada disatu ruangan pandangan kita dan pendengaran kita sama sama atau saling memperkuat rasa ruang?
Komang Merthayasa
Komang Merthayasa at 7:13am April 16
Pak Saptono, terima kasih atas response nya. Mohon maaf Pak, kualifikasi/jabatan saya bukan Prof., namun hanya pemerhati & praktisi saja.
Betul sekali Pak Saptono, pendengaran kita tidak memiliki kemampuan untuk mengenali bentuk ruang/benda yang biasa kita nyatakan dengan 3 dimensi. Hal ini diakibatkan oleh perbedaan faktor dimensi untuk Read Morepenglihatan (3 dimensi untuk ruang dan 1 dimensi utk waktu), sementara pada pendengaran dimensi untuk ruang hanya ada satu sementara 3 dimensi dinyatakan dengan waktu.
Pada kehidupan alami & nyata, kedua indra ini mesti sinkron dan selaras (tentunya pd orang normal), shg menafikkan salah satunya akan menimbulkan dampak ‘ketidak nyamanan’. Sebagai contoh, jika kita mendengarkan musik melalui headphone, maka ruang yg kita dengarkan terputus dengar ruang riilnya. yg terdengar oleh kita adalah ‘ruang virtual’ yg tertanam didalam rekaman musiknya (dan ini diciptakan oleh ’sound engineer’ ketika proses rekaman dilakukan).
Cristover Tobing
Cristover Tobing at 8:23am April 16
pak,.. kira-kira apa yang terjadi kalau kita berada dalam suatu ruangan yang hampa udara? apakah efek echo suara dari ruangan akan tetap sama seperti didalam ruangan biasa??
Komang Merthayasa
Komang Merthayasa at 10:08am April 16
Pak Crist, yg pertama terjadi adalah kita mati lho, soalnya tidak ada udara.. jd kita tidak bisa mendengar apa2.
Yg kedua, kalau tidak ada udara, kita tidak bisa mendengar apa2 Pak, karena medium penjalaran suara itu sebelum sampai ke telinga kita adalah udara.
Peter Yogan Gandakusuma
Peter Yogan Gandakusuma at 2:10pm April 16
Mantab.
Memang sbgi ilmu terapan, asitektur identik dgn ruang dan bentuk. Belum bnyk yg bicarakan kaidah waktu. Mungkin kaidah arsitektur Feng Shui sdh melakukannya. Sementara suara merambat melalui ruang dan mencapai telinga kita dlm hitungan waktu rambat. Dgn demikian argumen ttg ruang yg bisa didengar, masuk akal dan bisa diterima. Sementara seringkali arsitek selama masa belajarnya “sering kabur” krn kalau belajar soal ini selalu identik dgn matematika + fisika, hal yg sering dikhawatirkan oleh anak-anak, orang tua, termasuk arsitek ! He he he >_<

Ada nggak ya Pak, buku / cara praktis ttg menghitung hal ini di Gramedia ? Sbb majalah yg sering saya beli biasanya cuma bicara ttg terapannya saja, tapi jarang yg ada rumus praktis ttg hal ini, atau kalau ada koq ya rumit yaa ? Atau sy yg telmi ? Malah biasanya cuma ttg estetika ruang karaoke & home theater dgn pendekatan jual barang elektronik doang tuh.

Terima kasih bnyk wawasan akustik saya bnyk terbuka setelah baca bbrp Notes Bpk.

Cristover Tobing
Cristover Tobing at 2:19pm April 16
hm,.. berarti selain material dinding pembatas suatu ruangan, apakah kapasitas udara didalam suatu ruangan juga dapat menjadi salah satu faktor yang perlu di perhitungkan??
Komang Merthayasa
Komang Merthayasa at 2:34pm April 16
Betul sekali Pak Crist, misalnya di dalam suatu gedung konser (Concert Hall) yang baik, temperatur dan kelembaban udaranya mesti benar2 di’kontrol’ Pak, disamping utk memenuhi tuntutan kenyamanan audience, juga untuk menjaga kualitas akustik yang dihasilkannya. Oleh karena itu, instalasi AC dari suatu Concert Hall mesti benar2 diperhatikan, disamping jg perlu dijaga agar ‘noise’ yg dihasilkannya berada di bawah NC yg diharuskan.
Andora Suwisto
Andora Suwisto at 9:52pm April 16
nanya donk Pak, parameter terukurnya itu room transfer function bukan?apa ini saja sudah cukup untuk nantinya menentukan kualitas akustik suatu ruangan?Thanks and salam dari Oita^-^
Komang Merthayasa
Komang Merthayasa at 3:19am April 17
O-hayou gozaimasu, Andora-san, ii gakusai kara errai shitsumon ga moraimashita… :-)
Betul sekali Andora, memang yang dimaksud itu adalah ‘impulse response ruangan’ yang bisa dinyatakan & diukur dengan satu channel microphone. Namun, untuk menyatakan kualitas akustik ruangan kita membutuhkan secara total empat faktor utama berupa faktor temporal, Read Morespektral dan spatial. Komponen spatial yang diterima oleh pendengar mesti dinyatakan dengan response binaural memanfaatkan 2 channel microphone & dummy head. Disamping itu, karakteristik sinyal dari sumber suara juga menentukan dan hal ini yg menyebabkan perbedaan ‘preferensi’ terhadap ‘Sub-sequent reverberation time’ yang berbeda untuk keperluan ’speech’ dan ‘musik’. Semua aspek itu berada di luar ‘inner space’ dari penerimanya yaitu ‘human’..
Andora Suwisto
Andora Suwisto at 7:23am April 17
Kochira koso^-^.. Untuk faktor temporal dan spatial, rasanya bisa terwakili dengan impulse response dari sejumlah kombinasi sumber dan penerima. Untuk faktor spatial, karena manusia mendengar lewat 2 telinga (2 receiver), perbedaan waktu tempuh yang diperoleh keduanya inilah yang dipersepsikan sebagai faktor “ruang”…Moga2 gak terlalu salah jawabannya…Domo sensei, benkyou ni narimashita
Komang Merthayasa
Komang Merthayasa at 8:16am April 17
Betul sekali, Andora-san, disisi akustik dimensi spatial/ruang hanya dmemiliki satu dimensi saja, yaitu IACC itu. Coba dibaca bukunya Prof. Yoichi Ando, profesor saya ketika belajar di Jepang, saya yakin pemahaman anda akan bertambah.
Gammatte kudasai ne..
Dian Kusumaningtyas
Dian Kusumaningtyas at 2:17pm April 17
mendengarkan ruang…. adalah sesuatu yang sangat personal menurut saya. otomatis untuk yang ‘peka’ dapat mendengarkan ruang dengan baik. Buat saya ruang selalu bicara mengenai; penciptanya (arsiteknya); filosofinya; cahayanya, aromanya, suaranya dllnya lagi… di China sebuah perguruan shaolin akan mengajarkan kemampuan mendengarkan ruang dgn mataRead More tertutup; di India diajarkan dengan meditasi…. kegagalan atau hilangnya kemampuan dan kepekaan arsitek terhedap kemampuan mendengarkan ruang… bukan karena sekolahnya tapi karena degradasi kepekaan manusia terhadap lingkungan.
For me… i still work and develop all my senses…
Komang Merthayasa
Komang Merthayasa at 2:53pm April 17
Good points Bu Dian.. I can not argue with that.. Thank’s Bu..
Saptono Istiawan
Saptono Istiawan at 9:21am April 20
Pak Komang maaf atas kesalah panggilan saya. but for me you looked as one. and I think it’s jut a matter of time…..btw mengenai dimensi waktu pada pendengaran kita saya jadi berpikir apakah kita mendengar suatu sinyal secara langsung atau melalui suatu memory.
mohon kliik: http://arungmaya.blogspot.com/2009/04/nano-memory.html untuk kejelasan maksud saya
Komang Merthayasa
Komang Merthayasa at 5:24pm April 20
Pak Saptono, pd perkembangan terakhir dr ilmu akustika ruang, sudah dikembangkan suatu analisis yang merupakan kombinasi dari analisis spektral & temporal. Pengembangannya berbasis kepada konsep ’statistical analysis’, yaitu apa yang disebut dengan ‘auto-correlation function’. Dari fungsi ini akan dihasilkan suatu besaran tunggal yang merupakan Read Moreciri dari sinyal itu sendiri. Sebagai contoh, jika dilihat pada kurva ‘auditory respose’ maka suara pembicaraan manusia mmemiliki daerah frekwensi & dinamik level yang tertentu, lebih sempit dibandingkan dengan sinyal musik. Dengan memanfaatkan konsep ‘auto-correlation function’ tersebut, maka kita dapat membeda-bedakan sinyal akustik pada setiap ucapan dan lagu dengan satu besaran yg disebut dengan ‘effective duration of auto-correlation function’ yg biasanya disebut dengan TauEE, dan memiliki dimensi waktu (tidak nyata).
Besaran ini diyakini bersifat seperti ‘repetitive feature’ yg ada di dlm sinyal suara itu sendiri, dan dalam bentuk seperti ini tersimpan di dalam memory otak manusia.
Kombinasi antara adanya memory pd otak dan ‘trigger’ akibat TauEE ini, misalnya dapat menyebabkan manusia dapat mengenali ungkapan kalimat dari pembicara meskipun ungkapan belum selesai disampaikan. Hal yg sama tidak akan dapat dilakukan ketika kita mempelajari bhs yg baru. krn di memory kita belum tersimpan.. Demikian juga halnya ketika kita mendengarkan musik atau suara2 dr lingkungannya yg biasa didengarkannya..
Satu hal lagi, adanya ‘repetitive feature’ pd sinyal speech atau musik yang berbeda-beda ini menyebabkan terjadinya kebutuhan akan kondisi akustik ruang yang berbeda-beda.. Dan hal ini, tidak sepenuhnya dapat diatasi dengan memanfaatkan sistem tata suara. Oleeh karena itu, jika ada ‘vendor’ sound system yg menyatakan bahwa systemnya dapat mengatasi semua dampak akustik ruang, itu berarti vendor tsb ‘menipu’ anda agar membeli produknya.. ;-)
Ismail Al Anshori
Ismail Al Anshori at 11:35pm April 21
pak komang, mau nanya.. adakah hubungan antara IACC dgn permukaan yg diffuse? misalny, semakin diffuse permukaan ruangan maka IACC akan makin tinggi/rendah.. tararengkyu pak..
Komang Merthayasa
Komang Merthayasa at 8:04am April 22
Pertanyaan yg sangat baik Ismail.. Krn latar belakang anda FT & akustik, sy jelaskkan agak teknis sedikit ya..
Nilai IACC ditentukan oleh adanya impulse response di telinga kiri & kanan, akibat adanya ruang – termasuk semua karakteristik akustik dari seluruh permukaan ruang, dari satu sumber suara.
Dengan demikian, sekuensial waktu dari sinyal beserta nilai energinya merupakan komponen utama dari nilai IACC. Satu hal lagi, IACC harus dihitung dengan memanfaatkan karakteristik spektral telinga manusia, maka dipakailah ‘weighting network A’ – dBA. Dengan demikian dapat dipahami bahwa IACC sangat tergantung kepada kondisi akustik ruangan, independen terhadap karakteristik sinyal yg dihasilkan oleh sumber.
Permukaan difus (secara akustik) akan menentukan karakteristik energi sekuensial yg sampai ke kedua telinga. Penempatan & karakteristik permukaan difus (mis. Schroeder diffusor sampai BAD panel) sangat menentukan apakah IACCnya akan turun, tetap atau malahan naik. Perlu jg dipahami, diffusor memiliki karakteristik akustik yg cukup unik, meskipun typenya sama jika dipasang dg cara berbeda akan menghasilkan ’sound field’ yg berbeda. Karena itu, ’salah besar’ kalau mencoba memanfaatkan design instalasi difusor disatu ruang kemudian di’copy paste’ di site yg lain.
Satu ‘hint’ yang cukup aplikatif : Nilai IACC sangat dipengaruhi oleh kondisi akustik permukaan dinding pada ‘bidang dengar’- bidang horisontal antara telinga & sumber.Read More
Mdh2an bisa cukup menjawab ya.. Ismail.. ;-) Good luck with your journey.. :-)
Salam utk Pak Paul ya…;-)

susu0036
susu0039Gedung Sultan Suriansyah, Banjarmasin – memerlukan ‘treatment’ akustik yang cukup kompleks.

Pada umumnya, setiap provinsi bahkan kabupaten/kotamadya di Indonesia ini memiliki apa yang disebut sebagai Gedung Kesenian. Hal ini berkaitan dengan upaya dari masing-masing daerah untuk menggairahkan bidang keseniannya masing2 disamping juga sebagai pelengkap infrastruktur fisik daerah. Apapun tujuannya itu, dari definisinya tentunya sudah dapat diketahui bahwa sarana infra-struktur ini semestinya dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk menunjang perkembangan budaya daerahnya.

Meskipun dari sisi fungsionalnya sudah cukup banyak dan umum diketahui, namun pada kenyataannya pemilik bangunan, perencana, pemakai (dalam hal ini senimannya) dan juga masyarakat belum memahami dengan baik komponen2 fisik yang menunjang fungsionalitas gedung kesenian tersebut. Disamping sebagai bangunan yang dapat melindungi pemakainya dari panas teriknya matahari maupun guyuran hujan, faktor kenyamanan fisik juga sangat menentukan fungsi dari Gedung Kesenian itu. Faktor2 fisik itu antara lain kondisi pencahayaannya, kondisi temperatur & kelembaban udaranya, tata-letak, ventilasinya dan juga kondisi akustiknya.

Kondisi akustik dari bangunan Gedung Kesenian sebenarnya perlu mendapat perhatian yang serious, karena dari sisi fungsi, medium komunikasi yang ada antara ‘performer’ dan ‘audience’ hanya berbentuk visual dan audio. Mengingat variasi ‘performance’ yang biasa dilakukan di dalam gedung kesenian, maka pada umummnya kondisi akustiknya sesuai dengan kriteria ‘multi-purpose hall’. Dari sisi pemanfaatannya, set-up seperti ini akan memberikan fleksibilitas yang baik agar Gedung Kesenian itu dapat menghasilkan ‘income’. Set-up ini juga mengandalkan kepada ‘performance’ dari seluruh komponen sistem tata suara (yg umum mesti terpasang pada ‘multi-purpose hall’). Karena terlalu menekankan kepada pemanfaatan sistem tata suara, maka ‘kesan’ yang berhasil diberikan kepada ‘audience’ tidak maksimal. Hal ini disebabkan karena dalam kesehariannya ‘audience’ sudah terbiasa mendengarkan ‘performance’ dari sarana elektronik berupa sistem audio di rumah, TV atau ‘home theatre’ (misalnya).

Hal yang lebih menyedihkan juga sering terjadi, misalnya secara akustik gedung kesenian itu tidak dirancang secara benar & tepat seperti ‘multi-purpose hall’ sehingga memiliki banyak ‘cacat akustik’ atau juga set-up sistem tata suaranya (dari penempatan speaker, jenis speaker, kualitas komponen2nya sampai kepada set-up mixing) yang tidak baik. Hal ini tentunya akan memberikan dampak yang negatif kepada ‘audience’, bukan hanya kepada ‘performer’ yang tampil disana, tetapi juga kepada gedung keseniannya sendiri. Apalagi jika untuk menonton pertunjukan di Gedung kesenian itu, ‘audience’ mesti membayar mahal. Terabaikannya perhatian kepada masalah akustik dari suatu gedung kesenian, pada umumnya akan berakibat fatal yaitu tidak optimalnya pemanfaatan gedung itu sesuai dengan fungsinya. Tidak jarang akhirnya banyak gedung kesenian yang berubah fungsi menjadi gedung latihan olah raga (bulu tangkis, misalnya), sebagai akibat dari ketidak sempurnaan dari pemakaiannya utk pertunjukan seni.

Jika akibat tidak optimalnya pemanfaatan gedung kesenian itu disadari oleh pemilik gedung (dalam hal ini, mungkin PemDa-nya) biasanya dilakukan upaya me’renovasi’ fisiknya. Jika dilakukan renovasi berbasis kepada kondisi akustiknya, tidak jarang solusi yang timbul akan berdampak kepada ‘harga’nya yang mahal sehingga secara ‘politis’ mungkin sulit untuk diimplementasikan. Permasalahan perlu atau tidaknya dilakukan ‘renovasi’ kepada suatu gedung kesenian yang ‘tidak populer itu’ akhirnya akan menjadi semacam ‘buah simalakama’ bagi PemDa-nya.

Satu solusi yang dapat ditawarkan adalah dengan menempatkan semua aspek fisika yang berpengaruh pada posisi yang seimbang di saat gedung kesenian itu berada pada posisi perancangan. Hal ini akan dapat mencegah terjadinya ‘kesalahan design’ di masa mendatang. Sementara itu, untuk Gedung kesenian yang sudah ada dan utilisasinya belum optimal sesuai dengan fungsinya maka perlu dilakukan ‘renovasi’. Sama dengan kondisi tahap perancangan, untuk perencanaan ‘renovasi’ inipun, semua aspek fisika yang berpengaruh (akustik, lighting, ‘air quality’, ventilasi, arsitektur, interior sampai kepada masalah ’safety’) sangat perlu untuk dipertimbangkan.

Optimasi dari semua aspek perlu dipikirkan dan dibuat semacam ‘master plan’nya sehingga akibat adanya keterbatasan dana, pelaksanaan renovasi tidak bersifat ‘tambal sulam’. Dari sisi objektif design yang dapat diusulkan adalah menempatkan gedung kesenian sebagai ‘recital hall’ yaitu semacam ‘concert hall’ yang berukuran kecil (kapasitas penonton beberapa ratus orang) dengan karakteristik akustik yang spesifik, sehingga dapat menunjang perkembangan seni musik yang menjadi ciri khas daerah tersebut. Perlu ditekankan juga bahwa pemanfaatan sistem tata suara mesti diupayakan seminimal mungkin agar ‘performer’ dapat meningkatkan ’skill seni’nya secara optimal dan ‘audience’ memperoleh kondisi medan suara yang bersifat unik dan alamiah.

Bagaimana dengan Gedung Kesenian di kota anda..?

From : http://www.gamelan.org/library/writings/susiloessay.html

TOWARD AN APPRECIATION OF JAVANESE GAMELAN

by Hardja Susilo, Associate Professor in Ethnomusicology

University of Hawai’i at Manoa


Gamelan is an Indonesian indigenous “orchestra” largely composed of struck metalophones in the shape of gongs and slabs. Unlike the Western usage of the term orchestra, however, the word gamelan refers to the instruments that make up the ensemble. Although similar ensembles may be found in other parts of Southeast Asia, gamelan are primarily the musical culture of Java, Madura, Bali, and Lombok.Image of a Gender

Three types of metal (or metallic alloys) are commonly used to make gamelan. In order of preference, a gamelan set may be made of bronze, brass, or iron–bronze is the most preferred. In addition to the choice of material, an owner’s wealth and taste may be factors in determining the number of instruments, how big or small each is to be, the motif of the decorative carvings, and the painting of the instruments. Traditional constraints, however, prevent individual preference from becoming bizarre personal expressions.

Although different gamelan may vary slightly in their tunings, all gamelan must be in one of two basic intervallic structures–namely, the 5-tone slendro or the 7-tone pelog. Neither of these tunings is compatible with the Western music tuning system. For this reason, gamelan may sound “out-of-tune” to those with a deeply rooted sense of Western tuning, causing reactions ranging from a pleasant surprise to perhaps complete dislike.

In Central Java, regardless of the size, a gamelan set would include four groups of instruments: (1 ) those which carry the main melody (balungan); (2) the accentuating instruments; (3) the elaborating instruments; and (4) a set of drums, which functions as an audible conductor. The number of actual instruments in each group may vary from one gamelan set to another. Vocal parts may be either featured solos or included, like any instrument, merely to enrich the musical texture.

The Musical Process

Although most of the instruments have one function in the ensemble, a few may be required to perform more than one role in the structure of the music. Thus, for example, the primary function of a saron (a set of 6-7 metal slabs mounted over a trough resonator) is to carry the main melody, although on some occasions it might “elaborate” on the basic melody. The kendhang (laced drums) may function as a tempo and dynamic leader at one moment and as a dance accompaniment the next. The kenong Image of a Saron(horizontally mounted medium-size gongs) and kempul (vertically mounted medium-size gongs) may provide accentuation for one piece and act as movable drones for another.

Unlike Western composers, Javanese composers of traditional music do not have the freedom to vary their musical functions beyond this traditional range. On the other hand, unlike Western musicians, Javanese performers have the freedom to “develop” a theme, to edit a piece, to drastically vary the tempo and dynamics, to “improve” or improvise on the music as they play it.

A type of cipher notation has been developed for gamelan instruments, but traditionally musicians did not rely on it much. Rather, while playing soft sections, they listen to the melody leadership of the rebab (two-string spiked fiddle), and when playing loud sections, they rely on the bonang barung (a set of 10-14 small gongs horizontally mounted on a rack in two rows). Instruments such as clempung (zither), suling (flute), gambang (xylophone), and gender (thin metal keys mounted over tube resonators) perform what is generally referred to as “improvisation.”

Image of a Bonang

Just as traditional constraints limit the shape, size, and tuning of the gamelan, preventing it from becoming an individual expression, they also restrict musicians from improvising wildly and composers from expressing personal feelings at will (with the notable exception of several experimental compositions in the past few years). The same rules apply to other Javanese performing arts such as dance and theatre. Thus, performing artists do not express personal feelings, but, rather, perform their personal interpretations of the tradition.

Improvisation

Some remarks should be made regarding the term improvisation. In the West, the word improvisation is synonymous with ad lib, which implies a great deal moreImage of a Gambang freedom than is allowed Javanese musicians. In jazz, the improvising musicians are sometimes known “to fake,” a term that does not conjure up a particularly positive image.There are many Javanese terms that may be translated loosely as improvisation: kembangan (literally “flowering”), improvisation that adds beauty; isen-isen (”filling”), improvisation that pleasantly fills a vacuum; ngambang (”floating”), improvisation produced by musicians who do not have a clear knowledge of where the music is going; sambang-rapet (”making a tight connection”), covering up a fellow performer’s mistake in order to save him or her from embarrassment; and finally, ngawur (”blunder”), an out-of-style or irrelevant improvisation. In the performance of Javanese music, improvisatory parts should be of the kembangan, isen-isen, or sambang-rape type. Occasional ngambang is tolerated, but not ngawur.

Image of a KendhangKwabena Nketia, an African ethnomusicologist, once remarked that in traditional performing arts, the renewal of past artistic experience is expected. The role of an artist is to shed new light and to intensify the experiences that the audience wishes to renew. Insufficient innovation tends to bore the audience; too much innovation destroys the pleasant memory of the art work, possibly resulting in the audience’s displeasure with the interpretation. A “good” performing artist, then is one who knows the borderline between “too much” and “not enough,” a fine line that is often very personal indeed. Such is the case with Javanese music.

Performance PracticeImage of a Clempung

In an uyon-uyon, a musical presentation with individual or institutional sponsorship, program notes are not normally provided to the audience. Musicians do not come to an uyon-uyon with any specific musical program in mind. They may not even know who the other musicians will be. Nevertheless, the tradition provides a general schema for an uyon-uyon. If performing at night, it should begin after the ‘Isa Moslem night prayer, about 7:30. If it begins with the pelog tuning system, it should be in the lima mode; if in slendro, it should be nem mode. The pieces should be of the “calm genre,” reserving the fancy dance drumming and rowdy vocal parts for later in the evening.

At about 10:00 p.m. one may proceed to the next modes (nem in pelog or sanga in slendro). At this time, to liven up the party, the female vocalist or an invited female dancer may perform a dance that is subtly sensual. About 1:00 a.m., “anything goes” as long as it is in certain modes (slendro pathet manyura or pelog barang).

A daytime uyon-uyon may start about 9:00 a.m. and last until 2:00 or 3:00 in the afternoon, with a slightly different modal scheme. During the presentation, both the audience and the musicians are allowed to consume refreshments provided by the sponsor of the uyon-uyon.

Image of a RebabCross-cultural Aspects

Certain adjustments obviously have to be made when presenting an uyon-uyon in the United States. Here, concerts begin at a definite, not approximate hour. The length of the presentation should normally not exceed two hours. Westerners expect an intermission a little beyond the halfway point. In any case, the performance should not extend much past 10:00 p.m.. Program notes should be provided for the audience (and submitted two weeks in advance in order to make the printer’s deadlines!).

Items in the program should be lively, varied, and filled with contrast: what Javanese feel to be “calm,” another culture may perceive as “dull”; what is thought of as “congruous” and “even-tempered” may just sound “monotonous” to outsiders; “slow, gradual evolvement of musical ideas” may just be “dragging on and on”; and “solemn appearances” may be mistaken for “not enjoying what they are doing.”

One Javanese criterion of a good musical presentation is that it can place the audience into a state between awake and asleep, hardly a positive criterion for a Western performance. Therefore, certain adjustments must be made in presenting a “concert” of Javanese music outside its cultural context. The individual pieces in the program are not necessarily altered beyond what is traditionally allowable, but they might not be presented in the normal Javanese order or during the same evening.

The University of Hawaii Gamelan concerts differ from the Javanese uyon-uyon because the performers here are members of a Javanese music study group-amateurs in the best sense of the term. The participants are encouraged to use the Javanese process of learning as much as possible. They are also encouraged to learn and play more than oneImage of a Kenong instrument and to learn the relationships among them. Thus in our “concerts”, the musicians move from one position to another in order to put into practice what they have learned. In contrast to gamelan in American universities, Javanese ensembles do not just perform once each semester. Thus, although a Javanese musician would be able to handle at least five instruments, he does not change to other instruments within a performance unless it is absolutely necessary. There are always subsequent opportunities to play other instruments.

Because most of the instruments are percussion, one might wonder “just how hard could it possibly be to learn to hit a gong, for example”. To learn to hit a gong only takes about one minute! To learn to play the gong–if the student is sensitive and diligent–would require at least one semester. To be able to play the gong, one must know all the musical forms, to know (at least passively) the various drum signals directed to the gong, to know when to delay the stroke and when to be precisely on the beat, to know when to give an extra gong stroke or when to delete one, and–in the context of an all-night shadow puppet play–to be able to perform half asleep. In short, knowing how to properly play the gong requires internalization of basic Javanese musicianship. Of course, the other instruments require even more effort and patience to master.

Music is one of the manifestations of a culture, and learning Javanese music is one of the more pleasant ways of entering Javanese culture. ###

Image of a Gong

Artikel yang diangkat oleh koran Kompas  membuat saya berbangga bahwa sebenarnya banyak anak bangsa yang cukup kreatif, inovatif disamping juga mampu melihat potensi keunggulan dari ‘kearifan lokal’ yang dimiliki oleh bangsa ini..

Mari teman2.. kita kontribusi secara riil kepada Bangsa ini.. sekecil apapun itu..

Salam..

Joko Triyono, Guru Pencipta Virtual Gamelan
KOMPAS/MADINA NUSRAT
Sabtu, 21 Maret 2009 | 03:27 WIB

MADINA NUSRAT

Esensi nilai suatu permainan sejatinya tak perlu hilang, tetapi medianya bisa berubah. Prinsip itulah yang menjadi dasar pijakan bagi Joko Triyono dalam menciptakan program virtual gamelan di komputer yang menjadi media pembelajaran kesenian di SMA Negeri Prembun, Kebumen, Jawa Tengah. ”Medianya yang berubah, dari alat gamelan asli ke komputer,” ucapnya.

Virtual gamelan buatan Joko, guru kesenian di SMA Negeri Prembun itu, menarik. Permainan gamelan yang biasanya menggunakan alat musik gamelan yang berbentuk besar dan membutuhkan ruangan luas dia pindahkan ke program Flash Macromedia berukuran 3,5 megabyte.

Alat yang dibutuhkan cukup laptop atau komputer kerja dan tempat untuk memainkannya pun bisa menggunakan meja belajar.

Program virtual gamelan itu bisa dibawa ke mana saja dengan menyimpannya dalam kartu memori, seperti di USB flash disc yang besarnya cuma seruas jari. Orang tak perlu repot membawa seperangkat gamelan untuk memainkan karawitan.

Menurut Joko, program itu menolong siswa untuk mengembangkan minat dan kemampuan mereka membangun kerja sama. Terlebih, program virtual gamelan itu berbasis komputer yang digandrungi para remaja. Utamanya untuk permainan virtual, seperti game online yang sudah menjamur sampai ke desa.

Kegandrungan remaja pada permainan virtual telah mengubah perilaku mereka menjadi lebih individual. Kaum muda menjadi kurang diasah kemampuan bermain atau kerja sama dalam kelompok.

Namun, dengan virtual gamelan kaum muda tetap bisa mengikuti permainan berbasis komputer yang lebih mengandalkan keterampilan jari. Bersamaan dengan itu, mereka pun belajar bekerja sama dengan teman satu kelompok karena harmonisasi musik dalam karawitan hanya bisa tercipta lewat kerja sama kelompok.

Sejak 2006

Sebetulnya Joko sudah memperkenalkan virtual gamelan sejak tahun 2006. Ciptaannya itu berhasil menggondol medali perak dan perunggu untuk karya cipta guru yang diselenggarakan Departemen Pendidikan.

Namun, karena Joko tak memublikasikan ciptaannya secara luas, karyanya itu kurang dikenal. Sejak 2007 sampai kini ia bersama siswanya baru tiga kali tampil memainkan orkestra karawitan virtual gamelan. Itu pun hanya di Semarang.

Alasannya, pihak sekolah ingin agar program musik tradisional versi digital itu dapat digunakan semaksimal mungkin untuk pengembangan bakat siswa.Alasan lain, kata Joko, ia belum memperoleh perangkat lunak dengan harga terjangkau untuk melindungi ciptaannya dari pembajakan.

Pernah seorang kolega menawarkan perangkat lunak itu, tetapi harganya mencapai Rp 3 juta. ”Saya belum mampu kalau sampai Rp 3 juta. Nanti saja, menunggu kalau ada yang lebih murah,” katanya .

Ketertarikan Joko menciptakan virtual gamelan berawal dari rasa prihatin terhadap kendala klise pengadaan perangkat gamelan di sekolah yang selalu terbentur pada keterbatasan dana pendidikan.

”Padahal, kita tahu, gamelan merupakan bagian dari kurikulum. Namun, murid tak bisa memainkannya karena tak ada alatnya,” tuturnya.

Dalam tiga bulan

Joko dan istrinya, Sri Jatmawati, pada awal 2006 mencoba merekam semua alat musik karawitan dalam versi digital. Peralatan gamelan yang digunakan merekam dia pinjam dari sekolah dasar di dekat rumahnya di Desa Kabekelan, Kecamatan Prembun, Kebumen, Jateng.

Perekaman suara dilakukan satu per satu. Joko dan istrinya serius melakukan pekerjaan ”besar ” ini. Perekaman suara instrumen alat musik karawitan itu bisa selesai dalam tiga bulan.

Keterampilan Joko di bidang multimedia mendukung misinya merekam semua alat musik karawitan ke dalam versi digital hingga menghasilkan virtual gamelan dalam program Flash Macromedia.

”Saya memang suka utak-atik program komputer. Terlebih karena multimedia memberikan ruang cukup luas untuk kegiatan apa saja,” katanya .

Dalam penyusunan program tersebut, Joko melalui dua tahap. Program itu disusun atas beberapa materi, yakni perbandingan musik, partitur pelog dan slendro, permainan gamelan yang dinamai orkestra, serta kuis gamelan yang dinamai game. Ukuran program yang terbuat pun mencapai 8 megabyte.

Karya pertama dia itulah yang diajukan dalam lomba karya cipta guru Depdiknas pada pertengahan 2006 dan meraih medali perunggu.

Namun, karena mulai banyak kalangan yang tertarik dengan ciptaannya, Joko kemudian menyederhanakannya menjadi sebuah program musik tradisional karawitan dengan hanya memuat materi orkestra dan game. Program virtual gamelan buatannya itu hanya berukuran 3,5 megabyte atau sekitar separuh lebih kecil dari program buatan Joko yang pertama.

”Penyederhanaan ini juga saya lakukan supaya materi yang ditampilkan tidak terlalu rumit. Yang terpenting, anak-anak tetap bisa bermain gamelan dan mengenal gamelan lewat game,” ujarnya.

Kolintang dan angklung

Joko juga tengah ditugaskan Depdiknas untuk mempelajari dan mentransfer permainan musik tradisional kolintang dan angklung ke dalam programmultimedia. Sementara itu, hampir setiap minggu dia juga sibuk memberikan ceramah pada sejumlah seminar di Yogyakarta dan beberapa kabupaten di Jateng terkait pembelajaran lewat multimedia.

Selain mengembangkan permainan alat musik tradisional, ia juga aktif mengembangkan beberapa materi pembelajaran dalam program multimedia. Joko sudah menciptakan lima program pembelajaran multimedia untuk pelajaran Biologi, Sosiologi, Geografi, tata surya, dan proses letusan gunung berapi.

Semua program itu menampilkan visualisasi dari setiap materi pelajaran yang selama ini hanya bisa diperoleh lewat bacaan. ”Banyak hal abstrak dari setiap materi pelajaran yang perlu divisualisasikan sehingga siswa tak salah tafsir,” katanya.

Meski semua hasil karyanya sudah dipatenkan, lagi-lagi karena keterbatasan dana untuk membeli perangkat lunak guna melindungi ciptaannya dari pembajakan, Joko belum bersedia memublikasikan karyanya kepada masyarakat luas.

”Sementara ini biar program ciptaan saya itu dipakai untuk anak didik saya saja,” ucapnya .

Joko berharap kendala yang dihadapinya itu menjadi perhatian Pemprov Jateng. Ini agar pendidikan di Jateng tidak lagi mengalami kekurangan prasarana.

Tulisan di Harian Pikiran Rakyat

Sabtu, 04 Oktober 2008

Degung di Amerika

KETIKA saya mendapat undangan dari beberapa universitas di Amerika dan Kanada untuk mengajar gamelan (dari awal Maret hingga akhir Mei 2008), maka yang terpikir harus dipersiapkan adalah lagu atau gending dalam gamelan pelog atau salendro. Tetapi ketika kontak terus berlangsung, dalam rangka persiapan untuk kegiatan itu, mulailah terbuka, bahwa selain mempersiapkan lagu-lagu dalam gamelan pelog salendro, baik untuk lagu tradisi atau komposisi baru, mereka juga meminta untuk diajarkan lagu-lagu dalam gamelan degung. Sejenak agak kaget juga, karena setahu saya hanya di Universitas Santa Cruz California yang mempunyai gamelan degung. Lebih kaget lagi, selain mempersiapkan lagu- lagu degung klasik, mereka juga meminta diajarkan lagu-lagu degung perkembangan, bukan saja untuk perbendaharaan lagu bagi para mahasiswa, tetapi juga untuk dipertunjukkan.

Tentu bukan masalah untuk menyiapkan lagu degung, karena buku tentang lagu degung klasik, yang disusun oleh Juju Sa`in atau Encar Carmedi, sudah lama ada. Tetapi untuk mempersiapakan lagu-lagu degung perkembangan, saya sendiri cukup repot menulis notasinya, karena belum ada bukunya. Kalaupun satu dua saya pernah mencipta untuk lagu degung perkembangan, saya sendiri jarang menulis notasinya, atau lupa menyimpannya, terutama kreasi tabuh gendingnya.

Sesuai dengan jadwal, awal Maret 2008 saya datang ke Amerika. Pertama ke Bates College di Maine Portland. Di sana ada Gina Fatone yang mengajar gamelan. Saya kenal Gina waktu dia masih menjadi mahasiswa Santa Cruz California pada 1990. Dia pemain gamelan yang baik, dan pernah datang ke Bandung untuk mempelajari karawitan Sunda. Di sini saya mengajar dan mempersiapkan materi untuk pertunjukan, antara lain komposisi baru dalam gamelan salendro, iringan tari, dan degung. Selama dua minggu, mereka benar-benar berlatih dengan tekun, dan hasilnya pun mendapat sambutan yang baik dari penonton. Read the rest of this entry »

Berita di Suara Merdeka Cybernews

17/12/2008 23:25 wib – Daerah Aktual

UGM Rintis Pengembangan Local Genius

Yogyakarta, CyberNews. UGM tengah merintis pengembangan kearifan lokal (”local genius”) masyarakat Indonesia yang terancam punah dan tergerus dengan budaya dan teknologi asing. Padahal keragaman dan kearifan nenek moyang dalam hal teknologi terapan sudah terbukti dengan berdirinya bangunan mahakarya seperti Borobudur, Prambanan serta rumah adat dari seluruh nusantara.

”Kita khawatir kearifan lokal masyarakat akan punah, sehingga kita perlu identifikasikan kembali,” kata Ketua Panitia Seminar Nasional ”Peran Pendidikan Tinggi dan Pimpinan Daerah Dalam Mengembangkan Local Genius” Dr Supra Wimbarti MSc di Sekolah Pascasarjana UGM.

Supra menambahkan masyarakat Indonesia sangat kaya dengan ”local genius” seperti tata cara mulai bercocok tanam, kekuatan suatu kapal, pengobatan tradisional, perwatakan, nasib, siasat hidup atau menjaga harmoni dengan sekitar. Untuk itulah, acara seminar nasional itu nantinya akan berusaha untuk mengidentifikasi ”local genius” dari berbagai daerah dengan ranah ilmu pengetahuan yang melibatkan berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

”Berbagai perguruan tinggi ini bersama UGM ingin berusaha untuk bisa mengidentifikasi ”local genius” tersebut dari berbagai ranah ilmu pengetahun,” katanya.

Lebih lanjut dikatakan kearifan lokal daerah atau suku di Indonesia sudah lama berkembang dan sudah dipakai dalam kehidupan sehari-hari di daerah-daerah. ”Local genius” itu sangat bermanfaat meningkatkan keluhuran bangsa namun belum terwadahi dalam ilmu atau teknologi tertentu. Padahal, kearifan lokal tersebut lahir dan berkembang di masyarakat dalam kurun waktu yang sudah amat lama, dari puluhan, ratusan dan bahkan ribuan tahun dalam bentuk artefak yang masih ada.

Pemeliharaan kerifan lokal itu sangat bergantung dengan kebiasaan masyarakat yang kental bertutur. Praktek kebiasaan bertutur itu diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dengan bahasa tutur. Sehingga sebagian masih ada yang melestarikan kearifal lokal itu dalam bentuk artefak tertulis pada lontar dalam bentuk narasi dengan bahasa kuno, namun juga tidak sedikit yang meninggalkannya. ”Hanya 20 persen yang masih melestarikannya,” ujarnya.

Seminar yang melibatkan peserta dari kalangan ilmuwan dari beberapa perguruan tinggi dari Pekanbaru, Bandung, Malang, Jember, Yogyakarta hingga Kendari, menghadirkan pembicara palar antropolog UGM Prof Dr Irwan Abdullah, Bupati Bantul Idham Samawi, Prof Dr I Wayan Rai (ISI Denpasar), Dr Hermanu Triwidodo (IPB), Dr Jaka Sasmita (praktisi kesehatan) serta Dr Komang Merthayasa (ITB).

(Bambang Unjianto /CN08)

http://www.gadjahmada.edu/index.php?page=rilis&artikel=1683

Rilis

UGM RINTIS PENGEMBANGAN LOCAL GENIUS

Universitas Gadjah Mada tengah merintis pengembangan kearifan lokal (local genius) masyarakat Indonesia yang terancam punah dan tergerus dengan budaya dan teknologi asing. Padahal Keragaman dan kearifan nenek moyang dalam hal teknologi terapan sudah terbukti dengan berdirinya bangunan mahakarya seperti Borobudur, Prambanan serta rumah adat dari seluruh Nusantara.

“Kita khawatir kearifan lokal masyarakat akan punah, sehingga kita perlu identifikasikan kembali,” kata Ketua Panitia Seminar Nasional ‘Peran Pendidikan Tinggi dan Pimpinan Daerah dalam Mengembangkan Local Genius’, Dr. Supra Wimbarti M.Sc, di Sekolah Pascasarjana UGM, Senin (15/12).  Dr. Supra Wimbarti M.ScSupra menambahkan masyarakat Indonesia sangat kaya dengan local genius seperti tata cara mulai bercocok tanam, kekuatan suatu kapal, pengobatan tradisional, perwatakan, nasib, siasat hidup atau menjaga harmoni dengan sekitar. Untuk itulah lanjut Supra, acara seminar nasional ini nantinya akan berusaha untuk mengidentifikasi local genius dari berbagai daerah dengan ranah ilmu pengetahuan yang melibatkan berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

“Berbagai perguruan tinggi ini bersama UGM ingin berusaha untuk bisa mengidentifikasi local genius tersebut dari berbagai ranah ilmu pengetahun,” katanya.

Lebih lanjut Supra mengatakan Kearifan lokal (Local Genius) daerah atau suku di Indonesia sudah lama berkembang, dan sudah dipakai dalam kehidupan sehari-hari di daerah-daerah. Local Genius ini sangat bermanfaat meningkatkan keluhuran bangsa namun belum terwadahi dalam ilmu atau teknologi tertentu. Padahal, kearifan lokal ini lahir dan berkembang di masyarakat dalam kurun waktu yang sudah amat lama, dari puluhan, ratusan dan bahkan ribuan tahun dalam bentuk artefak yang masih ada.

Pemeliharaan kerifan lokal ini sangat bergantung dengan kebiasaan masyarakat yang kental bertutur. Praktek kebiasaan bertutur ini ujar Supra diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya denga bahasa tutur. Sehingga sebagian masih ada yang melestarikan kearifal lokal tersebut dalam bentuk artefak tertulis pada lontar dalam bentuk narasi dengan bahasa kuno. Namun juga tidak sedikit yang meninggalkannya.

“Hanya 20 persen yang masih melestarikannya,” katanya

Supra wimbarti menyebutkan beberapa kearifan lokal yang kini masih ada di indonesia seperti di daerah Sumatera Barat dengan praktek Rimbo Larangan, Banda larangan dan Mamutiah Durian adalah praktek untuk melestarikan hutan, pangan dan perikanan agar masyarakat setempat dapat hidup dengan nyaman. Ada pula Dalihan Na Tolu, merupakan kearifan Batak dalam tatanan kehidupan bermasyarakat.

Di Jawa, kearifan yang dimiliki masyarakatnya yang memiliki imajinasi tentang bentuk bintang seperti Waluku, Wuluh, Kalapa, Doyong, Sapi Gumarang, Gubug penceng yang banyak dikaitkan dengan aktivitas sehari-hari seperti penentuan waktu bercocok tanam, navigasi, kalender dan sebagainya.

Tidak hanya itu, tambah Supra, hasil-hasil peninggalan kearifan kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya, Majapahit, Bone, Mataram yang masih tetap dipraktekkan dan relevan untuk diteruskan, Namun karena pengawetan, pengarsipan dan penurunana kearifan ini dari satu generasi ke generasi yang lain masih lemah, sehingga menjadi tugas perguruan tinggi untuk merevitalisasikannya

“Karena itu, UGM mengajak ilmuwan dari kampus-kampus lain di Indonesia untuk bersama-sama mengidentifikasi, meneliti, menyebarkan kembali kepada masayarakat dan bersama dengan pemerintah daerah masing-masing melestarikannya,” ujarnya.

Seminar yang melibatkan peserta dari kalangan ilmuwan dari beberapa Perguruan Tinggi dari pekanbaru, Bandung, Malang, Jember, Yogyakarta hingga Kendari, menghadirkan pembicara P Antropolog UGM Prof Dr Irwan Abdullah, Bupati Bantul Idham Samawi, Prof Dr I Wayan Rai dari ISI Denpasar, Dr Hermanu Triwidodo dari IPB, Dr Jaka Sasmita praktisi kesehatan serta Ir Komang Merthayasa dari ITB.

UGM RINTIS PENGEMBANGAN LOCAL GENIUS

Antropolog UGM Prof Dr Irwan Abdullah UGM mengatakan, perlu dilakukan penggalian secara seksama sumber-sumber dan produk dalam negeri, baik berupa pengetahuan lokal maupun kearifan lokal dalam pengelolaan sumberdaya, ataupun produk lokal yang mampu mendukung kebutuhan masyarakat dalam rangka menciptakan kemandirian dan dan daya saing bangsa.

“Kearifan lokal perlu diberdayakan atau dikembangkan agar bangsa kita lebih mandiri dan mamapu keluar dari kemelut dan perangkap rejim kapitalisme yang ekpansif,” katanya.

Selain itu, tambah Irwan abdullah, kearifan lokal yang perlu dikaji oleh para ilmuwan diantaranya gaya kepemipinan lokal di berbagai daerah terutama di daerah bekas-bekas kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya, Majapahit, Bone, Mataram dan sebagainya untuk dikombinasikan guna menghasilkan gaya kepemimpinan nasional.(Humas UGM/Gusti Grehenson)

http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=8854&Itemid=821

UGM Rintis Pengembangan Local Genius



18-12-2008
Yogyakarta, CyberNews. UGM tengah merintis pengembangan kearifan lokal (”local genius”) masyarakat Indonesia yang terancam punah dan tergerus dengan budaya dan teknologi asing. Padahal keragaman dan kearifan nenek moyang dalam hal teknologi terapan sudah terbukti dengan berdirinya bangunan mahakarya seperti Borobudur, Prambanan serta rumah adat dari seluruh nusantara.

”Kita khawatir kearifan lokal masyarakat akan punah, sehingga kita perlu identifikasikan kembali,” kata Ketua Panitia Seminar Nasional ”Peran Pendidikan Tinggi dan Pimpinan Daerah Dalam Mengembangkan Local Genius” Dr Supra Wimbarti MSc di Sekolah Pascasarjana UGM.

Supra menambahkan masyarakat Indonesia sangat kaya dengan ”local genius” seperti tata cara mulai bercocok tanam, kekuatan suatu kapal, pengobatan tradisional, perwatakan, nasib, siasat hidup atau menjaga harmoni dengan sekitar. Untuk itulah, acara seminar nasional itu nantinya akan berusaha untuk mengidentifikasi ”local genius” dari berbagai daerah dengan ranah ilmu pengetahuan yang melibatkan berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

”Berbagai perguruan tinggi ini bersama UGM ingin berusaha untuk bisa mengidentifikasi ”local genius” tersebut dari berbagai ranah ilmu pengetahun,” katanya.

Lebih lanjut dikatakan kearifan lokal daerah atau suku di Indonesia sudah lama berkembang dan sudah dipakai dalam kehidupan sehari-hari di daerah-daerah. ”Local genius” itu sangat bermanfaat meningkatkan keluhuran bangsa namun belum terwadahi dalam ilmu atau teknologi tertentu. Padahal, kearifan lokal tersebut lahir dan berkembang di masyarakat dalam kurun waktu yang sudah amat lama, dari puluhan, ratusan dan bahkan ribuan tahun dalam bentuk artefak yang masih ada.

Pemeliharaan kerifan lokal itu sangat bergantung dengan kebiasaan masyarakat yang kental bertutur. Praktek kebiasaan bertutur itu diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dengan bahasa tutur. Sehingga sebagian masih ada yang melestarikan kearifal lokal itu dalam bentuk artefak tertulis pada lontar dalam bentuk narasi dengan bahasa kuno, namun juga tidak sedikit yang meninggalkannya. ”Hanya 20 persen yang masih melestarikannya,” ujarnya.

Seminar yang melibatkan peserta dari kalangan ilmuwan dari beberapa perguruan tinggi dari Pekanbaru, Bandung, Malang, Jember, Yogyakarta hingga Kendari, menghadirkan pembicara palar antropolog UGM Prof Dr Irwan Abdullah, Bupati Bantul Idham Samawi, Prof Dr I Wayan Rai (ISI Denpasar), Dr Hermanu Triwidodo (IPB), Dr Jaka Sasmita (praktisi kesehatan) serta Ir Komang Merthayasa (ITB). (Bambang Unjianto /CN08)

Pendahuluan

Kekayaan budaya yang bermacam ragam yang di miliki Indonesia, diantaranya dengan adanya bahasa daerah yang berbeda-beda, salah satunya juga dicirikan dengan adanya berbagai jenis seni musik tradisional yang memiliki keunikan tersendiri. Meskipun memiliki karakteristik tradisional, namun di dalam perkembangannya beberapa jenis musik ini sudah cukup dikenal di mancanegara, bahkan saat inipun sudah ada group-group musik tradisional yang berasal dari luar negeri. Misalnya musik gamelan Bali, musik Gamelan Jawa, Gamelan degung/sunda, angklung, wayang kulit, gondang Batak, kolintang dan sebagainya. Disamping itu, berbagai jenis musik tradisional inipun sudah cukup sering dipagelarkan di berbagai gedung konser (concert hall) yang cukup terkenal di mancanegara. Namun sampai saat ini, tidak ada satupun dari musik tradisional Indonesia yang memiliki kualitas seni musik adi luhung ini yang memiliki ‘rumah’ berupa gedung konser di daerahnya masing-masing.
Bagi penonton/pendengar, hal terpenting yang diinginkannya adalah kondisi medan akustik yang optimal dari hasil dari pagelaran musik tradisional ini. Untuk mencapai kondisi yang optimal dari medan suara inilah peranan ilmu & teknologi akustik semestinya perlu dilibatkan. Secara umum dapat dijelaskan bahwa medan suara yang diterima oleh penonton dipengaruhi oleh faktor spektral, temporal dan spatial dari medan suara. Untuk memperoleh besaran parameter akustik medan suara dari musik tradisional ini, dapat dilakukan dengan melakukan serangkaian penelitian psycho & physio-akustik. Hasil response subjektif dan objektif tersebut dapat digunakan untuk menentukan kondisi medan suara optimum yang diharapkan oleh umumnya penonton di dalam suatu gedung konser. Dengan mengubah besaran parameter ini menjadi besaran dimensi arsitektur, maka gedung konser yang ‘dedicated’ untuk jenis musik tradisional tertentu dapat dilakukan. Hal ini berarti perancangan arsitektur gedung konser tersebut semestinya dapat dilakukan dengan memanfaatkan besaran parameter akustik optimum dari medan suara, yang diperoleh dari penelitian tersebut. Tanpa memanfaatkan parameter akustik optimum ini, maka pagelaran musik tradisional tersebut tidak akan dapat memberikan persepsi yang maksimal tentang kualitas seni musik tradisional ini.
Disamping faktor ruang gedung konser itu sendiri, karakteristik akustik dari sumber suara, yaitu alat musiknya sendiri, juga memiliki peran yang sangat penting, disamping musik hasil gubahan senimannya. Sampai saat ini dapat dikatakan bahwa belum ada standar karakteristik akustik dari masing2 alat musik tradisional Indonesia ini. Dengan tiadanya standar akustik ini (sesuai dengan faktor spektral, temporal dan spatialnya) menyebabkan terjadinya kesulitan untuk menentukan kwalitas akustik musik tradisional hasil gubahan seniman itu. Hal ini juga menyebabkan terjadinya kesulitan untuk menentukan besaran optimum parameter medan suara itu sendiri, mengingat karakteristik sinyal akustik dari musik itu sendiri sangat menentukan besaran parameter akustik optimum tersebut.
Sampai saat ini, pada umumnya karakteristik akustik dari alat musik tradisional ini dan juga proses pembuatan alat musik itu sendiri sangat tergantung kepada kemampuan pendengaran, pengetahuan dan pengalaman para pembuatnya (empu). Pengetahuan, pemahaman dan penilaian subjektif tersebut, diturunkan secara tradisional dari generasi pendahulunya, tanpa disertai dokumentasi teknis yang memadai dan bersifat objektif (terutama kalau ditinjau dari sisi teknis & karakteristik fisikanya). Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian dan pengkajian yang bersifat integral dan sinergis, tentang karakteristik akustik alat musik itu sendiri beserta proses pembuatannya, struktur material, karakteristik material dan juga struktur pendukungnya. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat dihasilkan suatu standar dan paten yang semestinya dimiliki oleh masyarakat sendiri (dalam hal ini ‘mungkin’ dapat dikuasai atau dimiliki oleh negara c.q. Pemerintah/pemerintah daerah).
Di sisi pelaksanaan pagelarannya sendiri, set-up panggung dan penempatan posisi alat musik itu sendiri belum dirancang dengan memanfaatkan karakteristik parameter akustik dan juga performansi visual yang optimum. Tentunya dengan merancang set-up dan penempatan yang tepat dapat meningkatkan ‘preferensi’ medan suara yang diterima oleh penonton. Dalam hal inipun, ‘preferensi’ yang dituntut penonton/ pendengar dapat diperoleh dengan melakukan penelitian yang berdasarkan kepada methoda psiko & physio-akustik.

Objektif

Sebagai langkah awal dari program ini, perlu dilakukan identifikasi yang lengkap tentang jenis musik tradisional dari masing-masing daerah. Identifikasi ini dilakukan bukan hanya kepada jenis musik tradisional yang sudah cukup mapan dipentas nasional maupun internasional. Peralatan musik tradisional pada umumnya dibuat dengan berpedoman kepada ‘local genius’ yang umumnya dikaitkan dengan adat istiadat dan falsafah kehidupan di daerah itu sendiri. Penelusuran sejarah keberadaan alat musiknya perlu dilakukan sejalan dengan penggalian keterkaitannya dengan aspek kehidupan dan sejarah dari masyarakatnya.
Selanjutnya dilakukan pengkajian aspek fisika dari masing-masing alat musik tradisional ini, dikaitkan dengan aspek pembuatannya. Untuk peralatan musik yang terbuat dari metal, seperti gong, bonang dan sebagainya, proses metalurgi pembuatan alat tersebut perlu dielaborasi secara mendalam. Sementara untuk peralatan musik yang terbuat dari bahan non-metal, pengkajian dari sisi struktur dan juga susunan elemen-elemen mekanis yang mendasarinya perlu ditelaah secara mendalam terutama jika dikaitkan dengan karakteristik akustik yang dihasilkannya. Selanjutnya, proses penalaan yang melibatkan kepakaran dari ‘empu’ pembuatnya juga perlu dikaji dengan memanfaatkan konsep pengujian akustik dari sisi spektral, temporal dan spatialnya. Disamping itu kajian tentang konsep ‘judgement’ yang dilakukan oleh sang ‘empu’ juga perlu dilakukan, mengingat aspek subjektif yang mendasarinya disamping akibat kelangkaan literatur pendukungnya. Dengan kelengkapan kajian/penelitian tersebut maka penyusunan konsep standarisasi alat musik tradisional ini dapat dilakukan, disamping itu, perlu juga dituangkan ke dalam dokumen ‘paten milik masyarakat’ untuk alat musik tradisional tersebut.
Mengingat adanya kenyataan bahwa kondisi medan akustik yang baik bagi ‘presentasi’ jenis musik tertentu sangat ditentukan oleh karateristik sinyal dari gubahan musik itu sendiri, maka penelitian atas karakteristik akustik secara lengkap dari gubahan musik hasil dari kreativitas senimannya perlu dilakukan. Sebagai gambaran, meskipun alat-alat musik yang digunakan sama, namun kreativitas dari seniman dapat menghasilkan gubahan musik yang berbeda-beda, misalnya jika dilihat dari sisi temponya. Hal ini perlu dipahami mengingat jika musik itu dimainkan di dalam ruang tertutup misalnya auditorium, ‘resital hall’, ataupun ‘concert hall’, maka karakteristik sinyal dari gubahan musik tersebut sangat menentukan kondisi akustik optimal yang dapat didengarkan oleh penontonnya.
Objektif selanjutnya adalah mengidentifikasi kondisi akustik optimum sesuai dengan ’preferensi’ dari pendengarnya. Sebelumnya perlu untuk dijelaskan bahwa kondisi medan akustik yang dialami oleh pendengar terdiri dari penggabungan empat parameter utama, yaitu :
1.  Tingkat pendengaran (Listening Level), biasanya besaran ini dinyatakan dengan besaran dBA.
2.  Waktu tunda pantulan awal (Initial Delay Time), yaitu waktu tunda yang terjadi antara suara langsung dari sumber ke pendengar dan suara pantulan,
3.  Waktu dengung subsequent (Sub-sequent Reverberation Time), yaitu waktu dengung yang berhubungan satu-satu dengan posisi sumber suara dan penerima dan
4.  Korelasi silang sinyal antar kedua telinga (Inter-Aural Cross Correlation, IACC), yaitu besaran yang menyatakan adanya perbedaan sinyal suara yang diterima di telinga kiri dan kanan pendengar.

Tiga parameter utama dari 1 sampai 3 di atas adalah parameter yang bersifat temporal dan besaran ini dapat diukur dengan menggunakan satu channel pengukuran saja, misalnya menggunakan sound level meter atau frequency analyzer 1 channel. Disamping itu, ketiga parameter tersebut memiliki karakteristik yang juga sangat tergantung kepada frekwensi. Sementara parameter utama yang keempat adalah besaran yang bersifat spatial dan hanya dapat diukur dengan menggunakan instrumen dual channel dengan memanfaatkan dummy head. Hal ini disebabkan karena manusia memiliki dua buah telinga yang posisinya sedemikian rupa sehingga dapat mendeteksi adanya ruang dan juga dapat melokalisasikan posisi dari sumber suara. Adanya ke‐empat parameter utama akustik ini, bukan hanya berlaku bagi medan suara di dalam ruangan (indoor) tetapi juga berlaku untuk sistem tata suara di luar ruangan (outdoor). Dengan penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa disisi sistem pendengaran manusia memiliki 4 dimensi yang sama dengan sistem visual, namun sistem pendengaran memiliki 3 dimensi waktu dan satu dimensi ruang. Sementara pada sistem visual manusia memiliki 3 dimensi yang menyatakan karakteristik ruang dan satu dimensi tentang waktu.
Berkaitan dengan penjelasan ringkas diatas, maka objektif selanjutnya dari program ini adalah menentukan besaran optimum dari masing‐masing empat parameter akustik medan suara tersebut. Penentuan parameter optimum ini akan melibatkan proses penelitian yang menerapkan methoda psiko dan phisio‐akustik, dimana response subjektif dan objektif dari para subjek pendengar yang diberi presentasi variasi parameter medan suara mesti dianalisis dengan teliti. Disamping melibatkan subjek, penelitian ini juga memerlukan bantuan simulasi medan suara di dalam laboratorium yang melibatkan sarana peralatan yang memiliki ketelitian tinggi.
Objektif utama dari program ini adalah dihasilkannya rancangan Gedung Konser, atau paling tidak berupa gedung rehearsal yang mungkin berbentuk Gedung Kesenian yang secara akustik memadai untuk pagelaran seni musik tradisional tersebut. Hal ini akan dibahas pada paragraph tersendiri.

Aktivitas

Untuk melaksanakan program ‘research road‐map’ ini, dengan memanfaatkan hasil dari penelitian awal yang sudah berhasil diselesaikan dan juga yang sedang dilaksanakan, maka perlu dilakukan sosialisasi dan meningkatkan ‘linkage’ ke seluruh ‘stake holder’ dari seni musik Tradisional Indonesia ini. Dengan memanfaatkan berbagai media, dari media cetak/koran sampai ke internet, dan juga melalui presentasi di seminar‐seminar, kongres maupun saresehan, maka pemahaman atas diperlukannya ‘perhatian – attention’
yang memadai bagi peningkatan kualitas musik tradisional ini dapat  dilakukan. Hal ini perlu dilakukan mengingat banyaknya ‘salah kaprah’ yang terjadi di dalam pelaksanaan seni pertunjukan musik tradisional ini. ‘Salah kaprah’ yang terjadi disebabkan karena adanya pemahaman yang keliru atas
pemanfaatan teknologi sistem tata suara dan juga belum membudayanya ‘konsentrasi perhatian’ ketika mendengarkan pertunjukan seni musik tradisional. Disamping itu, kondisi pelaksanaan pertunjukan seni musik tradisional inipun tidak terlepas dari adanya berbagai macam gangguan yang menyebabkan ‘konsentrasi perhatian dan mendengarkan’ musik tradisional ini tidak dapat tercapai secara optimal.
Langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi sumber daya manusia yang memiliki pemahaman yang memadai di bidangnya masing‐masing, yang dapat diajak bekerjasama di dalam upaya peningkatan kualitas musik tradisional ini. Berbagai kepakaran diperlukan dan dapat berkontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga budaya kualitas seni musik tradisional ini dapat berkembang dengan pesat. ‘Best practices’ dari bangsa Jepang yang secara konsisten dan berkelanjutan dapat meningkatkan kualitas seni musik tradisionalnya, dapat dijadikan sebagai sarana ‘benchmarking’ untuk menuntun pelaksanaan program ini. Keterlibatan berbagai jenis teknologi mutakhir dari teknologi yang paling dasar sampai kepada teknologi ‘signal processing’ dan simulasi komputer mutakhir, perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan ketelitian, efisiensi dan efektivitas dari aktivitas‐aktivitas pelaksanaan program ini. Disamping itu, pelaksanaan kegiatan juga perlu didasari dengan paradigma transparansi, terlacak dan teraudit, agar dapat menghilangkan berbagai macam kendala yang bersifat subjektif dan sektoral.
Aktivitas selanjutnya adalah melakukan identifikasi kebutuhan dan manfaat dari masing‐masing daerah atas potensinya untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas keunikan dan kekhasan dari budaya daerahnya masing‐masing jika dikaitkan dengan seni musik tradisionalnya. Hal ini perlu dilakukan mengingat dengan diimplementasikannya otonomi daerah maka potensi keuangan dan penerapan skala prioritas dari masing‐masing daerah tentunya akan berbeda‐beda. Dari sisi potensi seni musik tradisionalnya, maka secara makro mungkin dapat dikatakan bahwa daerah Jakarta, Bali, DIY, Jawa Tengah (Solo), Jawa Barat dan Sumatera Barat memiliki potensi pengembangan dan peningkatan kualitas musik tradisionalnya yang sangat tinggi. Hal ini ditunjukkan dari adanya tuntutan dan perkembangan aktivitas dari para seniman dan budayawan pendukung seni musik itu sendiri,  disamping karena tuntutan identitas daerahnya sendiri. Meskipun diperlukan ‘feasibility study’ yang lebih mendalam dan juga teliti dari semua aspek, kebutuhan akan sarana Gedung Konser di daerah‐daerah tersebut dapat dikatakan sangat ‘urgen’ dan selanjutnya dapat dijadikan sebagai salah satu acuan akan keberhasilan dari program peningkatan kualitas musik tradisional ini. Bagi daerah lainnya, tuntutannya mungkin tidak perlu sampai merancang Gedung Konser namun melakukan renovasi dan revitalisasi terhadap Gedung Kesenian yang dimilikinya sehingga secara akustik cukup memadai bagi pagelaran seni musik tradisional daerahnya. Sebagai contoh, saat ini proses perancangan renovasi Gedung Sultan Suriansyah di Banjarmasin sedang dilakukan, yang ditujukan untuk meningkatkan ‘perhatian’ masyarakatnya terhadap budaya seni pertunjukan di daerah tersebut. Sampai saat ini, banyak gedung kesenian diberbagai daerah yang dibangun tanpa disertai konsep perancangan akustika arsitektur yang memadai, sehingga hampir semua pertunjukan seni musik dan tari di Gedung Kesenian tersebut tidak mampu meningkatkan ‘perhatian’ dan ‘ketertarikan’ masyarakat untuk memberikan apresiasinya.
Kemudian perlu dilakukan ‘survey’ lapangan berkaitan dengan pengujian/penelitian fisika dari seluruh komponen penunjang seni musik Tradisional ini, meliputi sarana peralatannya, lingkungan ‘venue’

tempat latihan dan juga presentasinya (misalnya keberadaan Gedung Kesenian, pendopo, bale banjar, atau ampitheatre misalnya), termasuk juga pengujian baik psiko‐akustik maupun physio‐akustik yang melibatkan para subjek di lingkungan masyarakatnya. Pengujian in‐situ bagi presentasi alami dari musik tradisional ini secara umum dapat dianggap lebih murah dari sisi finansial dibandingkan dengan mendatangkan para seniman tersebut ke pusat penelitian. Pada sisi aktivitas ini, keterlibatan perguruan tinggi yang berada di daerah tersebut sangat diperlukan, demikian juga dari jajaran pemerintah daerahnya. Keterlibatan perguruan tinggi dan jajaran pemerintah daerah juga diperlukan untuk melaksanakan ‘feasibility study’ dari berbagai aspek tentang potensi pengembangan dan peningkatan kualitas seni ini serta prospek pembangunan sarana (bangunan dan sarana pendukungnya) dan prasarana (kebijakan dan rencana pengembangan jangka panjangnya). Sementara itu di perguruan tinggi perlu dikembangkan dan juga difasilitasi secara serious dan konsisten pembentukan unit kesenian daerah yang merupakan sarana berkreasi dan berinovasi bagi para mahasiswa/i, sebagai salah satu bentuk pengembangan identitas institusi dan juga daerahnya. Untuk dapat meningkatkan ‘prideness’ dan ‘confidency’ para mahasiswa yang terlibat di bidang seni musik tradisional ini, maka bagi institusi terkait di tingkat pusat perlu untuk menyelenggarakan festival musik tradisional bagi unit kesenian dari berbagai perguruan tinggi. Dengan adanya berbagai penghargaan riil dari pemerintah, baik itu pemerintah pusat maupun daerah, maka lambat laun tingkat ‘prideness’ dan ‘confidency’ dari masyarakat umum akan lebih meningkat lagi, sehingga ‘perhatian’ mereka atas warisan adi luhung nenek moyang mereka akan lebih meningkat lagi.
Setelah dilakukannya ‘survey in situ’, maka seluruh data kemudian diolah dan juga disimulasikan di dalam laboratorium, sebagai upaya untuk  meningkatkan keobjektifan ‘finding’ dari masing‐masing jenis musik tersebut. Di Laboratorium juga perlu dilakukan pengujian dan evaluasi baik psiko‐ maupun phisio akustik melalui simulasi medan suara yang juga melibatkan subjek. Hasil analisa seluruh data kemudian dimanfaatkan untuk menentukan kondisi medan suara optimum yang memiliki ‘preferensi’ tertinggi dari
masing‐masing parameter akustik medan suara itu sendiri.

Selanjutnya, sebagai puncak aktivitas program ini adalah dirancangnya suatu Concert Hall yang ‘dedicated’ untuk musik tradisional Indonesia, dengan cara menterjemahkan besaran dari masing‐masing parameter akustik yang diperoleh dari penelitian ke dalam parameter yang umum digunakan pada bidang arsitektur. Jika dapat diimplementasikan secara nyata, maka secara meyakinkan akan dihasilkan suatu sarana pertunjukkan musik tradisional yang bersifat unik dan khas sehingga setiap pengunjung/penonton akan dapat merasakan dan juga menyimpulkan bahwa mereka tidak akan dapat  mendengarkan musik tradisional dengan kualitas yang lebih tinggi dari yang mereka dengarkan di dalam gedung itu.
Mengingat keunikan, kekhasan dan juga tuntutan kualitas dari sarana Gedung Konser ini, disamping juga karena karakteristiknya yang berupa landmark, monumental, culture based, advanced technology, prideness, confidence dan juga civilized, disamping karena usianya yang umumnya lama dan juga biayanya yang mahal, maka sangat perlu dikembangkan suatu konsep  manajemen ‘sustainability’ yang cukup rinci dan teliti, sehingga utilisasi sarana ini dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan dari prideness, confidence dan dignity bangsa seutuhnya.

Penutup

Pada tulisan ini secara ringkas sudah diungkapkan tentang upaya untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas ‘local genius’ berupa hasil budaya seni musik tradisional bangsa Indonesia dari sisi keilmuan akustik‐nya. Berbagai hasil penelitian yang telah dicapai sampai saat ini secara meyakinkan dan objektif dapat menunjang program ‘research road‐map’ yang diusulkan ini. Kontribusi positif dan juga dukungan dari berbagai pihak termasuk dari seluruh ‘stake holder’ seni musik tradisional ini, sangat dibutuhkan untuk dapat mencapai berbagai objektif dari program ini. Masukan, saran dan juga kritik dengan rendah hati sangat diperlukan guna menyempurnakan dan meningkatkan kualitas capaian dari program ini. Atas perhatian dan kerjasamanya, penulis ucapkan terima kasih.

Srawung Seni Candi

Seni Tradisi Selalu Mampu Memperbarui

KOMPAS/HERU SRI KUMORO / Kompas Images
Penari membawakan tari Maju Pat pada Srawung Seni Candi di Candi Sukuh, Desa Mberjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Minggu (11/1). Sejumlah atraksi kesenian, seperti tari, reog, dan wayang, ikut tampil pada acara yang menjadi bagian dari Grebeg Lawu ini. Kegiatan ini juga sebagai tindak lanjut deklarasi atas Gunung Lawu sebagai kawasan taman budaya.

Senin, 12 Januari 2009 | 00:46 WIB

Karanganyar, Kompas – Kesenian tradisi yang hidup di Nusantara umumnya merupakan ekspresi religius masyarakat yang diwujudkan dalam berbagai bentuk seni, seperti arsitektur, seni rupa, tari, dan musik. Kesenian ini terbukti masih bertahan sampai hari ini karena tradisi itu selalu diperbarui oleh masyarakatnya.

Hal itu disampaikan Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Sulistyo Tirtokusumo dan budayawan Radhar Pancadahana secara terpisah di tengah-tengah kegiatan ”Srawung Seni Candi” di Candi Sukuh, punggung Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Minggu (11/1).

”Umumnya tradisi di Nusantara lahir dari ketakjuban manusia terhadap kekuatan adikodrati yang melahirkan sikap manembah atau religius. Sikap manembah ini diekspresikan dalam pelbagai bentuk, seperti sistem kepercayaan, ritus, seni arsitektur, seni rupa semisal pembuatan keris, joget (tari), dan sebagainya,” ujar Sulistyo.

Radhar menegaskan, berbagai seni tradisi, seperti yang tampil dalam acara ”Srawung Seni Candi”, membuktikan bahwa tradisi tetap hidup dan menjadi ekspresi kontemporer bagi masyarakatnya. Read the rest of this entry »

LinkReferral

A blog about Architectural Acoustics & Noise Control in Indonesia. It is also intended to enhanced & enriched the Indonesian traditional Musics.

Arsip

Add to Technorati Favorites

Tecnorati Tags

Share this

Bookmark and Share

FreeTool

Submit your website to 20 Search Engines - FREE with ineedhits!

Authority-Tags

Dari Ineedhits

Optimize for higher ranking FREE – DIY Meta Tags! Brought to you by ineedhits!

Tampilan lain

Komang Merthayasa tentang Akustika Arsitektur & Concert Hall INDONESIA Do not trust your ear, trust your knowledge